CANDU-CANDU KEHIDUPAN

ORANGTUA IDAMAN. Tanpa disadari, gaya hidup materialis telah mencabut manusia dari akar kehidupannya sebagai mahluk sosial.

Rutinitas harian mengejar materi membuat banyak orang kota kian terasing dan kesepian. Kehidupan masyarakat kota berpijak di atas segala hal yang bersifat instan dan sementara. Hiburan menjadi celah melarikan diri daei kehidupan nyata.

Ikatan kehidupan sosial masyarakat modern kian renggang bahkan hilang sama sekali. Orang kota selalu asyik dengan dirinya sendiri. Keretakan hubungan sosial itu membuat kehidupan mereka tidak berakar.

Tak hanya sinetron yang dipertontonkan di televisi, hiburan instan lain yang selalu menemani orang kota adalah asap rokok, musik, gambar pornografi, jejaring interney, video game, iklan televisi, mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan zat psikotropika.

Ada lagi hiburan instan yang banyak digemari orang kota, yaitu menonton barang-barang mewah di etalase mall. Rumah makan siap saji, kafe, pub, disko yang kian riuh dikunjungi meskipun sesungguhnya mereka sedang mengalami krisis berkepanjangan merupakan hiburan palsu masyarakat modern.

Seperti yang dikutip dari pendapat Totok S. Wiryasaputra dalam bukunya Mengapa Berduka, Kreatif mengelola perasaan berduka, upacara tertentu, khotbah, ceramah keagamaan kadang dijadikan sebagai tempat untuk melarikan diri konteks kehidupan nyata. Hal-hal tersebut membuat peserta atau pendengarnya terlena dan tergoda untuk melarikan diri dari konteks kehidupan nyata. Sebagai akibatnya, muncullah dua macam ekstrem yang keduanya sama-sama mengandung kerawanan psikologis dan sosial.

Di satu pihak, orang memusuhi secara membabi buta orang lain yang dianggap tidak sama dengan kelompok mereka. Ingin menjadikan semua orang dan seluruh dunia menjadi sama dengan mereka. Baik cara berpakaian, sampai mencukur rambutnya. Sementara itu, di pihak lain, muncul kelompok asketis, penyendiri yang menjauhkan diri dari dunia dan membuat kelompok eksklusif. Ujung-ujungnya, kedua kelompok tersebut ingin membuat surga di dunia sesuai dengan ideologi mereka.

Dengan demikian, permusuhan antar kelompok kemasyarakatan dan keagamaan muncul akibat pengalaman kehilangan dan kedukaan.(orangtua idaman)

error: Content is protected !!