KULIT KAYU LANTUNG: RIVAL PRODUKCINA DI PASAR INTERNASIONA

ORANGTUA IDAMAN – Di tangan Tentrem Sriminarsih atau yang akrab disapa Sri, kulit kayu di pasar internasional ia tak gentar bersaing dengan produk Cina.

Di bawah bendera Askara Art Gallery, kerajinan kulit kayu buatan Sri sukses menembus pasar internasional. “Saya ingin memanfaatkan bahan yang terbuang menjadi berguna. Kayu Lantung selama ini hanya dijadikan kayu bakar oleh masyarakat Bengkulu,” kata Sri memberi alasan.Tahun 1999 Sri mulai mengolah idenya  untuk memanfaatkan kulit kayu pohon Lantung menjadi aneka kerajinan menarik dan mempunyai nilai jual. Berbagai jenis barang yang dihasilkan, seperti tas, sandal, gantungan kunci, topi, tempat tisu, dan lain-lain terlihat begitu cantik dan artistik. Keunggulan produk ini, kuat, tidak mudah putus, dan ramah lingkungan.    

Tas kulit kayu

Pengambilan kulit kayu sama sekali tidak merugikan pertumbuhan pohon Lantung. “Kan kalau pohon itu dipotong, nanti bawahnya numbuh lagi. Semakin dipotong, bagian yang kecil akan semakin cepat tinggi,” jelas Sri. Pohon Lantung tumbuh subur di hutan-hutan yang ada di Bengkulu bagian selatan. Pohon yang diambil kulitnya biasanya pohon yang sudah berumur 10 tahun. 

Topi dan Tas Laptop

Untuk lebih meyakinkan kualitas produknya, di setiap pameran ia  memaparkan rangkaian proses produksi  mulai dari pembinaan petani yang menanam pohon Lantung  hingga pembuatan kerajinan tersebut.  Dalam sebulan, biasanya ia menampung 500 hingga 1.000 lembar kulit kayu dari para petani di Desa Kinol, Bengkulu Selatan. Sri membeli bahan  kulit kayu  Rp 30 ribu/lembar “Kalau modelnya simple satu lembar bisa cukup untuk membuat 2 – 3 barang. Tapi kalau agak rumit, satu lembar kayu hanya cukup untuk satu barang, contohnya tas laptop.” jelasnya.

Produk utamanya yaitu tas dan topi lebar.  Untuk menjajaki pasar,  biasanya Sri memproduksi sebuah model baru  sebanyak.  100 – 200 buah dulu.  Bila terbukti mendapatkan tanggapan pasar yang kontinyu, berarti  bisa dijadikan sebagai produk unggulan.  “Biasanya butuh waktu sekitar 6 bulan untuk memastikan kestabilan permintaan pasar,” lanjut Sri.

Saat ini kapasitas produksinya  3.000 item / bulan.  Juni 2011 ini ia  lagi menangani beberapa pesanan dari manca negara.  Dari Jepang mendapat pesanan 1.000 lembar taplak (penutup meja).  Namun karena order itu baru kali pertama, Sri hanya menyanggupi 200 lembar saja.  “Nanti kalau sudah beberapa kali pesan dan terbukti tak bermasalah, pesan lebih banyak pasti saya sanggupi,” tuturnya. Dari Thailand ia mendapatkan order  500 tas laptop. “Sekarang para petani sudah mulai bekerja untuk mengumpulkan bahan baku,” ucapnya semangat. Ia merasa lega bisa memberi lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitarnya.

Harga jual produk kerajinan ini bervariasi. Harga termurah adalah gantungan kunci Rp 5 ribu, dan yang mahal  mencapai jutaan rupiah, yakni lukisan atau kaligrafi. Untuk menjaga tekstur kayu yang unik dan alami, ada beberapa barang yang sengaja tidak ia beri warna, seperti topi, sandal, lampion, celengan, dan rompi.

Pinjaman dari BTN

Usaha  kerajinan ini  dirintisnya dengan  modal Rp 10 juta  dari tabungan pribadi.  Namun ia juga  ditawari bantuan modal oleh Bank BTN. “Ketika itu saya tidak pakai proposal tetapi tetap mengurus perizinan,  dan  memakai agunan. Saya dapat pinjaman Rp 60 juta dengan bunga 14%   sekitar satu setengah tahun lalu. Alhamdulillah bisa lunas dalam waktu tiga tahun,” kenangnya. Modal pinjaman itu ia gunakan untuk membeli bahan baku produksi dan dan buka outlet. Kini ia berniat meminjam lagi  meski tidak  dalam jumlah banyak,  “Tergantung situasi.  Kalau situasinya nanti membaik, order meningkat lagi, saya berminat mendapatkan modal lagi,” paparnya.

Dalam menjalankan usaha  Sri dibantu  7 orang karyawan.  “Sejak peristiwa bom Bali, jumlah pesanan dari luar negeri menyusut.  Padahal dulu saya sempat punya 20 karyawan,” katanya.  Untuk memasarkan produknya, Tentrem lebih mengandalkan pameran.  Menurutnya, ada 2 even besar yang berpotensi untuk mendapatkan pelanggan dari luar negeri.  Yaitu saat Ina Craft dan acara pameran Trade Expo Indonesia yang diselenggarakan setiap bulan Oktober di Kemayoran.  Selain itu ia juga  rajin berpromosi lewat jejaring social facebook. Ia juga sering mengikuti kompetisi seperti Paramakarya dan Upakarti.

Ia mengaku 95% pelangganya adalah orang asing,  dari berbagai negara.  Seperti  Italia, Korea, Jepang dan Timur Tengah.  Selain pemesanan langsung dari pelanggan, Tentrem juga mengirim produknya melalui eksportir.  “Saya ada jaringan eksportir di Jepara dan Yogyakarta,” kata Sri.(orangtuaidaman.com)


Info Usaha

Askara Art Gallery

Tentrem Sriminarsih

FB : askaraku@yahoo.co.id

Email : askaraku@gmail.com

Alamat : Jl. Salak Raya, Blok 1 , No 102, Bengkulu.  Telp (0736) 24875.

Proses Pembuatan

*). Awalnya kulit kayu dipukul-pukul untuk memudahkannya terkelupas. Sesudah itu bagian tengah kulit dipisahkan dari kulit keras atau kulit luarnya. Lembaran kulit tengah kemudian diratakan dengan alat khusus. Lalu dipukul-pukul lagi hingga tipis dan menjadi lembaran-lembaran seperti kertas.

*). Lembaran kulit lantung  yang masih basah, dijemur selama 2 minggu agar kering. Penjemuran kulit lantung ini juga dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas kulit yang baik.    

*). Kulit Lantung yang sudah kering dan siap diolah kemudian digunakan.

Kendalanya,  Hujan

*). Musim hujan jadi kendala yang  menghambat   produksi kulit kayu.  Pasalnya, proses produksi saat ini masih dilakukan secara manual.  Untuk mengatasi hal tersebut,  Sri bekerjasama dengan Universitas Bengkulu untuk menemukan cara pengeringan yang baik.  Ia juga sedang  mengembangkan kualitas  dengan  melakukan coating pada produknya. 

*). Membanjirnya produk Cina yang murah, menjadi ancaman serius di pasaran. Namun ia tidak patah semangat dan akan terus memasarkan produknya di pasar internasional. “Bagi saya kompetisi itu sangat penting untuk melatih mental kita menjadi lebih kuat, jadi tidak ada kata menyerah,” tegasnya.

error: Content is protected !!