AGUNG SRI HENDARSA, S.T.M. Eng: MENGUBAH KEKURANGAN JADI KEKUATAN

ORANGTUAIDAMAN.COM Kemauan dan kerja keras mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan hidup. Itulah karakter Agung Srihendarsa. Meski terlahir  dengan kekurangan pada indera penglihatan,  ia berhasil membuktikan  sebagai  pengusaha water treatment & desain  industri  yang sukses. Bahkan memiliki kantor di New York.

Perusahannya  dikenal dengan nama PT. Aozora Agung Perkasa,  bergerak di bidang jasa pemurnian air  dan desain industri.  Kata aozora  diambil dari bahasa Jepang yang berarti langit biru.  Sementara Agung  diambil dari namanya sendiri  dan Perkasa adalah nama belakang partner usahanya.  Banyak kalangan  mempercayakan  pengolahan limbah dan pemurnian air kepada  Aozora.  Di antara  PT. Astra, Dahana, Total, PT. Tri Dharma Wisesa, dan Pertamina. 

Berkat proyek-proyek besar itu, usaha Agung semakin berkembang.  Saat ini ia dibantu oleh karyawan sebanyak 13 orang.  Untuk menangani proyek besar, ia bekerjasama dengan perusahaan lain untuk membuat  alat sesuai rancangannya.  Agung  juga punya rekanan  perusahaan asing Water Pure, di Amerika, yang menggunakan  beberapa desain peranti pengolahan air  buatannya.  Tak heran bila Agung juga memiliki kantor di New York. 

“Dengan kondisi seperti ini  saja saya bisa, maka dalam keadaan yang lebih lengkap Anda seharusnya bisa berbuat lebih dari saya,” begitulah tuturnya  dalam sebuah work shop yang diselenggarakan Komunitas Tangan Di Atas, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kesuksesan itu proses

Bagi  pria kelahiran Temanggung  8 November 1977 ini,  kesuksesan merupakan sebuah proses, bukan tujuan akhir.  “Saya tidak merasakan lebih sukses dari orang lain.  Namun  bisa bersyukur atas apa yang saya capai saat ini,”kata Agung.  Pencapaiannya selama ini ia pandang sebagai amanah dari Tuhan.  Ia ingin berkontribusi lebih banyak bagi orang lain.  “Kalau  saya bekerja sebagai karyawan, hasilnya hanya bisa dinikmati oleh keluarga saja.  Dengan membangun sebuah usaha seperti ini, harapan saya yang bisa menikmati orang lain.  Terutama karyawan,” imbuh pria dengan omzet tahunan 10 milyar rupiah itu.

Aozora  dirintis bersama 3 orang kawannya.  Yaitu Henri Prakoso dan Narso.  Mereka adalah karibnya  di komunitas Tangan Di Atas.  Agung mengawali usahanya dari sebuah pertemuan TDA I makers, yang berupa  work shop dan training, tahun 2008, di Jakarta.   Dalam pelatihan tersebut Agung mendapatkan sebuah pandangan baru mengenai perjuangan dari seorang karyawan biasa , merubah total menjadi berkontribusi bagi orang lain.

Keinginan menjadi wirausaha sudah lama dimiliki.  Ketika bersekolah di Jepang,  ia sudah memulai usaha kecil-kecilan. Misalnya,  menjual batik,  menjual nasi goreng, plus kegiatan  menari. “Lumayan itu, kalau dirupiahkan, sekali tampil bisa dapat Rp 1 juta. “Kebetulan nasi goreng saya disukai teman-teman di Jepang,”paparnya

Setelah menyelesaikan gelar master of chemical engineering, dari  Universitas Nayoga  (Maret 2005), ia pulang   ke Indonesia dan bergabung dengan perusahaan Jepang yang bergerak di bidang water treatment. Dari perusahaan Jepang tersebut Agung belajar berbagai hal di bidang pengolahan air, baik  tehnik, pemasaran, dan  sistem bisnis di bidang water purification

“ Air di muka bumi ini sangat banyak, namun tidak semua orang dapat menikmatinya.  Maka saya ingin memanfaatkan permasalahan tersebut agar saya bisa berkontribusi lebih baik untuk sesama manusia yang membutuhkan air.” Hanya 1,5 tahun bekerja di tempat itu, Agung  lalu mengundurkan diri untuk bergabung  pada perusahaan dalam negeri yang  bergerak di bidang sejenis.  Seiring berjalannnya waktu, Agung merasa tidak sesuai dengan misi dan visi perusahaan tersebut, yang  terlalu berorientasi pada uang.  “Bisnis itu bukan sekedar uang.  Namun bisnis itu sebuah kepercayaan.  Lebih jauh lagi  adalah kemaslahatan dan berbagi ilmu,”tegas pria berperawakan kecil ini 

5 Prinsip Bisnis Bijak

 Bagi Agung, bisnis tak bisa dilepaskan dari kehidupan religius. Itulah sebabnya,  ia selalu memandang berbagai aspek bisnis dengan kacamata yang berbeda dengan orang lain.

       *). Bisnis itu ibadah  dan sarana berbagi dengan orang lain.

Sejak dulu saya bercita-cita memiliki sebuah kantor yang dilengkapi mushola. Di tempat tersebut kami bisa melakukan sharing rutin dengan anak buah.

 *). Anak buah atau karyawan adalah adik sekaligus kawan.

Sebagai kawan, saya menanamkan rasa agar mereka merasa akrab dengan saya.  Sebagai adik,  mereka harus  saya bimbing. Sekalipun kelak mereka sudah tidak berada di sini, hubungan silaturahim sebagai saudara tetap terjalin.

        *).  Kompetitor  adalah teman.

Karena sudah dianggap sebagai teman, konsekuensinya, kita tak boleh menjelek-jelekkan pesaing. Kalau kita dijelek-jelekkan, justru saya sering mendapat informasi yang mereka miliki.

*). Persaingan adalah kesempatan berbagi ilmu.

Persaingan sangat dekat dengan pemasaran, presentasi dan penawaran. Dengan menawarkan produk yang disertai dengan edukasi secara komplit,  berarti kita telah bersaing secara adil.

*). Semua yang kita miliki adalah pemberian Tuhan.

Termasuk segala permasalahan dan pemecahannya. Jadi ketika menemui masalah berat, saya lari kehadapan yang memberi masalah. yaitu Tuhan. Dari-Nya pulalah jawaban atas segala permesalahan akan diberikan. Berdoa dan sholat itu wajib bagi saya.

Penghargaan

*). Medali emas untuk Outstanding Academic Achievement from Panasonic Scholarship 2005

*). Medali emas untuk Cum Laude Clompleting Master in Chemical Engineering, Nagoya University 2005

*). Best Poster Presentation Award for Stuent at APPChe 2004

*). Medali emas untuk Best Presentation on combusting Engineering Award 2004

*). Panasonic Scholars Scholarship 2003

*). Short- Term  AIEJ Scholars Scholarship 2000

*). UGM Alumni Scholars Scholarship  1996

error: Content is protected !!