I NYOMAN LEVI SUWETHA: SUKSES BERMODAL SANDAL

Walaupun jalan hidupnya terjal, ada banyak inspirasi yang bisa dipetik dari jejak sukses I Nyoman Levi Suwetha, pengusaha wisata rafting di Desa Bakas, Bali.

“Di desa ini boleh dikatakan saya adalah warga paling miskin saat itu. Orang tua tidak punya tanah dan rumah. Hanya tekad dan keyakinan yang saya miliki saat itu. apapun bisnis yang akan dilakukan harus ditempuh dengan serius dan kerja keras,” papar pengusaha sederhana yang akrab dipanggil Levi ini. Sebelum memiliki usaha rafting, kisah perjalanan hidupnya memang tak mudah.  Pria kelahiran Bakas ini setelah tamat SMP, ia merantau ke Denpasar.

“Ketika orang lain mengenakan sandal jepit, saat itu saya merantau ke Denpasar bertelanjang kaki. Jadi boleh dikatakan modal sandal saja saya tidak punya,” tuturnya. Ia pergi ke Denpasar dengan menumpang sebuah truk pengangkut bahan bangunan. “Saya membayar angkutan itu dengan tenaga saya. Yaitu dengan bongkar-muat bahan bangunan dalam truk tersebut,” imbuhnya.

Sambil bekerja, Levi masih harus melanjutkan bersekolah. Hasil bekerja digunakan untuk bertahan hidup dan bersekolah. Di samping itu, ia juga menafkahi kedua orang tuanya dan keempat saudaranya.  Di Denpasar Lewi menginap di rumah kenalan yang tinggal di Denpasar. Di kota itu ia berdagang es lilin. “Sekadar untuk bertahan hidup dulu,” papar pria sederhana itu. Pekerjaan apa pun dilakukan saat itu. Berjualan nasi bungkus bahkan menjadi kernet bemo roda tiga saat itu. Ia pun mengaku pernah mencari nafkah dengan cara memungut ceceran hasil bumi di pasar tradisional. Misalnya, kacang-kacangan, dan bawang atau sayur yang tercecer saat bongkar-muat.

MENEMUKAN JALAN
Hasil usaha itu ia kumpulkan. Kemudian ia berjualan nasi bungkus. Saat itu Levi mulai menemukan titik terang jalan hidupnya. Yaitu sebagai pedagang.  Usai berdagang nasi bungkus, ia menerima tawaran bekerja sebagai juru foto. “Berbekal kamera pinjaman, saya melayani jasa pemotretan untuk keperluan kelengkapan KTP, juga jasa pemotretan untuk agen wisata” kata pria yang pernah bercita-cita menjadi seorang guru itu.

Pada suatu saat, ia mendapatkan proyek pemotretan rombongan wisatawan dari Jakarta. “Lumayan, dalam waktu 3 hari hasil pemotretan itu bisa saya manfaatkan untuk membeli kamera,” katanya. Pesanan pemotretan pun semakin ramai. Namanya mulai dikenal oleh konsumen, bahkan oleh turis manca negara. Ia mendapatkan pesanan pemotretan grup polisi dari Jerman yang berwisata ke Pulau Dewata. Selama 3 hari datang rombongan sebanyak 600-700 orang. Saat itu Levi bekerja 24 jam non stop.  Usaha itu terus berkembang. Hingga suatu saat pri gigih ini membuat studio foto lengkap dengan mesin cetak foto warna. Bahkan berhasil memiliki 3 studio foto.

Pada suatu saat ia merasakan persaingan bisnis di Kota semakin ketat. Banyak investor besar menanamkan modal di Denpasar. Pria rendah hati ini akhirnya memilih strategi lain untuk menghindari persaingan secara angsung dengan para investor tersebut. Levi kemudian memilih pulang dan mengembangkan usahanya di kampung halaman. “Saya ingin menekan angka urbanisasi di kampung ini. Di sini banyak anak-anak yang setelah lulus Sekolah Dasar lalu mencari kerja ke Denpasar. Padahal di Denpasar itu mencari pekerjaan juga tidak gampang,” kata Levi.

MEBERDAYAKAN POTENSI ALAM
Karena menjadi fotografer, saya harus mengikuti kemanapun tamu itu pergi. Kondisi seperti itu membuat Levi akrab dengan para tamu.  Hal itu juga membuat Levi banyak belajar dari obyek-obyeak wisata yang dikunjungi. Hingga suatu saat Levi menemukan sebuah ide usaha. “Kenapa kok yang namanya rafting itu tarifnya selalu mahal. Apa yang membuat banyak orang tertari k melakukan rafting? Padahal kan rafting itu berbahaya. Tapi kok selalu saja banyak peminatnya. Paling tidak setiap hari sedikitnya 600 orang yang saya foto di arena rafting saat itu” tutur Levi.

Levi kemudian terinspirasi untuk membuat obyek wisata rafting di sebuah aliran sungai yang terdapat di kampung halamannya. “Saya melihat wisata seperti ini cocok dikembangkan di sini,” tuturnya. Ia kemudian melakukan pengurusan perizinan. Saat merintis usaha ini, Levi harus bersaing dengan pelaku usaha sejenis. “Padahal mereka pada umumnya adalah orang-orang kuat dan punya modal besar,” kata Levi.

Saat mengurus usaha ini, Levi terbentur dengan urusan birokrasi. Namun ia tidak berputus asa.  Berkat keuletannya, Levi berhasil merampungkan perizinan. “Hampir 3,5 tahun saya mengurus perizinan obyek wisata ini,” papar Levi. Selama menunggu urusan perizinan selesai, Levi masih terus menekuni bisnis fotografi, kuliner dan persewaan mobil.

Tips marketing yang dilakukan yaitu membuka konter penjualan informasi wisata di berbagai lokasi. Di antaranya yaitu di bandara, dan hotel.  Levi juga mempertimbangkan soal keamanan bagi para tamu yang melakukan rafting. Ia membangun dam yang berfungsi untuk mengatur arus dan debit air sungai. Melalui bangunan dam tersebut, Levi bisa memperkirakan kondisi yang aman untuk melakukan rafting. “Dam saya lengkapi dengan alarm berpelampung. Saat debit dan arus air terlalu besar, alarem akan menyala. Tamu tidak diizinkan melakukan rafting,” kata Levi.  Bendungan tersebut juga dilengkapi dengan turbin pembangkit listrik. Sehingga sebagian listrik di tempat itu adalah listri swadaya. Dengan cara seperti ini Levi bisa menekan biaya operasional. “Sebisa mungkin kita berdayakan potensi alam yang ada,” paparnya.

Saat ini ia mempekerjakan karyawan sebanyak 168 orang. Selain rafting, tempat itu juga dikenal sebagai wisata gajah. Ada 10 ekor gajah yang disewakan Levi. Sedangkan perahu rafting sebanyak 100 buah. Berkat Bank Danamon Levi merasa terbantu. Menurutnya, banyak bank yang menghidari pengusaha yang sakit. Namun berbeda dengan Danamon. Peristiwa Bom Bali sangat memukul kondisi bisnis miliknya. Merasa luwes soal angsuran.   Layanan lebih familiar dibandingkan dengan bank lain. Levi mendapatkan Kredit Usaha dari Bank Danamon untuk biaya operasional.

Merawat Perahu
Perahu yang diperjual-belikan di Indonesia pada umumnya diimpor dari luar negeri.  Sehingga desain dan bahan bakunya sebenarnya adalah standar untuk daerah sub tropis yang bersuhu dingin. “Maka, usia perahu di Indonesia lebih pendek. Supaya bisa awet, ketika tidak digunakan harus segera ditaruh di tempat teduh. Lem pada perahu tersebut mudah meleleh jika terlalu sering terkena sinar matahari,” kata Lewi. Untuk keperluan tersebut, arena rafting harus dilengkapi dengan tempat khusus untuk menyimpan perahu.


KISAH SUKSES LAIN

error: Content is protected !!