INSTITUT KEMANDIRIAN: CETAK SDM MUMPUNI BERWATAK ALIM

ORANGTUAIDAMAN.COM. Apakah Anda pengusaha garmen, bengkel sepeda motor, bengkel HP, atau teknologi informasi yang mengalami kesulitan memperoleh tenaga kerja terampil dan ber-atitude baik?

Kalau jawaban Anda ya, silakan segera menghubungi Institut Kemandirian (IK). Dari lembaga pelatihan ini Anda akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang Anda inginkan. Institut Kemandirian, salah satu lembaga pelatihan dalam jejaring Dompet Dhuafa Republika, dikenal sebagai lembaga yang melatih keterampilan para penganggur dari kaum dhuafa. Harapannya, para penganggur yang sudah mengikuti pelatihan bisa ditampung menjadi pekerja, syukur bila menjadi pelaku usaha.

Lembaga ini bersifat sosial karena pelatihan diadakan untuk kaum dhuafa, dan diselenggarakan secara gratis. Gagasan mendirikan lembaga ini sudah muncul sejak tahun 1993. Tujuannya, mengentaskan pengangguran. Untuk merealisasikan tak membutuhkan waktu terlalu lama. Dompet Dhuafa Republika langsung menggelontorkan anggaran guna melatih pengangguran yang tidak mampu. “Pada awalnya belum berbentuk jejaring. Saat itu Institut Kemandirian dikelola dengan cara outsourcing,” ujar Sulistyawatiningsih, Direktur Eksekutif IK. “Resmi menjadi jejaring Dompet Dhuafa Republika baru pada bulan Januari tahun 2011,” tambah Sulis, panggilan akrab Sulistyawatiningsih.

Hingga saat ini sudah ribuan orang, umumnya berpendidikan SLTA, berhasil dilatih. Selama tahun 2011 saja, IK sudah meluluskan sekitar 1.000 orang. Dari lulusan itu sekitar 50 %-nya bekerja dan 20 % menjadi wirausahawan. Sisanya, sekitar 30 % dari mereka, loss contact atau masih menganggur. “Namanya dhuafa, kadang-kadang mereka tidak mempunyai tempat tinggal. Ketika kami lacak, mereka sudah pindah dan handphone-nya tidak bisa kami hubungi,” ungkap Sulis.

11 Bidang keterampilan

Lulusan IK memang tidak melulu menjadi tenaga kerja. Ada pula yang menjadi wirausahawan. Dalam menerima peserta, IK menerapkan satu syarat pokok yakni calon peserta haruslah pengangguran dari kaum dhuafa. Mereka berasal dari delapan golongan penerima zakat, yakni kaum fakir, miskin, yatim, piatu, mualaf, musafir, amil zakat, dan gorim. Usia mereka umumnya kurang dari 33 tahun. Lembaga ini kemudian menyeleksi mereka melalui wawancara. IK kemudian meminta jaminan berupa ijazah dan uang Rp 100.000,- (kalau punya uang) begitu calon peserta dinyatakan lulus. “Maksudnya, biar mereka punya komitmen mengikuti pelatihan,” tutur Sulis.

Program pelatihan untuk mereka, biasa disebut program reguler, diawali dengan pelatihan kewirausahaan selama lima hari. Pelatihan ini berupa penggemblengan mental kewirausahaan. “Tujuannya untuk melihat kesiapan mereka. Sebab, orang yang sudah lama menganggur dan pendidikannya kurang akan terkejut bila tiba-tiba kami cekoki dengan keterampilan teknis,” ujar Sulis. Dalam pelatihan ini bekal yang diberikan kepada peserta berupa pengetahuan kewirausahaan, pembentukan mindset, dan motivasi untuk menghilangkan rasa takut berwirausaha. “Setelah pelatihan ini, kami melakukan evaluasi untuk mengetahui peserta yang memiliki kemampuan berwirausaha,” tambah pengusaha di bidang pangan ini.

IK baru memberikan pelatihan keterampilan teknis setelah peserta dianggap “lulus” pelatihan kewirausahaan. Ada 11 bidang keterampilan dilatihkan IK, yakni teknisi sepeda motor, teknisi HP, fashion, teknologi informasi, tata boga (kuliner), handicraft,  pangkas rambut, salon muslimah, mengemudi, budidaya lele, dan wirausaha. “Sebelumnya, ada bidang elektronik dan pendingin, namun tahun ini bidang tersebut ditiadakan karena kebutuhan tenaga kerja di bidang ini tidak sebanyak bidang lain.”

Lamanya pelatihan keterampilan teknis ini bervariasi 3 minggu – 3 bulan. Yang paling singkat pelatihan perbaikan HP dan yang paling lama pelatihan perbaikan sepeda motor.Untuk seluruh pelatihan, IK melibatkan sekitar 25 orang tenaga instruktur. Mereka terdiri atas trainer berpengalaman dan pelaku usaha.

Pelatihannya menggunakan fasilitas pelatihan milik IK yang cukup lengkap. Setiap ruang pelatihan teknis, dilengkapi peralatan cukup modern. Ruangan tersebut berkapasitas 10 – 20 peserta. Terkadang, bila para pesertanya dari suatu wilayah yang jauh dari fasilitas pelatihan milik IK, pelatihan dilakukan di titik asal peserta, misalnya di balai desa setempat. Untuk peserta yang tempat tinggalnya jauh dari fasilitas pelatihan milik IK, disediakan semacam mess. Tempat tersebut bisa menampung 15 peserta putri dan 15 peserta putra.

Setelah seluruh program pelatihan selesai, IK menguji peserta di lapangan dengan menjadikan mereka sebagai tenaga teknis dalam layanan gratis yang digelar IK. Lalu, IK memagangkan mereka di suatu unit usaha sesuai  bidang pelatihan masing-masing. Lamanya 3 – 6 bulan.

Pada akhirnya IK akan mengetahui potensi mereka, sebagai tenaga kerja atau wirausahawan. Kalau “hanya” mampu sebagai tenaga kerja, IK akan menyalurkan mereka ke para pelaku usaha yang membutuhkan tenaga mereka. “Kalau peserta berprestasi bagus dan punya passion untuk berwirausaha, serta punya semangat berwirausaha, mereka kami beri bantuan bisnis secara berkelompok dalam inkubasi bisnis.”

Nah, sebagai pelaku usaha, Anda bisa “menangkap” mereka, entah sebagai pekerja atau anak angkat dalam usaha Anda.

BIDANG KETERAMPILAN YANG DILATIHKAN DI INSTITUT KEMANDIRIAN:

  1. Teknisi sepeda motor
  2. Teknisi HP
  3. Fashion
  4. Teknologi informasi
  5. Tata boga (kuliner)
  6. Handicraft
  7. Pangkas rambut
  8. Salon muslimah
  9. Mengemudi
  10. Budidaya lele
  11. Wirausaha

Catatan: IK juga menyenggarakan pelatihan non-reguler yang didanai oleh lembaga lain, misalnya dari Kementerian Sosial, Kementerian Pemuda dan Olahraga, atau dana CSR suatu perusahaan. Untuk pelatihan jenis ini, peserta pelatihan tidak dibatasi hanya untuk kaum dhuafa. Bahkan, IK bisa memberikan pelatihan untuk karyawan suatu perusahaan atas biaya perusahaan tersebut.

KONTAK:

INSTITUT KEMANDIRIAN

Gedung Wardah

Jln. Zaitun Raya, Islamic Village

Karawaci, Tangerang

Telepon: 021-5463118, 91261823

error: Content is protected !!