BIJAK POHON JATI BAGI YANG BERDUKA

ORANGTUA IDAMAN – Hidup itu bagai berjalan di atas sisi tajam pisau. Jalan setapak yang amat tipis. Jatuh, bangun, dan terluka itu hal biasa. Namun, memberi efek berbeda kepada setiap orang. Mau menanggapinya dari sisi positif dan bertumbuh? Atau malah menerimanya dari sisi negatif yang membuat hidup kerdil, layu, dan kering? Semua adalah pilihan.

Ada baiknya kita belajar dari bijak pohon jati. Baginya, musim kemarau dan penghujan itu dua hal yang menjadi kesatuan tak terelakkan. Pohon jati selalu satia melewati musim demi musim. Flora ini luwes dalam menyesuaikan diri.

Saat musim kemarau, jati menggugurkan semua daunnya. Baginya, kehilangan daun bukan kehilangan hidupnya. Toh saat musim hujan tiba, jati segera bersemi. Pohon berpokok kuat dan keras ini pintar memanfaatkan momentum. Ia segera tumbuh dan berkembang untuk menyongsong musim kering berikutnya.

Musim kering tak membuatnya putus asa. Sehingga ia tak malas bertumbuh ketika musim hujan tiba.

Sama seperti kita, yang juga tak henti-henti melalui dua musim kehidupan. Suka dan duka. Dua hal yang berbeda namun sebenarnya adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tak bisa memilih dan menolak salah satu di antaranya. Selama menapaki kehidupan, suka dan duka harus kita lalui.

Lantas apakah kita hendak memilih seperti pohon jati, atau malah memilih kering, dan mati usai melalui musim duka? Semua adalah pilihan.

Mirip seperti pohon jati merontokkan dedaunan karena musim kering. Duka yang kita lalui akan membuat hilangnya pengharapan. Daun jati bak pengharapan bagi kita. Namun, kita sering lupa bahwasannya daun-daun pengharapan itu bisa tumbuh kembali.

Duka sangat pintar menutupi roh kita yang sesungguhnya hidup. Tabir gelap duka kerap membuat kita merasa telah mati dan memilih binasa untuk selamanya.

Duka bagai lingkaran setan berwarna hitam kelam. Membuat siapa saja yang terjebak di dalamnya berputar-putar tak tahu arah dan tak berdaya keluar dari pelukkannya. Rasa duka membuat seseorang tak menyadari sesungguhnya yang terjadi. Sehingga, nasihat dari pihak lain sering diabaikan.

Berhenti berlari membuat kita menyadari realita yang sesungguhnya sedang terjadi. Sehingga kita bisa segera keluar dari belenggu rasa duka. Seiring dengan waktu, tunas-tunas pengharapan baru tumbuh.

Musim baru pun segera tiba. Anda akan menjadi semakin kuat dari musim sebelumnya. Tumbuh dan berkembang memperiapkan diri menghadapi musim kering berikutnya dengan jiwa yang lebih berkarakter dan kuat.

error: Content is protected !!