MARMUT IMUT IDOLA PEHOBI

ORANGTUA IDAMAN – Memelihara binatang eksotik memang mengasyikkan. Selain sebagai hobi, jika benar-benar ditekuni, juga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi.

Salah satu buktinya adalah yang dilakukan Teguh Raharjo, hobiis yang juga breeder marmut hias, yang berdomisili di Muntuk, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Sejak remaja, pria yang kini berprofesi sebagai guru SD itu senang memelihara marmut. Namun awalnya bukan jenis hias, melainkan lokal. Mulai beralih ke marmut hias sejak dua tahun lalu, setelah diperkenalkan oleh salah seorang teman bernama Eko Setyo asal Semarang yang memang terlebih dahulu dikenal sebagai peternak marmut jenis ini.

Marmut hias, menurut pengakuannya, jauh lebih menarik dan  prospektif  dibanding yang lokal. Selain performance-nya lebih unik, juga penggemarnya eksklusif. “Perawatan dan pemeliharaannya hampir sama dengan yang lokal, tapi menjualnya jauh lebih mudah yang jenis hias. Harganya pun jauh lebih tinggi dibanding marmut lokal,” ungkap Teguh.

Aneka Varian
Marmut hias juga sering disebut sebagai guinea pig atau marmut impor. Disebut marmut impor  karena binatang tersebut bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari luar negeri. Ada yang dari Amerika, Peru, Brazil, dll. Ada puluhan jenis marmut impor yang saat ini dibudidayakan di Indonesia. Berasal dari berbagai negara. Ada jenis bulu panjang dan ada juga yang bulu pendek. Ada sebagian diberi nama berdasarkan asal usulnya. Seperti  american (berasal dari Amerika), peruvian (dari Peru), dan abesinian (dari Abesinia). Ada juga sebutan berdasarkan karakter bulunya. Seperti silky, skinny, dan teddy.  

Teguh memeiliki beberapa jenis marmut berbulu pendek diantaranya ada american, abisinian, teddy. Sedangkan yang berbulu panjang, ada peruvian, silky, coronet,dan alpaka,.  Untuk merawat  piaraan itu,

Tiap jenis punya ciri fisik tersendiri, terutama pada bulu. Misalnya, teddy, disebut demikian karena marmut ini memiliki bulu pendek halus menyerupai bulu beruang teddy. Kemudian skinny, marmut ini punya ciri minim bulu, bahkan bisa dibilang tanpa bulu. Ada lagi alpaka yang memiliki bulu panjang keriting. Silky, berbulu panjang lurus dan lembut mirip benang sutra. Abesinian, bulunya pendek dan berbalik-balik mirip bulu ayam walik.

Potensi Bisnis
Di Yogyakarta dan Jawa Tengah sendiri, piaraan jenis ini memang belum banyak dikenal luas. Jumlah penggemarnya juga belum sebanyak kelinci atau kucing. Hanya beberapa gelintir orang, termasuk Teguh, yang membudidayakan. “Mungkin ada beberapa orang penggemar, tapi belum sebagai pembudidaya. Jadi masih sebagai piaraan untuk hobi saja,” kata Teguh.

Berbeda dengan marmut lokal yang cenderung liar dan acapkali menggigit jika dipegang, kharakter marmut impor lebih jinak dan tidak mau menggigit. Kelebihan lainnya adalah tidak mengandunghal-hal yang najis, tidak menyebarkan racun sehingga aman bagi anak-anak, pemeliharaannya mudah dan pakannya murah, karena makanan utamanya rumput. “Marmut jenis ini juga hidup secara koloni, sehingga gampang cara irit kandang,” lanjut teguh.

Harga marmut hias variatif, tergantung dari jenisnya. Secara umum per ekornya mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 500.000. Harga untuk yang betina lebih mahal dibanding pejantan. Selisihnya sekitar 20 persen. Itu karena betina banyak dibutuhkan untuk peranakan. “Ada beberapa jenis yang dianggap ‘langka’ alias jumlahnya sedikit, yang harganya sampai lima jutaan per ekor untuk usia remaja. Yaitu jenis teddy, skinny dan alpaka.

Dari sekadar hobi, kini Teguh juga menangkar untuk dijual. Pemasaran yang dilakukan selama ini melalui internet. Setiap bulannya dia mampu menjual sekitar 40 ekor. Konsumennya kebanyakan dari luar kota dan bahkan luar Jawa, termasuk  beberapa kota Papua, Sulawesi dan Kalimantan. Selain itu, beberapa kali bersama breeder lain, juga menjual ke luar negeri, diantaranya ke Malaysia, Singapura dan Brunei.

Perawatan
Merawat marmut hias tidaklah sulit. Yang paling penting ketersediaan makanan cukup dan kandang yang memenuhi syarat. Selain diberi rumput juga sebagai makanan utama, perlu juga ditambah diberi pelet dan polar sebagai makanan tambahan. Minuman sebaiknya dari air matang. Syukur-syukur ditambah vit C untuk menjaga stamina tubuh.  Pemberian suplemen penting terutama untuk betina yang  sedang hamil.

Perawatan lainnya adalah memandikan. Harus dilakukan rutin sebulan sekali. Untuk jenis bulu panjang, bisa lebih sering, duapuluh hari sekali. Menggunakan shampo seperti yang biasa digunakan untuk memandikan kucing atau anjing. Hal ini selain untuk menjaga kualitas bulu, juga agar kulit tidak mudah terserang kutu dan jamur.

Hal lain yang perlu diperhatikan, adalah penempatan pejantan. Meskipun marmut ini hidup secara koloni, sebaiknya setiap satu kandang hanya ditempatkan satu pejantan. Sebab kalau lebih dari satu pejantan, bisa tarung berebut betina. “Betina boleh beberapa, tapi pejantan sebaiknya satu ekor setiap kandang,” lanjutnya.

Kandang sebaiknya terbuat dari bambu atau kayu. Kayu atau bambu selain tidak karatan juga ramah terhadap tubuh marmut. Bagian alas kandang sebaiknya dibuat hakus agar tidak mudah melukai kaki. Penempatan kandang sebaiknya di ruangan yang kering dengan ventilasi udara yang luas dan cahaya matahari yang cukup. Kandang yang lembab dan basah mudah memicu berkembangnya jamur.

“Selama saya memelihara belum pernah ada penyakit serius yang menyebabkan kematian, kecuali diserang anjing atau kucing liar,”ujarnya.  Memang ada penyakit yang biasa scabies dan kembung. Tapi kalau kandangnya bersih dan kering, penyakit tersebut tidak akan menjangkiti. Ada juga penyakit kaki bengkak, itu juga karena disebabkan alas kandang yang kasar.  

Marmut jenis ini beranak setiap 72 hari sekali. Dengan jumlah anakan 1-6 ekor setiap satu ekor betina. Usia anakan yang layak dijual adalah minimal umur 6 minggu. Yang perlu diperhatikan dalam hal breeding adalah, saat indukan betina hamil tua hingga melahirkan, harus ditempatkan di kandang terpisah dengan yang lainnya, agar proses kelahiran dan kelangsungan hidup anakan tidak terganggu oleh yang lain.

Pamali
Di kalangan peternak, ada semacam pamali bagi para breeder untuk tidak meng-upload situasi kandang. Karena para konsumen sangat sensitif dan care terhadap asal muasal piaraannya. Bahkan mereka, para konsumen, menempatan piaraannya di kandang yang bagian alasnya dilapis kain halus sebagai wujud perawatan yang luar biasa. Nah, dikhawatirkan jika kondisi kandang yang di-upload tidak sesuai dengan selera mereka, maka mereka akan melakukan penolakan atau membatalkan pesanan. “Beberapa teman pernah mengalami itu,” jelas Teguh. (orangtuaidaman.com)

error: Content is protected !!