MENU PENDONGKRAK KEINDAHAN SUARA PELUNG

ORANGTUA IDAMAN – Kualitas ayam pelung tak hanya pada keindahan postur, tetapi terutama pada keindahan suaranya. Punya kualitas suara prima, apabila mampu berkokok lama dan memiliki variasi ‘liukan’ suara yang variatif.

“Ada tiga kriteria penilaian dalam lomba atau kontes pelung. Yaitu irama, dasar suara, dan keserasian,” jelas Agus Mardiyanto, hobiis dan breeder pelung yang tinggal di Kwarasan, Palbapang, Bantul, Yogyakarta.

Potensi suara bagus, menurut Agus, memang terutama berasal dari trah atau silsilah tetuanya. Artinya, potensi suara bagus itu diturunkan dari indukan yang memiliki gen suara bagus. “Seperti manusia, orang tua yang memiliki bakat tertentu otomatis anak-anaknya juga akan menuruni potensi bakat itu,” lanjut Agus.

Namun, potensi genetika suara bagus itu tidak akan berarti apa-apa atau tidak akan terwujud secara maksimal, tanpa ada dukungan dari beberapa faktor penunjang. Dalam hal kualitas suara pelung, dukungan itu bisa berupa perawatan dan latihan. Perawatan khusus untuk memaksimalkan potensi suara pelung, antara lain bisa dilakukan dengan pemberian makanan dan suplemen yang cukup.

Suplemen Herbal
Menu pakan seperti apa yang baik agar ‘nyanyian’ pelung merdu? Selain memberikan makanan pokok seperti campuran bekatul, nasi, dan biji-bijian, juga perlu menu tambahan berupa buah-buahan terutama pisang kepok. Agar memiliki vibrasi suara yang landhung (tidak tersendat), sekali waktu juga diberi suplemen herbal berupa ramuan kecur dan kunir. “Caranya ditumbuk halus, lalu dicampur air, kemudian diperas. Perasan yang berbentuk cair itu diminumkan,” jelas Agus.

Selain itu, perlu juga ditambah dengan suplemen stamina dan perangsang kokok. Untuk yang ini Agus biasa menggunakan daging nila dan belut. Caranya, daging tersebut dipotong kecil-kecil dalam keadaan mentah, lalu dicampurkan ke makanan. Suplemen jenis ini diberikan seminggu dua kali selama sebulan sebelum kontes. “Untuk memenuhi kebutuhan daging nila, saya sampai membuat kolam nila sendiri,” katanya.

Agus menambahkan, apabila mendapati pelung bersuara serak atau ngorok, bisa dipulihkan dengan memberikan makanan herbal berupa ‘daging’ lidah buaya yang bisa juga dicampur dengan tahu halus. Caranya, lidah buaya dikupas, diambil dagingnya, dipotong kecil-kecil, kemudian disuapkan. Herbal ini bermanfaat sebagai peluruh dahak. Jika sering diberikan, selain akan menyehatkan dan mengilapkan bulu-bulu pelung, juga dapat mencegah penyakit pilek atau gerok. “Saat musim panas ekstrem seperti saat ini, suplemen ini penting diberikan agar piaraan tak mudah terserang penyakit akibat cuaca,” lanjut Agus.

Melatih Insting
Selain pemberian makanan dan suplemen, kualitas suara ayam pelung juga bisa dimaksimalkan melalui latihan. Caranya, dengan sering diikutsertakan dalam latihan bersama. Dengan sering berkumpul bersama ayam pelung lain, akan merangsang insting  untuk berkokok.

Hal yang tak kalah penting adalah perawatan penunjang performa fisik, dengan cara rutin dimandikan dan dijemur. Agus mengaku rutin memandikan piaraannya sehari sekali pada pagi hari. Setelah itu kemudian menjemurnya selama sekitar satu jam.

Kesungguhan merawat pelung dengan kreasi jenis makanan ini, tak sia-sia. Beberapa kali pelung remajanya menyabet juara dalam kontes. Terakhir kontes di Bantul pada Januari 2013 lalu, pelung miliknya menggondol juara favorit.

“Cuma biasanya kalau habis kontes, ayam saya langsung laku. Sehingga saya nggak sempat nyimpan pelung juara. Tak sedikit pembeli anakan yang mengabari saya bahwa anakan dari saya itu di kemudian menjadi juara di suatu lomba,” jelas Agus.

Breeding Berawal dari Hobi
Agus mulai memelihara pelung sejak lima tahun lalu. Dari sekadar hobi, lama-lama tertarik breeding sendiri. Pelung pertamanya dia datangkan dari seorang temannya di Cianjur, Jawa Barat. Mula-mula hanya dua pasang, lambat laun beranak pinak menjadi puluhan ekor.

“Begitu berkembangbiak, awalnya saya kebingungan. Mau dipelihara terus, boros di pakan, dijual juga tidak tahu kemana menjualnya. Untunglah kemudian saya berkenalan dengan para penghobi lain. Dari situ, anakan pelung milik saya kemudian banyak yang dibeli oleh para kenalan baru sesama penghobi,” kisahnya.

Jual beli antar-sesama penghobi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal minatnya pada pengembangbiakan (breeding). Malah kemudian, dia menambah jumlah indukannya menjadi empat pasang. Seiring dengan itu, Agus juga memanfaatkan media internet untuk mempromosikan hasil breeding-nya. Hasilnya lumayan, selain  namanya dikenal sebagai breeder pelung, para peminat dari luar kota mulai berdatangan.

Lantaran menggeluti ayam pelung itulah, warga Yogya dan sekitarnya lebih mengenal Agus Mardiyanto sebagai Agus Pelung. Di kalangan para penggemar ayam pelung, nama Agus Pelung jauh lebih populer daripada nama Senopati Farm-nya.

error: Content is protected !!