7 POIN MERAWAT KOLAM

ORANGTUAIDAMAN.COM – Air kolam jernih saja tidak cukup. Air juga harus sehat. Tidak mengandung bibit penyakit dan zat beracun. Butuh cara perawatan benar agar air bisa jernih dan sehat.

Agar perawatan kolam bisa dilaksanakan secara benar, anatomi kolam harus dipelajari dulu. Termasuk mekanisme kerja tiap bagian kolam. Secara garis besar kolam ada dua bagian, yakni ruang kolam dan ruang filterisasi. Kualitas air dalam ruang kolam ditentukan oleh kinerja filter.

Proses penyifonan filter kolam

Filter bisa diibaratkan sebagai paru-paru kolam, yang menyaring kotoran dan zat beracun dalam air. Menurut Peking Budiono, perancang kolam koi di Jakarta Selatan, filter yang telah bekerja secara optimal tidak perlu sering dirawat. Sementara filter masih baru, butuh perawatan lebih intensif. “Kalau bakteri sudah tumbuh di dalam filter, boleh dikatakan nyaris tak butuh perawatan yang njilmet,” kata pria kelahiran kota Blitar itu.


Kolam yang baik memiliki sarana penyaringan sebesar 1/3 dari total volume kolam.  Sementara itu, filter yang ideal memiliki ruang atau chamber sebanyak 4 buah. Berisi busa atau kapas yang berperan sebagai filter fisik, dua buah ruang berisi batu zeolith sebagai filter kimia, dan bio ball sebagai filter biologi. Tiap filter butuh cara dan frekuensi perawatan yang berbeda. Berikut cara perawatan kolam ala Peking Budiono.

Penyifonan
Dilakukan untuk menguras kotoran di dasar filter. Endapan kotoran terlalu banyak bisa menganggu aliran air dan kualitas air melorot. Akibatnya, air menjadi berlumut, ikan pun terganggu kesehatannya. Penyifonan dilakukan dengan menggunakan selang. Kolam baru butuh frekuensi penyifonan lebih sering. Terutama ketika air berbau tidak sedap atau  banyak lumut. Penyifonan bersamaan dengan penggantian air. Sebanyak 5% air di dalam kolam dibuang, lalu diganti dengan air baru.

Penyifonan juga dilakukan di bagian titik mati kolam, bagian kolam yang aliran airnya lambat. Atau bahkan air tidak mengalir sama sekali. Di tempat itu kemungkinan terjadi penimbunan sangat besar. Kadar oksigen menjadi berkurang. Sebaliknya kadar amonia menjadi tinggi.

Mencuci filter kimia
Arang aktif dan batu zeolith yang sudah jenuh akan berdaya serap lemah. Cirinya, warnanya menjadi cokelat pekat. Daya serap berkurang setelah zeolith dipakai selama 6 bulan. Filter kimia yang telah jenuh dikeluarkan dari chamber. Lalu, disemprot dengan air sampai warnanya terlihat cerah. Setelah itu zeolith dikeringkan dan disimpan selama 2  bulan. Sembari menunggu kering, dipakai zeolith cadangan.

Cara lain, zeolith direndam dalam larutan garam. Metode ini terbukti lebih efektif untuk melepas racun yang diserap batu zeolith. Perendaman selama 24 jam dilakukan setelah zeolith disemprot bersih. Usai direndam dalam air garam, zeolith direndam air tawar selama 24 jam. Kemudian dibilas berulang-ulang sampai garam yang menempel benar-benar hilang. Zeolith lalu dikeringkan dan disimpan selama 3 – 4 bulan dan diganti zeolith cadangan.

Mencuci filter fisik kapas
Di bagian ini kotoran paling banyak menumpuk. Bila tidak rutin dibersihkan, aliran air bisa terhambat. Akibatnya, kinerja filter berkurang. Kotoran menumpuk juga dapat mengakibatkan bakteri pengurai bekerja terlalu berat. Efisiensi penyaringan menjadi berkurang. Filter fisik dikeluarkan, lalu dimasukkan ke dalam ember berisi air bersih.  Filter fisik dikucek, dibilas sampai bersih, dan langsung bisa digunakan lagi. 

Kontrol rutin pompa
Pompa dikontrol secara rutin setiap 3 bulan sekali. Bagian kipas rawan gangguan.  Ruang kipas sering ditumbuhi lumut. Sehingga perputarannya terhambat. Lilitan lumut juga dapat mengakibatkan motor bekerja keras. Mudah panas lalu terbakar. Penutup kipas pompa dibuka, kipas dan batang magnet dikeluarkan, lalu disikat sampai bersih. 

Pungut kotoran segera
Kotoran macam dedaunan dalam kolam harus segera diambil, bila perlu gunakan jaring. Kotoran menumpuk di dalam kolam bisa membusuk. Akibatnya populasi bakteri pengurai membeludak. Ikan pun berebut pasokan oksigen dengan jasad renik itu.  Sampah membusuk juga bisa menghasilkan ammonia, yang bisa meracuni ikan.

Tangkal parasit dan penyakit
Pencegahan penyakit dilakukan dengan memberikan zat antibiotik dan zat antikutu ke dalam kolam. Zat ini tidak menghambat atau mematikan bakteri bermanfaat yang ada  di dalam filter biologi. Dilakukan setiap 30 hari sekali. Pemberian garam ikan ke dalam kolam yang sudah stabil tidak disarankan. Sebab, garam ikan bisa membuat filter kimia melepas kembali racun yang sudah diserap. Zat berbahaya itu akan mengalir kembali ke dalam kolam. Sehingga bisa mengakibatkan kematian masal dalam kolam.

Menambal kebocoran
Kebocoran sering terjadi pada kolam baru dan kolam tua. Karena proses pengacian kurang sempurna atau kolam sudah keropos. Pengacian dilakukan dengan cara mengikuti permukaan air dalam kolam. Bagian yang bocor biasanya terletak tepat di atas permukaan air. Bila kebocoran terjadi di bagian dasar, kolam harus dikuras total. Setelah itu seluruh bagian dasar kolam dilabur dengan semen.

Semoga ikan di kolam Anda sehat.

Ditabur Probiotik
Pemberian probiotik dalam kolam baru sangat dianjurkan. Agar bakteri bermanfaat di dalam filter lebih cepat tumbuh. Sehingga kolam bisa lebih cepat diisi ikan. “Kalau tanpa probiotik biasanya memakan waktu 2 bulan. Tapi bila menggunakan probiotik, sebulan saja ikan sudah bisa dimasukkan ke dalam kolam,” ujar Peking Budiono. Probiotik atau bakteri starter ada yang berbentuk serbuk. Namun ada pula yang berwujud cair. Bahan itu bisa dimasukkan ke dalam filter maupun langsung ke kolam. Selain probiotik, penambahan garam ikan ke dalam kolam baru juga dianjurkan. Bahan ini mampu menetralkan pH air.

error: Content is protected !!