PESONA KRAKATAU: HIDUP SELARAS DAN DINAMIS

ORANGTUAIDAMAN.COM Letusan yang kerap terjadi, merombak habitat yang sudah ada. Kemudian menyajikan kehidupan baru dan pemandangan yang dramatis.

Di tempat itu, keragaman hayati terlihat jelas. Dari padang pasir tandus, pesisir pantai hingga lebatnya kanopi hutan. Perubahan vegetasi terlihat jelas di bagian paling atas. Hamparan padang pasir didominasi material vulkanik bisa Anda temukan di tempat itu. Koloni gelagah baru nampak pada ketinggian sekitar 25 m diatas permukaan laut. Mereka tumbuh dalam rumpun yang terpecah-pecah di banyak tempat. Berlanjut ke bagian lebih bawah, zona gelagah berbatasan dengan hutan cemara yang tumbuh lebat. 

Semakin ke bawah, jenis tanaman semakin beragam. Ukurannya kian besar. Cemara, baringtonia, pace, dan ketapang banyak ditemukan di sana. Aneka paku-pakuan dan hoya terlihat menggelantung, tumbuh menempel di pepohonan. Sementara di tepi pantai, didominasi ipomea.  Tumbuhan berbunga ungu lembut ini sejenak menjinakkan tampang garang Anak Krakatau. 

Habitat yang lebih stabil bisa ditemukan di Pulau Panjang, Sertung dan Rakata, di sekeliling Anak Krakatau. Aneka fauna mendiami pulau-pulau itu. Diantaranya biawak, burung, dan kalong. Pohon pepaya dan cabai menjadi saksi jejak manusia.

Aktivitas Anak Krakatau bisa disaksikan secara langsung dari atas kapal dari jarak tak lebih dari 500 m. Batuk-batuk Anak Krakatau bisa disaksikan dari Pulau Panjang dan Rakata. Di tempat itu, mata akan terpana menyaksikan muntahan lahar, lontaran batu seukuran kerbau dari perut gunung. Suara dentuman keras memecah suara ombak, menjadi ritual rutin gunung muda itu.

Jejak Amuk Krakatau

Awalnya Krakatau terdiri dari tiga buah gunung berapi besar. Nama ketiga gunung itu adalah Rakata, Danan dan Perbuatan.  Mereka berdiam diri di Selat Sunda. Dikelilingi 2 pulau kecil,  Panjang dan Sertung.  Pada 27 Agustus 1883, ketiga gunung berapi itu mengamuk hebat.  Akibatnya Gunung Danan dan G. Perbuatan, lenyap. Bencana itu menyisakan separuh Gunung Rakata. Sisa lain adalah Pulau Panjang dan Sertung yang telah steril secara sempurna. Hampir seluruh kehidupan di atasnya binasa akibat disapu amuk vulkanik. 

Pulau Panjang, Rakata dan Sertung punya ekosistem telah stabil. Flora dan faunanya lebih beragam daripada yang di Anak Krakatau. Berdasarkan keterangan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung, kepulauan Krakatau dihuni sekitar 206 jenis fungi, 13 jenis lichenes, 61 jenis paku-pakuan,  dan sekitar 257 jenis  Spermatophyta.

Sedangkan aneka fauna penghuni kepulauan tersebut diantaranya mamalia sejenis tikus, megaderma alias kalong, 40 jenis kelompok aves berukuran kecil dan besar. Diantaranya adalah Centropus bengalensis, Cipromolgus offinis, Falco severus, Lalage nigra, Tecrycotera relitea, Plegadis sp, dan Nectarina sp. Kelompok reptil selain biawak, penyu juga terdapat ular. 

Pada 1927, lahirlah Anak Krakatau. Gunung muda itu aktif dan terus mengeluarkan material vulkanik. Timbunan dan endapan lahar membuatnya semakin gempal dan bongsor. Gunung muda itu sekarang berketinggian 213 m dpl. Menurut Bambang, pemandu Suaka Margasatwa Krakatau, Anak Krakatau bertambah tinggi sekitar 4 cm setiap tahun.

Invasi Flora Pionir

Bagian puncak anak krakatau masih berupa dataran kosong. Hamparan pasir vulkanik menjadi pemandangan yang dominan di tempat itu. Tumbuhan pionir bisa ditemukan sekitar 25 m dari puncak. Antara lain, gelagah (Saccharum spontaneum) dan alang-alang. Flora ini punya daya tahan kuat hidup di tempat kering.

Ada banyak cara yang bisa ditempuh gelagah agar bisa hijrah ke kaki Anak Krakatau.  Melalui angin atau air. Dalam jarak dekat, benih gelagah memanfaatkan jasa tiupan angin untuk menemukan tempat hidup barunya. Peranti terbangnya berupa bulu halus. Daya jelajahnya makin jauh karena terbawa ombak. Garam laut membuat bayi tanaman itu tertidur alias dorman. Hanyut terbawa arus air laut, hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari tempat asalnya. 

Di tempat baru, gelagah berjemur sejenak, mengeringkan peranti terbangnya. Tiupan angin laut segera menerbangkan benih itu menjauh dari pantai. Di tempat pendaratannya, ia sejenak bersemayam. Menunggu tetesan embun atau guyuran air hujan. Untuk melunturkan garam. Bila kondisi lingkungan cocok, benih gelagah bertunas. Tumbuh dan memulai kehidupan baru di tempat kosong.

Ia tidak sendiri bertahan hidup di tempat sulit seperti itu. Gelagah dan alang-alang bekerjasama dengan sejenis alga atau sebangsa lumut Azospirillium lippoferum. Ganggang mungil ini tumbuh menempel di permukaan akar alang-alang. Membuat organ licin itu terlihat berambut. Hasilnya, air dan nutrisi yang diserap gelagah menjadi lebih banyak. Sebagai upah, gelagah mengijinkan ganggang menembus jaringan pengangkut untuk menyerap zat makanan itu sepuasnya. Kerjasama antara gelagah dan alga itu mengakibatkan pelapukan batuan dan pasir di sekitar perakaran. Kondisi ini memungkinkan jenis tumbuhan lain hidup di dekat mereka. Salah satu adalah Melastoma affine.

Proses pelapukan tanah berlanjut dan bahan organik menumpuk, membuat tempat itu kian subur. Aneka flora lain segera menyusul sang pinonir. Ikut menikmati tanah di kaki Anak Krakatau yang kaya nutrisi. Pada suatu saat mereka akan tumbuh dan berbuah. Menyediakan santapan bagi aneka fauna herbivora. Pada akhirnya kehadiran fauna pemangsa melengkapi mata rantai ekosistem Krakatau yang semakin stabil.

Sungguh dramatis dan dinamis.

Rute Menuju Krakatau

Bisa lewat Canti, Kalianda, Lampung Selatan. Dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak. Kemudian Anda harus menyeberang ke Pulau Sumatera naik ferry. Perjalanan selama 2,5 jam pelayaran. Dari Pelabuhan Bakauheni menuju ke Kalianda, bisa naik bis atau menyewa mobil di terminal. Sekitar 1 jam kemudian, Anda sampai di Kalianda. Turun di Simpang Fajar.

Dari Simpang Fajar, Anda bisa menggunakan ojek menuju Canti, pelabuhan nelayan dekat Krakatau. Lalu Anda bisa menyewa kapal untuk mencapai Sebesi, dalam waktu kurang lebih 3,5 jam. Dari Sebesi, terus ke Pulau Sertung, Panjang dan Anak Krakatau. Butuh waktu sekitar setengah jam.

Alamat Penting

Sebelum berkunjung, Anda wajib melaporkan dan mengurus perizinan ke kantor BKSDA Lampung. Jl. H. Zainal Abidin Pagar Alam, Rajabasa, Lampung, Telepon: 0721-781247.

error: Content is protected !!