KETIKA HUKUMAN TAK EFEKTIF BAGI ANAK BERPERILAKU MENYIMPANG, LANTAS HARUS BAGAIMANA?

ORANGTUA IDAMAN – Bunda, kehidupan emosional anak itu dibentuk dari keluarga. Dari sinilah (keluarga) anak dibekali kecakapan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan besrta orang-orang di sekitarnya.

Karakter yang tersirat dalam diri anak mencerminkan kondisi sosial keluarga dan masyarakat di sekitar anak.

Berbagai pengalaman yang membentuk kepribadian anak. Diantaranya yaitu: budaya literasi atau kegemaran membaca, kebiasaan memecahkan masalah, suri teladan, otoritas disipilin yang dipraktikkan di dalam keluarga, manajemen atau pengelolaan konflik rumah tangga, kecakapan memilih perilaku, serta perhatian dan pujian yang rutin diperoleh anak.

Tak sedikit anak hidup dalam keseharian diwarnai nada bicara keras, bentakan, teriakan histeris, cemoohan, budaya menyalahkan, dan orangtua yang acuh.

Lahir Akibat Ketidakpedulian
Susi, seorang puteri yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang tak mendukung. Ayah dan Ibunya bercerai ketika ia masih kecil.

Kini, Susi diasuh oleh sang ayah yang berprofesi sebagai pengusaha kayu. Dari segi ekonomi, Susi tergolong anak yang berkecukupan.

Kesibukan sang ayah mengelola bisnis kayu membuat keduanya jarang berinteraksi dan berkomunikasi. Hal ini dibuktikan dengan ketidak pedulian ayahnya saat Susi menemukan kesulitan mengerjakan tugas sekolah.

Sikap acuh orangtuanya itu kerap mengecewakan Susi. Lantas apa akibatnya?

Di sekolah, Susi menjadi anak pendiam. Ia cenderung menghindari segala bentuk aktifitas yang berbau pelajaran dan sekolah.

Kecenderungan ini membuatnya tak disenangi kawan-kawan sekolah. Susi pun hanya berkawan dengan anak-anak yang tak serius bersekolah. Memilih teman yang hanya bersenang-senang saja.

Sikap yang dicetak akibat pengelaman keluarga itu kemudian menjadi bekalnya memasuki lingkungan lebih luas.

Kini Susi terjebak dalam pergaulan bebas. Ia rutin pulang larut malam. Bergaul dengan kawan-kawan laki-laki. Riskan terjerat seks bebas.

Bekal pengalaman dari keluarga tersebut kemudian di bawa ke sekolah atau ke dalam masyarakat. Sehingga muncul benturan nilai yang berdampak sebagai perilaku destruktif.

Teguran, nasihat dan hukuman sering justru memperparah kondisi keterpurukan anak berperilaku menyimpang. Sebab mereka merasa dipojokkan dan diperlakukan tidak adil.

Lantas rekasi yang akan segera muncul yaitu penolakan. Perlawanan dalam bentuk kemarahan spontan, namun bisa juga kemarahan terpendam.

Kemarahan spontan diwujudkan sebagai bantahan, umpatan, sumpah serapah, serta berbagai kata-kata kasar lain. Ekspresi lain kemarahan spontan yaitu perlakuan fisik.

Sementara itu, kemarahan terpendam tercermin dari bahasa tubuh. Misalnya, cemberut, dan menangis.

Bagi anak tersebut, teguran, nasihat, dan hukuman diterima sebagai sesuatu yang negatif. Ia merasa disisihkan dan diperlakukan berbeda dengan kawan-kawannya. Hal ini dapat mengakibatkan sikap antipati terhadap orang-orang di sekitarnya.

Perilaku anak menyimpang acap kali memancing emosi orangtua maupun guru. Padahal, tindakan dan hukuman emosional seperti itu justru dapat memperparah keadaan.

Bentakan dan hukuman fisik hanya menimbulkan reaksi negatif yang semakin memperburuk kondisi. Anak justru berpotensi mengulang perbuatan tak terpuji dengan cara lebih brutal. Sebagai bentuk pelampiasan rasa tidak senangnya.

Pendekatan kasih sayang jauh lebih dibutuhkan daripada teguran dan hukuman. Mereka sesungguhnya adalah anak-anak haus perhatian dan kasih sayang.

Membangun rasa nyaman bagi anak yang bersangkutan adalah cara yang bijak. Rasa nyaman membuat anak menjadi mudah dikendalikan.

Selain itu, diharapkan jalan tersebut dapat membuat anak menjadi terbuka. Membuka diri untuk berkomunikasi dari hati ke hati.

Ketika situasi tersebut sudah terbentuk, dibutuhkan kerelaan dan empati mendengar isi hati anak. Giring terus anak memasuki suasana yang menyenangkan.

Kini kunci hati anak terbuka. Silakan masuk!

Ajak lah anak mengenali seluruh perbuatanya, serta merenungkan akibat buruk yang harus dipikul buah perbuatan buruknya.

Proses ini butuh waktu tidak sebentar. Tak bisa hanya dilakukan 1 kali – 2 kali. Hal itu tercapai bila rasa saling percaya telah terbentuk.

Sekali lagi, kunci utamanya adalah empati dan perhatian. (orangtuaidaman.com)

error: Content is protected !!