BERPIKIR ANALOGIS: MUDAHKAN ANAK MEMAHAMI HAL YANG ABSTRAK

ORANGTUA IDAMAN. Dalam berbagai pokok bahasan pembelajaran jika disampaikan secara langsung, anak akan menemui kesulitan dalam memahaminya. Dibutuhkan cara penyampaian secara analogis. Berpikir analogis dapat membantu anak memahami hal-hal yang memiliki kecenderungan abstrak. Berbagai hal yang tidak bisa diamati secara langsung dengan mata kepala telanjang. Misalnya, atom, energi, gen, dan lain sebagainya. Yuk, mari kita latih anak berpikir analogis.

Analogi menurut kamus besar bahasa indonesia didefinisikan sebagai persesuaian antara dua benda atau dua hal yang berlainan. Definisi lain yaitu sesuatu yang sama dalam bentuk, atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya. Sehingga tidak ada hubungan kekerabatan. Bisa dimaknai pula sebagai kesamaan ciri antara dua benda atau hal yang dapay dipakai untik dasar perbandingan.

Menganalogikan dapat diartikan, membuat sesuatu yang baru berdasarkan contoh yang sudah ada, mereka-reka bentuk hal baru dengan mencontoh bentuk yang telah ada.

Dalam bernagai hal, materi pembelajaran lebih efektif jika disampaikan dalam bentuk analogi. Tujuannya, supaya anak atau peserta didik menjadi mudah memahami. Penganalogian sebaiknya diilhami atau diambil dari sesuatu yang diakrabi oleh anak. Misalnya mainan, tokoh kartun, dan lain sebagainya.

Masih bingung, mama cerdas? Yuk mari disimak kasus berikut. Suatu hari, Bening (nama seorang anak) membaca sebuah buku. Saat itu, tema yang dibaca berjudul golongan darah. Dalam bab tersebut dibahas perihal golongan darah dan proses pewarisannya. Anak berusia 5 tahun itu lantas menanyakan proses pewarisan golonhan darah kepada Bapaknya.

Proses pembelajaran akhirnya menggiring Bening ke dalam tema yang lebih abstrak dan sulit dipahami oleh anak seusianya. Yaitu tentang materi genetik yang meliputi gen, lebih spesifik lagi DNA. Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan oleh anak yang masih duduk di bangku TK itu.

Apa pun pertanyaan yang dilontar seyogyanya orangtua memberikan jawaban jujur, tanpa mengerdilkan anak.

Gen, dan DNA sangat abstrak. Dibutuhkan alat bantu yang dapat menganalogikan gen dan DNA agar anak mudah memahaminya. Dalam kasus tersebut, permainan cetakan dan playing dooh dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang tepat. Cetakan adalah gen, yang terdiri dari dua bilah sisi cetakan yang dianalogikan sebagai rantai double helix DNA. Nah, malam atau lilin dianalogikan sebagai materi genetik yang dicetak dan diwariskan kepada keturunan.

Melalui permainan seperti itu, anak menjadi lebih mudah memahami hal yang abstrak. Selain itu, proses pembelajaran pum menjadi lebih menyenangkan. Tak disadari kita sebagai orangtua telah mengajak anak terjun ke dalam lautan ilmu pengetahuan yang luas tanpa batas. Tak lagi menyekat motivasi belajar anak dengan jawaban yang mengerdilkan.

Dasar yang kuat telah Anda bangun, sebagai lamdasan proses pembelajaran selanjutnya.

Yuk, Beri Kesempatan Belajar yang Luas, Jangan Kerdilkan Anak

error: Content is protected !!