NASIB TRAGIS PERTANIAN ORGANIS

ORANGTUA IDAMAN – Dalam upaya mewujudkan kearifan terhadap lingkungan, Pertanian Organis banyak dilirik orang.  Namun patut disayangkan bahwa masih banyak orang belum bisa tepat memahaminya.  Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam filosofi Pertanian Organis sering terabaikan.  

Kini telah tiba waktunya kita harus memperluas cakrawala pandang tentang pertanian organis. Kita senantiasa dituntut bersikap kritis sekaligus selalu terbuka untuk belajar dalam praktek Pertanian Organis. Bahkan kita harus rela belajar cara hidup organis petani desa yang selama ini sering dipandang sebagai simbol kemiskinan dan ketertinggalan.

Kapitalis menjelma sebagai organis                 
Produk pertanian organis tentu sudah tidak asing lagi bagi warga masyarakat kota. Seiring dengan semakin santernya pemberitaan tentang pencemaran lingkungan, minat orang mengkonsumsi produk pertanian organispun kian meningkat. Orang semakin kritis terhadap produk industri modern yang diolah menggunakan bahan kimia.               

Di bidang pangan orang semakin berhati-hati memilih bahan pangan yang akan mereka makan.  Dalam hal ini banyak alternatif yang mereka pilih dengan cara menyantap produk pertanian organis.  Dengan menyantap produk pertanian organis, mereka beranggapan bahwa pilihan tersebut adalah cara menuju hidup sehat.   Indikasi semakin meluasnya kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap makanan sehat lewat produk pertanian organis khususnya di wilayah perkotaan semakin menguat.  Perkembangan ini semestinya patut kita syukuri. 

Dunia bisnis beserta para pelaku bisnis yang memiliki kepekaan indera untuk mengendus munculnya suatu peluang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.  Boleh dikata pelaku bisnis telah mulai menggarap sektor pertanian organis mulai dari bagian hilir hingga ke hulu. 

Meski masih dengan sikap keberhati-hatian yang cukup tinggi dalam berinvestasi semakin banyak saja investor memasuki ladang bisnis ini.

Perkembangan menggembirakan itu pantas kita sambut.  Seiring dengan dinamika tersebut, serangkaian pertanyaan kritis perlu kita jawab.  Akankah praksis Dunia Bisnis yang banyak tunduk pada dalil-dalil Ekonomi dan Pasar bisa berjalan seiring dengan prinsip-prinsip Ekologi?  Dunia Bisnis berangkat dari prinsip “pertumbuhan dan akumulasi”, sedangkan Ekologi tidak bisa dipisahkan dari prinsip “Keseimbangan”.  

Untuk menjawab pertanyaan awal ini saja bukan perkara yang gampang.  Ketika produk pertanian organis mulai banyak dikonsumsi orang, tidak kita sadari “label organik” telah menjadi komoditas.  Ada kecenderungan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat,  produk pertanian organis dibudidayakan secara massal, efisien dalam proses sekaligus bertampilan fisik memikat. Kalau sudah demikian “label organis” tinggallah sebuah label yang tidak lagi bermakna.  Yang terjadi adalah pengelabuhan konsumen atas nama “label organis”

Revolusi Hijau Jilid 2 
Dalam memenuhi kebutuhan saprotan (sarana produksi pertanian) kini tidak jarang kita jumpai produk berlabel organik.  Padahal saprotan tersebut jelas-jelas zat pembunuh (dalam ilmu kimia, senyawa yang memiliki cincin unsur karbon termasuk golongan senyawa organik).  Semisal pestisida Endrin, Furadan, Sevin, Malation dan Dinex. Disamping itu, banyak perusahan berorientasi provit turut berlomba-lomba menggelar pelatihan dan kursus bertema pertanian organis.  

Apabila berbagai fenomena yang menunjukkan semakin bergairahnya bisnis pertanian organis tersebut terus dibiarkan tanpa kendali, niscaya akan timbul berbagai dampak negatif. 

Pertama, Pertanian Organis tidak mustahil bakal menjadi Revolusi Hijau Jilid II.  Kendatipun dalam skala lebih kecil.  Pertanian Organik akan dikuasai oleh segelintir pebisnis bermodal kuat yang saling sikut berebut label organik.  Proses perlahan namun pasti ini akan membawa Pertanian Organik menjadi alat pengeruk keuntungan yang mengabdi kepada kepentingan pemilik modal kuat.Dengan demikian bisa diramalkan bahwa eksploitasi sumber daya alam secara “habis-habisan”akan terus berlanjut.   

Kedua, nasib petani “gurem” yang nota bene merupakan mayoritas petani di negeri ini akan tetap gigit jari.  Mereka tetap menjadi budak-budak pelaksana tanpa daya dalam usaha tani yang mereka lakukan. 

Ketiga, Pertanian Organik akan semakin jauh dari semangat filosofi yang mendasarinya.  Pertanian Organik bukan sekedar berbicara soal teknis pengolahan lahan, bukan sekedar soal penganekaragaman tanaman dan pemuliaan bibit, bukan sekedar antipupuk kimiawi, penggunaan pestisida dan demo beramai-ramai menentang “penjajahan terselubung” di sektor pertanian. 

Semangat falsafah “Organis” tidak semata-mata berlaku di dunia pertanian saja.  Ajaran Organis bisa diterapkan di setiap aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya maupun politik.  Dengan demikian konsep Pertanian Organis sesungguhnya hanyalah “pemicu awal” terselenggaranya tatanan kehidupan organis yang bermuara pada keselamatan dan kelestarian alam semesta. 

Pilihan terhadap gerakan pertanian organis merupakan salah satu langkah taktis menerobos kekalahan demi kekalahan para petani sampai saat ini.  Usaha memajukan gerakan ini jelas tidak akan semulus yang kita duga.  Dari sisi kajian dan perhitungan di atas meja, pertanian organis jelas memberikan keuntungan strategik dalam semua aspek (perekonomian rakyat, pelestarian lingkungan, konservasi sumber daya alam).  Dengan demikian logika normal akan mengatakan bahwa dukungan secara tulus terhadap gerakan ini wajib kita lakukan.  Dalam hal ini teristimewa faktor-faktor kebijakan umum dan sosio politik sangat menentukan arah pengembangan sistem pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi (Notohadiprawiro, 1992)

Pesan luhur Organis bisa gambarkan sebagai kesatuan tubuh manusia yang organis.  Dalam bahasa dan ungkapan yang sederhana bisa katakan bahwa setiap bagian tubuh akan berfungsi dengan baik apabila rela melayani bagian tubuh lain.  Hal ini berproses secara timbal balik.  Kehancuran dan bahkan ajal akan dituai jika kesatuan tubuh yang organis itu tidak kompak dan enggan saling melayani. 

Pertanian Organis  bisa digambarkan secara sederhana.  Ketika perut merasa lapar, tangan wajib memberikan makan lewat mulut.  Mulut akan menerima rasa nikmat dari santapan.  Namun setelah itu mulut wajib meneruskan dan memberikan rasa kenyang kepada perut.  Perut dengan seluruh organ yang dimilikinya wajib memproses makanan tersebut menjadi sumber enerji seluruh tubuh, termasuk di dalamnya untuk tangan.  Dengan demikian tangan bisa melaksanakan tugasnya lagi.  

Itulah Organis!  (orangtuaidaman.com)

error: Content is protected !!