KONSUMSI KOLABORATIF SMART FOOD CITY: MERAJUT JARING-JARING PANGAN KOTA DAN DESA

ORANGTUA IDAMAN – Problem sampah menjadi bukti usaha tani dan roda ekonomi tidak selaras dengan alam. Sampah makanan adalah sumber daya yang harus dikembalikan kepada petani.

Ekosistem mantap dan matang bisa diadopsi menjadi konsep pembangun Smart Food City. Merajut jaring-jaring makanan melalui sistem konsumsi kolaboratif.

Usaha tani merupakam agroekosistem unik. Berupa kombinasi sumber daya fisik dan biologis. Di antaranya yaitu bentuk lahan, tanah, air, tumbuhan dan hewan.

Agar produksi tetap lestari, petani butuh input dalam dan input luar. Input dalam yaitu sumber daya yang berasal dari dalam usaha tani itu sendiri. Contohnya energi matahari, air hujan, sedimen, nitrogen dari udara, atau dari pupuk alami, pakan ternak, sisa tanaman, dan tenaga kerja keluarga.

Sementara itu, input luar yaitu sumber daya dari luar. Misalnya bahan bakar, tenaga buruh, pupuk buatan, pestisida, benih unggul, dan alat mesin.

Aliran barang dan jasa (ditunjukkan oleh anak panah) dalam suatu sistem usaha tani sederhana (Sumber: Coen Reijntjes, Pertanian Masa Depan)

Agroekosistem itu bersifat holistik. Mencakup segala elemen dan manusia di dalamnya. Jalur distribusi pangan dari hilir ke hulu sejatinya adalah rantai makanan.

Memetik hasil panen tak lain adalah proses menguras biomassa lahan pertanian. Agar tetap subur, pemupukan wajib dilakukan. Hara yang dikuras dalam bentuk biomassa harus diganti.

Keseimbangan dan kelestarian agroekosistem terwujud jika penyimpanan unsur hara berlangsung seimbang. Dengan kata lain, hilangnya unsur hara senantiasa diganti secara memadai.

Sampah Makanan adalah kesuburan tanah yang harus dikembalikan ke lahan pertanian (Kredit Foto: Teguh Jiwa Brata)

Usaha tani dan tata niaga seyogyanya diselaraskan dengan jaring-jaring makanan dalam ekosistem.

Problem sampah adalah bukti usaha tani dan kegiatan ekonomi tidak selaras dengan alam. Mata rantai kegiatan konsumsi manusia disekat dan terputus dengan jaring-jaring makanan dalam ekosistem.

Diperlukan lembaga dan kebijakan di semua tingkat, untuk menjamin pembangunan sektor pangan yang lestari. Bandung Smart Food City seharusnya bisa mengambil peran itu.

Tulisan ini menyodorkan inovasi model simbiosis mutualisme antara desa dengan kota. Merajut kembali jaring-jaring makanan masyarakat kota dan desa yang selama ini terputus.

Eksploitasi Biomassa di Desa
Fakta di lapangan membuktikan banyak lahan pertanian miskin bahan organik. Petani lebih suka memilih pupuk sintetis anorganik. Padahal, pupuk sintetis anorganik itu bagai candu. Hasilnya cepat, terasa nikmat namun tak disadari merusak sendi-sendi kehidupan.

Pentingnya Kehidupan Tanah (Kredit Foto: Teguh Jiwa Brata)

Ketika petani menganggap pupuk kandang tak penting, unsur hara akan diganti bahan kimia. Akibatnya, tanah menjadi miskin bahan organik dan unsur hara penyangga. Rentan kekeringan dan mudah terjangkit hama penyakit. Produktivitas dan kestabilan sistem pertanian pun anjlok.

Sementara itu, orang kota justru menggantungkan diri kepada isi lumbung orang desa. Sehingga sumber daya tanah di desa kian diperah. Seperti dikutip dari https://smartcity.bandung.go.id, sebanyak 90% stok pangan penduduk Bandung berasal dari luar daerah.

Sumber: bandungresik.com

Situs tersebut memaparkan data DLHK, mengungkap sampah di Bandung berjibun 1.477 ton perhari. Kira-kira 63 persen atau 930 ton sampah itu adalah sampah organik. Sebagian besar diantaranya yaitu sampah makanan.

Ini lah bukti terjagalnya rantai makanan manusia dengan jaring-jaring makanan ekosistem alam.

Diversifikasi Potensi Sampah

Selama ini, pemanfaatan sampah organik masih sebatas sebagai bahan baku pupuk organik. Padahal benda itu bisa diberdayakan menjadi banyak produk bernilai tinggi. Kandungan nutrisinya pun bermacam-macam. Keanekaragaman nutrisi dalam sampah menyajikan segudang manfaat. Melalui pemberdayaan sampah idealisme bebas sampah manakan diharapkan bisa diwujudkan.

1. Potensi Pakan Ternak
Sekitar 80% biaya produksi di bidang perikanan dan peternakan dialokasikan untuk pakan. Sama seperti harga pupuk yang kerap melonjak, petani ikan dan peternak pun rentan terhadap fluktuasi harga pakan.

Inovasi dan sentuhan bioteknologi pemanfaatan sampah makanan berpeluang besar menyediakan pakan alternatif. Sehingga petani dapat menekan biaya produksi.

Pemisahan dan pengkategorian sampah seharusnya dilakukan lebih terperinci. Khususnya sampah organik, dapat dikategorikan menjadi sampah protein hewani. Misalnya sisa daging, sisa sosis, bakso, tulang, ikan, kulit telur, dan sisa telur.

Sampah protein nabati, misalnya kacang-kacangan, tahu, tempe, dan ampas kelapa. Sedangkan contoh sampah sayur, yaitu beraneka jenis sayur. Sampah karbohidrat diantaranya yaitu nasi, roti, dan makanan dari umbi-umbian.

Sampah organik yang banyak mengandung selulosa sulit dicerna ternak. Sehingga tidak efisien jika dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuat pakan ternak. Namun bukan berarti tak termanfaatkan. Sampah kaya selulosa bisa diberdayakan sebagai bahan peracik pupuk organik.

Pilah-pilih Sampah Makanan (Kredit Foto: Teguh Jiwa Brata)

Setelah pilah-pilih sampah organik beres, proses berikutnya yaitu pengolahan. Cara yang paling gampang yaitu dikeringkan, diubah menjadi tepung. Tepung daging, tepung ikan, tepung sosis banyak diminati oleh petani ikan dan unggas utamanya bebek.

Demikian pula dengan tepung ampas kelapa, tepung tahu dan tempe juga kerap dincar peternak unggas, kambing, sapi, dan ikan.

Tepung nasi, roti, dan umbi-umbian bisa diolah menjadi bahan baku pakan pemenuh kebutuhan karbohidrat ternak.

Pemanfaatan sisa nasi dan limbah tahu telah dilakukan oleh penulis sebagai sumber pakan alternatif ayam kampung dan ikan lele. Cara ini efektif menekan biaya pakan. Namun tetap menghasilkan panen maksimal. Harga eceran pakan ayam saat ini mencapai Rp10.000 per kg, sedangkan harga nasi aking (sampah nasi) berkisar antara Rp3.500 – Rp4.000 per kg.

Pemanfaatan sampah nasi (nasi aking) untuk pakan ternak bisa menekan biaya pakan hingga 50% (Kredit Foto: Teguh Jiwa Brata)

Sampah makanan kategori sayur dan protein nabati dapat diolah menjadi bahan peracik pakan ruminansia. Contoh inovasi olahan sampah itu yakni wafer, burger, silase, dan ragam pakan fermentasi lainnya. Pakan inovatif ini memiliki nilai cerna lebih baik dibandingkan pakan yang belum diolah. Keunggulan yang lain yaitu punya daya simpan hingga 6 bulan.

Limbah makanan dari sayuran bisa diolah menjadi wafer. Cara membuatnya seperti ini, bahannya terdiri dari 40% sayuran daun, 10% sayur kacang-kacangan (leguminosa), 40 % konsentrat, plus bahan perekat 10%.

Wafer pakan ternak

Konsentrat diracik dengan bahan 27,50% bekatul, 52,50% bekatul, 18,75% bungkil kelapa, serta garam krosok sebanyak 1,25%.

Sampah sayur dan bahan lain dicincang menjadi berukuran 3-5 cm. Kemudian, cacahan itu dikeringkan. Dicampur perekat atau molase. Adonan yang sudah homogen dicetak, lantas dibiarkan selama 24 jam pada suhu kamar.

2. Pupuk Hayati dan Probiotik
Sampah sebenarnya juga bisa diolah menjadi bahan biakan bakteri atau mikroorganisme yang bermanfaat. Salahsatunya sebagai pupuk hayati, dan probiotik pakan ternak.

Pupuk hayati berbeda dengan pupuk organik. Pupuk hayati adalah biakan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Contohnya yaitu Bacillus sp.

Biakan Bakteri Bacillus sp. (Kredit Foto: Teguh Jiwa Brata)

Sampah makanan juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan peracik probiotik. Minuman sehat ini berkhasiat memperbaiki pencernaan ternak. Sehingga nutrisi pakan bisa diserap secara maksimal.

Ragam sampah makanan yang bisa diracik menjadi probiotik yaitu: semua jenis buah-buahan, kecap, minuman sari buah, susu, air kelapa dan yoghurt yang sudah kedaluwarsa.

Cara membuatnya demikian: awalnya diracik dulu biakan bakteri bermanfaat dengan jalan mencampur ingesta rumen domba atau sapi sebanyak 500 gram dengan 15 liter limbah air kelapa dari pasar. Aduk sampai rata, lalu disimpan dalam drum. Tutup rapat agar bakteri bekerja secara anaerob.

Simpan ramuan itu di tempat teduh. Proses fermentasi ini selesai ketika ramuan di dalamnya beraroma harum.

Selanjutnya, probiotik diramu dengan cara membuat sari buah-buahan yang akan membusuk sebanyak 1,5 liter, 2 liter air kelapa, 2 liter air cucian beras, 0,5 liter air tebu, dan 1 liter air gula merah. Bahan-bahan itu dicampur sampai rata. Ditambah 5 tutup botol biakan bakteri yang tadi sudah dibuat. Ramuan itu dibiarkan selama 1 minggu.

Di pasar, probiotik pabrikan dibanderol seharga Rp20.000 – 25.000. Nah, berkat probiotik buatan sendiri dari sampah makanan, peternak bisa lebih irit biaya produksi.

Ketika sampah makanan diberdayakan menjadi sarana produksi, lantas apakah produk-produk itu kemudian dikomersialkan kepada petani?

Tidak! Tulisan ini tak menyuguhkan ide menghisap dompet petani. Melainkan mendorong sinergi bersama mereka. Menciptakan pangan murah bagi seluruh masyarakat.

Konsumsi Kolaboratif Smart Food City

Kota dan desa seharusnya saling bermitra. Lantas jejaring mutualisme seperti apa yang bisa dibentuk?

Perkawinan antara Smart Food City dengan sistem konsumsi kolaboratif dapat membentuk jalinan mutualisme antara petani di desa dengan masyarakat kota. Sinergi ini tak bisa diukur hanya sekadar sebagai hubungan jual-beli. Melainkan hubungan kehidupan yang saling melengkapi dan tergantung. Mirip seperti relasi antara mahluk hidup dalam ekosistem.

Teknilogi Informasi dan telekomunikasi mendukung jaring-jaring makanan orang kota dengan orang desa. (Kredit Foto: Freepik.com)

Konsumsi kolaboratif yaitu model ekonomi berdasarkan pembagian, penjualan, pertukaran, peminjaman, pemberian terhadap suatu produk.

Penerapan sistem ini berpotensi melibatkan dan membuka peluang bagi banyak orang.

Melalui sistem Konsumsi Kolaboratif Smart Food City, masyarakat bisa mengumpulkan sampah makanan lalu dipisah-pisahkan berdasarkan kategori dan menukarnya dengan produk pangan secara langsung kepada petani, atau menjualnya dengan hasil e-money yang disimpan berupa saldo. Sewaktu-waktu, saldo itu bisa digunakan untuk membeli produk pangan / pertanian.

Masyarakat juga bisa mengolah terlebih dahulu sampah makanan menjadi produk pakan ternak, probiotik, pupuk hayati, pupuk organik atau sarana produksi yang lainnya. Dengan demikian nilai tukarnya menjadi lebih tinggi.

Sebagai sebuah lembaga, Bandung Smart Food City berperan merajut jalinan hubungan antara petani binaan dengan penyedia sarana produksi hasil olahan sampah makanan. Sehingga terbentuk kerjasama kemitraan. Peran teknologi informasi penting sebagai penghubung seluruh elemen kemitraan.

Bentuk kerjasamanya mirip seperti kemitraan yang dilakukan oleh peternak ayam dengan penyedia pakan dan obat-obatan. Peternak menjual ayam kepada penyedia pakan dan obat-obatan dengan harga yang disepakati – biasanya lebih rendah dari harga pasar. Sebagai imbalannya, peternak menerima suplai pakan dan obat-obatan.

Sistem Konsumsi Kolaboratif Smart Food City memangkas matarantai transaksi. Sebab, teknologi informasi menghubungkan secara langsung antara produsen dengan konsumen. Sehingga harga yang tercipta menjadi lebih murah.

Bentuk simbiosis mutualisme lain yang dapat terjalin dalam sistem ini yaitu pertukaran sumber daya dan keahlian. Dimungkinkan terselenggara landshare. Petani dan pemilik tanah saling bertemu. Kemudian mereka menjalin kerjasama.

Pemilik lahan yang tak mampu becocok tanam dapat mencari pekebun untuk melakukannya. Sebagai imbalan, pemilik lahan menerima bagi hasil dari petani.

Satu per satu simbiosis mutualisme yang lain segera terbentuk. Semua berhimpun di bawah naungan berkah dari sampah. Kian lama kian kompleks. Hingga suatu saat mencapai tahap klimaks.

Terciptalah jaring-jaring makanan desa-kota yang mantap dan lestari. (orangtuaidaman.com)

error: Content is protected !!