MERAWAT BAYI ANGGREK: BANYAK ANAK BANYAK REZEKI

ORANGTUAIDAMAN.COM – Banyak  anak  banyak rezeki. Mungkin pepatah ini cocok juga diterapkan bagi para pengembang anggrek.

Pasalnya semakin banyak anakan yang dihasilkan, berarti semakin besar kemungkinan pundi-pundinya  terisi rezeki. Sementara bagi para hobiis, bertambahnya anakan berarti koleksi anggreknya bakal semakin bejibun. Jelas, suasana pekarangan tempat anggrek berada bakal tambah marak. Dan untuk merawat anakan ini terbilang mudah. Seperti penuturan Haris, pengembang anggrek di Serpong, Tangerang.

Keiki atau anakan anggrek

Setidaknya disini Anda bakal menemukan anakan anggrek dari berbagai hibrid. Seperti Tongcai Gold, anggrek bulan merah, anggrek Christmas, Malona, Choang Mai, Genting Royal, Burana Jade Uraiwan, Udom Sri Thailand, Ansi dan Jade Yellow.  “Biasanya jika sudah berumur sekitar 4 bulan, anggrek tersebut akan beranak,”ujar Haris.
 
Pastikan Tak Goyang
Agar anak anggrek tumbuh subur, Haris membeberkan rahasianya.  “Coba perhatikan tingginya,” kata Haris. Anakan berkualitas, pada saat berumur sebulan, tingginya bisa tembus 10-15 cm. Jika usianya telah 2 bulan, berarti sudah saatnya dipisahkan dari induk.

Ia pun menambahkan, untuk penanaman anakan di pot, jangan tanam terlalu dalam. Artinya akar harus tetap terlihat pada permukaan media tanam. Dengan begitu anakan bisa tumbuh dengan baik. Perlu pula diperhatikan kekokohan penanaman. Pastikan tak goyang! Catatan tambahan, beberapa grower kerap menambahkan tiang penyangga.

Masih terkait erat dengan kekokohan anakan, jangan lupakan faktor media tanam. Kebanyakan orang menggunakan media seperti arang dan serabut. Namun Haris justru menghindari keduanya.  Kenapa demikian?  Menurutnya sangat sulit untuk membedakan arang berkualitas bagus dan jelek. Baginya arang yang jelek berasal dari pembakaran kayu yang “kurang matang”. Sehingga bukan tak mungkin bisa menimbulkan bibit penyakit.

Sedangkan media berbentuk serabut mampu menyimpan air dalam jangka waktu lama. Sehingga keadaan media tanam jadi lembap. Akibatnya kerap tumbuh lumut. Terlebih lagi pada saat musim hujan. Dalam kondisi ekstrim, hal ini mengundang hama pengganggu. Salah satunya adalah semut. Bila dibiarkan, bisa jadi ancaman bagi si anggrek.

Ia sendiri lebih memilih media tanam terbuat dari kaliandra. Agar lebih afdol, sebelum digunakan, kaliandra tersebut di jemur terlebih dulu hingga kondisinya kering. Setelah itu diolah  dengan teknik “fermentasi” hingga kondisinya siap digunakan. Langkah ini dipercaya mampu memberikan lingkungan yang cocok bagi si anggrek.

Disiplin dan Telaten
Jika urusan di atas kelar, kini tinggal merawatnya. Dan bagi Haris hanya perlu 2 faktor dalam perawatan agar anakan bisa tumbuh sehat. Yakni ketelatenan dan kedisiplinan. Selebihnya, sangatlah gampang. “Disiram saja secara teratur sehari dua kali. Pagi dan sore hari,” ujarnya. Namun ia mengingatkan, walau kondisi kering harus dihindari, namun bukan berarti kondisi anggrek harus basah. Keadaan ini justru bakal membuat warna tunas terlihat kurang prima.

Selain itu, jangan lupa berikan pupuk seminggu dua kali. Haris sendiri menggunakan pupuk organik. Baginya, dari sisi biaya yang harus dikeluarkan, penggunaan pupuk organik ini lebih ekonomis dari pada pupuk anorganik.  Alasan lainnya ialah dari segi keamanan. Disamping membuat pertumbuhan tanaman lebih cepat dan sehat, pupuk organik tak  membahayakan bagi tanaman dan manusia.

Satu hal lagi, agar memudahkan Anda, perhatikan pula posisi penempatan anakan anggrek ini. Haris sendiri menempatkannya dalam 3 kelompok. Yakni umur 1-2 bulan, 2-4 bulan (mulai dewasa), dan yang sudah mau berbunga(sekitar  4-6 bulan). Semua anggrek tersebut disusun di rak berukuran 13 cm x 100 cm. “Pengelompokan anggrek bertujuan supaya lebih rapi dan tertata. Sehingga mempermudah dalam perawatan anggrek,” papar  Haris.

Waspadai Serangan Hama
Ada beberapa hama yang sering menyerang bunga cantik ini. Salah satunya adalah bekicot alias keong racun. Hama ini sering muncul pada saat musim hujan. “Bekicot paling suka berada di tempat basah. Mereka suka makan tunas dan daun muda ,” kata Haris.  Bila jumlahnya sedikit, untuk memberantasnya, Anda bisa memungutinya satu persatu.

Namun bagi Haris, serangan hama paling berbahaya justru datang dari kumbang gajah. Selain itu, untuk mencarinya pun bukan perkara mudah. Haris kerap mencarinya pada saat matahari baru terbit atau sesaat sebelum terbenam. “Pokoknya dicari selama udara masih adem,” ungkap Haris. Bila dilakukan pada saat udara panas, bisa dipastikan kumbang ini bakal ngumpet. Sehingga susah menemukannya. Sementara langkah penyemprotan insektisida pun kurang memberi efek memuaskan. “Percuma mau disemprot (insektisida), tetap aja ada dan berkembang. Jadi satu-satunya jalan, ya …  memang harus dicari satu-satu dengan teliti,” sambung Haris.

Anggrek sudah terserang hama, bisa dilihat dari warna daun dan kondisi tunasnya. Jika anggrek tersebut terserang kumbang gajah, ada sobekan atau bekas bintik – bintik bulat warna putih pada daun. Namun  jika terserang keong racun, pada tunas daun terdapat sobekan berwarna putih dalam bentuk memanjang.

Tips
Langkah Praktis Menanam Tunas

Agar Anda bisa merawat tunas anakan lebih mudah, berikut ini langkah praktis penanamnya.

1.      Siapkan pot dan media secukupnya. Kemudian masukkan sedikit media.
2.      Ambil anakan yang ingin ditanam.
3.      Lalu masukan anakan yang ingin ditanam ke dalam. Ingat, pastikan tunas tidak tertimbun media.
4.      Tambahkan kembali media secukupnya.
5.      Kini anakan sudah siap Anda rawat.

error: Content is protected !!