MENYULUT API RADIKALISASI PENDIDIKAN LINGKUNGAN, DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

ORANGTUAIDAMAN.COMMenjadi pemimpin itu tak perlu menunggu dan berandai-andai. Menjadi pemimpin dimulai dari diri sendiri dan sekarang juga. Perubahan lingkungan hidup menjadi lebih baik diawali dari diri sendiri secara radikal sekarang.

Makna radikal telah mengalami distorsi. Banyak orang mengartikannya sebagai kegiatan kekerasan, anarkhisme, dan pemaksaan. Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal bermakna ‘secara mendasar’, sampai kepada hal yang prinsip. Makna lainnya yaitu maju dalam berpikir atau bertindak. Pengaburan makna itu membuat banyak masyarakat alergi saat mendengar kata radikal.

Radikalasi yang akan dipaparkan dalam artikel ini yaitu perubahan mendasar yang dilandasi pola berpikir dan perbuatan lebih maju dalam pendidikan lingkungan. Perubahan dilakukan bukan melalui jalur paksaan. Melainkan melalui keteladanan. Memulai dari diri sendiri, menjadi pionir, bertindak sebagai pelopor. Pada hakikatnya, pemimpin adalah pelopor dan teladan. Bukan demo beramai-ramai yang riskan dicemari penyusup berkempentingan busuk, berujung ricuh, dan justru bermuara pada kerusakan lingkungan.

Perusakan lingkungan hidup banyak dipicu oleh sikap dan pandangan hidup masyarakat. Dipengaruhi latar belakang dan pandangan hidup utilitarianisme, pragmatisme, dan hedonisme. Selain itu, latar belakang pendidikan formal, nonformal dan keadaan lingkungan pun turut membentuk perilaku seseorang.

Pendidikan Itu Membebaskan

Berjibun masalah lingkungan hidup yang kita hadapi saat ini salah satunya adalah buah dari model pendidikan yang dikotak-kotak. Pemikiran yang disekat-sekat dan dipenjarakan. Konsep ekonomi dan ekologi lebih banyak dipertentangkan daripada dipersatukan. Realitanya, masalah lingkungan hidup disebabkan oleh kesalahan manusia memperlakukan ekonomi dan ekologi.

Menurut Dr. R.E. Suryaatmadja dalam buku Iman Ekonomi dan Ekologi, Refleksi Lintas Ilmu dan Lintas Agama, pembangunan ekonomi yang saat ini sedang bergulir menciptakan modal buatan dengan cara menggerogoti modal alam. Sehingga, sumber daya alam (SDA) kian rapuh. Seharusnya SDA dipelihara dan dikembangkan. Sebab, SDA adalah cikal bakal modal buatan. Ketika modal alam tidak dipelihara, pada akhirnya kita tidak bisa meramu modal buatan sebagai penyokong kebutuhan hidup.



Pendapat lain dipaparkan oleh Dr. Wiliam Chang, OFMCap dalam bukunya berjudul Moral Lingkungan Hidup. Ia mengatakan bahwa saat ini terjadi pemisahan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu manusia, antara ekonomi, dan ekologi, antara etika, politik, dan ekonomi, antara perseorangan dan masyarakat. Spesialisasi bidang ilmu penghetahuan begitu ketat. Padahal, tiap cabang ilmu pengetahuan tidak mungkin terlepas satu dari yang lain.

Sementara itu, George Junus Aditjondro, dalam bukunya yang berjudul Pola-pola Gerakan Lingkungan, memaparkan bahwa transaksi pendidikan penting, dan mewarnai sifat transaksinya. Menurutnya, sekat jalur pendidikan formal, informal, dan nonformal tidak mengungkap sifat transaksi pendidikan yang dijalankan, serta isi transaksi tersebut.

Jurgen Habermas, filsuf dari Jerman berpendapat sedikit berbeda, ada 3 jenis ilmu pengetahuan. Yakni ilmu pengetahuan yang bersifat teknis, praktis dan kritis.

Ilmu pengetahuan teknis, termasuk di dalamnya rumpun ilmu pengetahuan alam (IPA) konvensional yang dipelajari hanyalah kepentingan kognitif penguasaan teknis terhadap lingkungan alam.

Sementara itu, rumpun ilmu praktis meliputi ragam ilmu pengetahuan sosial (IPS) kinvensional. Misalnya, ilmu ekonomi perusahaan. Kepentingan kognitifnya yaitu mempelajari penguasaan masyarakat atau lingkungan sosial. Contohnya: kaum buruh dalam perusahaan.

Baca Juga: TUMBUH DAN BERKEMBANG BERKAT PEMBELAJARAN MENGALAMI

Yuk simak lebih lanjut contoh penerapan 3 jenis ilmu pengetahuan Habermas tersebut. Rumpun ilmu teknis adalah pengetahuan dasar Ekologi sebagai suatu turunan dari Biologi, hanya menjelaskan mekanisme keterkaitan antar unsur biologis, fisis, dan kimiawi di alam.

Menurut teropong ilmu teknis, ekosistem kebun tebu dipaparkan dari segi tanah, air, zat hara, gulma (tumbuhan liar), hama (hewan penganggu tanaman), musim tanam, dan iklim.

Kemudian, ketika ekosistem kebun tebu ditelaah dari kacamata ilmu praktis akan terlihat menjadi semakin kompleks. Pengetahuan biologis harus dikawinkan dengan ilmu ekonomi. Dengan demikian akan nampak upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ekosistem kebun tebu tersebut. Misalnya melalui mekanisasi dan berbagai langkah intensifikasi yang lain.

Ilmu praktis itu belum menyentuh faktor keadialan. Soal keadilan kemudian dipaparkan dalam ilmu kritis. Di dalamnya, pengetahuan tak lagi bersifat netral, dan tidak memihak. Ilmu pengetahuan tak lagi dianggap bebas nilai.

Rumpun ilmu kritis tidak hanya menjelaskan suatu permasalahan. Namun juga memperkuat kelompok masyarakat yang paling lemah posisinya. Sehingga dapat membebaskan pihak yang lemah dari belenggu ketidakberdayaan.

Jika diterapkan di kebun tebu tadi, maka ilmu kritis berusaha menyoroti kekuatan politis masyarakat yang hidup-matinya menggantungkan diri dari ekosistem tebu, dalam hal ini yaitu petani tebu dan pengolah gula tebu tradisional khususnya, dan hajat hidup Bangsa Indonesia secara lebih luas.

Bukan hanya kelestarian kesuburan lahan tebu yang dipertahankan. Juga tak hanya soal perhitungan untung-rugi, keberlangsungan usaha tani para bebisnis gula tebu, dalam hal ini petani dan pengerajin gula tebu tradisional. Namun sesungguhnya tebu adalah bisnis besar yang menyangkut hajat hidup Bangsa Indonesia. Gula adalah bahan baku vital, dimana Rakyat Indonesia tergantung kepada pasokan gula impor yang hingga saat ini masih didikte oleh kepentingan kapitalis.

Mengutip pernyataan Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil, Isu bahwa gula mahal dan kurangnya stok gula nasional, kerap dimainkan agar kebijakan impor bahan baku gula tetap dibuka. Padahal kita memiliki pabrik-pabrik gula di bawah BUMN. Tetapi, kenapa dibiarkan terlantar?

Baca Juga: MERAWAT EMBRIO BISNIS DALAM RAHIM TEKNOLOGI INFORMASI

Sekolah formal saat ini sangat jarang menyentuh pendidikan lingkungan hidup. Kalau pun ada sekolah yang berusaha menyajikan menu pilihan pendidikan lingkungan disuguhkan dalam bentuk pengetahuan teknis, kadang praktis. Belum pada taraf pengetahuan kritis.

Pendidikan lingkungan menjadi sarat gizi ketika seluruh ilmu diramu kemudian disajikan secara simultan. Berbagai ilmu teknis, ragam ilmu praktis dikolaborasikan untuk menyokong ilmu kritis.

Pengembangan teknologi dan perekonomian seharusnya berlandaskan kepada sumberdaya yang dapat dikuasai oleh rakyat, serta meminimalkan timbulnya kekerasan terhadap alam dan sesama manusia.

Pendidikan lingkungan secara sederhana dapat dimulai dari diri sendiri, ditularkan kepada anggota keluarga, kemudian ke orang-orang di sekitar kita. Melalui teladan dan edukasi pemanfaatan dan mengonsumsi barang-barang yang dilatarbelakangi oleh produsen etis, tidak merugikan banyak pihak, namun justru memberikan manfaat bagi pihak luas.

Baca Juga: TES SEPERTI INI YANG DIBUTUHKAN ANAK INDONESIA

Bagi tenaga pendidik, secara formal dapat mulai memparktikan model pembelajaran ‘mengalami’. Melalui model pembelajaran seperti ini dapat mengasah kepekaan siswa menangkap sinyal-sinyal permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga ilmu praktis dan teknis yang telah diperoleh dapat diterapkan untuk menetaskan inovasi melalui ilmu kritis yang dibutuhkan oleh masyarakat luas.

error: Content is protected !!