SOELISTIO KOSALADARMA: MEMASOK ROTI HINGGA PELOSOK DESA

ORANGTUA IDAMAN – Melalui roti, Soelistio Kosaladarmadi Denpasar Bali,bisa membagikan rezeki kepada banyak orang. 

Karyawannya saja tembus hingga 100 orang. Belum lagi para distributor yang jumlahnya ratusan. Sekadar ilustrasi, para pengedar ini bisa mendapatkan untung Rp 200 / roti. Bila mereka mampu menjual hingga 2.000 buah per hari, berarti keuntungan yang diperoleh mencapai Rp 400.000.  Itu artinya dalam sebulan mereka bisa mengantungi fulus Rp 12 juta.

Meski bukan karyawannya, wanita yang akrab dipanggil Soelis memperlakukan distributor  laksana karyawan tetap.  Tak jarang Soelis ikut memecahkan permasalahan hidup yang mereka hadapi.  “Umumnya mereka menghadapi masalah keuangan rumah tangga.  Saya ajarkan cara mengelola uang yang baik, dan saya ajak mereka menabung.  Bahkan sekarang saya mengelola sebuah unit simpan-pinjam bagi mereka,” tutur wanita berusia 51 tahun itu.

Banjiri Pasar
Dengan bentuk roti sederhana, Soelis bisa membanjiri pasar dengan produknya. Sehingga peluang konsumen memilihnya jadi lebih besar. Langkah ini ia tempuh sekaligus untuk memperkuat brand “International bakery” miliknya di pasar. “Coba Anda cermati permen Mentos! Sejak zaman dodol sampai sekarang, bentuknya bulat. Yang penting rasa.  Sama seperti roti.  Kalau tidak bulat,  ya …  lonjong.  Tak perlu dibentuk aneh-aneh yang justru akan menghabiskan waktu, tenaga,” kata Soelis. 

Lantas, siapa target marketnya? Semuanya ia bidik.  Mulai dari kalangan atas hingga masyarakat lapisan bawah. Agar bisa diterima oleh semua kalangan, Soelis  menciptakan roti dengan citarasa dan kemasan yang mencerminkan golongan “berada”. Sehingga konsumen kelas menengah – atas,  tak bakal malu saat mengonsumsi roti hasil produksinya. Lebih hebat lagi, harga roti ini masih bisa terjangkau oleh konsemen kelas menengah – bawah. “Di bandara saya melihat roti ini dijual seharga Rp 1.200,” kata perempuan gigih itu.

Dirinya sadar, persaingan di bidang bisnis roti, sangat sengit. Saat memasuki usaha yang kini digeluti, Soelis merasa dirinya hanya seekor Semut yang berhadapan dengan Gajah. Menghadapi rivalitas seperti itu, ia menghindari persaingan secara langsung saling berhadapan. “Dengan demikian ketika pesaing menuju arah kanan, saya ke kiri, ketika pesaing ke Timur, saya ke Barat. Persaingan secara langsung hanya akan menjadi pemborosan waktu, tenaga, biaya dan pemikiran,” ungkap Soelis. 

Soelis pun harus selalu berpikir kreatif. Semisal memberikan nama produk yang berbeda dan menohok.  Ketika banyak pengusaha memberi nama roti rasa durian, Soelis memberi nama produknya,  roti rasa durian Bangkok. “Roti rasa durian sudah lumrah dan banyak, roti buatan saya rasa durian Bangkok,” paparnya sambil tertawa.  

Proses kreatif pun terlihat saat ia mendesain gambar dan kemasan. Untuk keperluan ini ia memiliki karyawan pendesain kemasan. “Biasanya proses desain kami lakukan 3 – 4 kali pertemuan sampai ketemu cocok dengan sisi warna, desain, maupun tulisan,” katanya.

Sebagai salah satu sumber ide desain, Soelis mengumpulkan materi dari berbagai model kemasan roti dari luar negeri. Setelah terkumpul, materi tersebut digunakan sebagai bahan benchmarking.  “Lalu dikombinasikan dengan ide saya sendiri,” tuturnya.

Rasa Baru
Tak cukup hanya itu, ia pun terus berinovasi  menciptakan roti rasa baru yang unik dan belum pernah ada di pasar.  Contohnya roti rasa kopi luwak.  “Rasanya tidak kalah dengan white coffee. Saya buat roti ini karena marak produk kopi luwak di kalangan masyarakat,” katanya. 

Berkat kegigihannya itu, dari waktu ke waktu usahanya semakin berkembang.  Usaha roti yang tadinya berskala “garasi” menjadi tidak sesuai lagi dan harus dikembangkan menuju usaha berkapasitas lebih besar. Tentu saja hal ini membutuhkan sokongan dana lumayan besar.

Beruntung, sejak memulai bisnisnya di tahun 1989, Soelis selalu didukung oleh bank Danamon. Kredit pertama digunakan untuk membeli kendaraan angkutan sebagai sarana distribusi produk. Catatan tambahan, pada waktu itu, hanya Danamon yang menjalankan kebijakan penarikan pinjaman.

 Artinya pihak bank datang sendiri kepada pelaku usaha untuk memperlancar proses angsuran pinjaman. Bahkan tak segan, Danamon pun menanyakan kelancaran usaha nasabah. Bila ada kesulitan, solusi terbaik siap diberikan oleh pihak bank. Berkat sokongan dana dan upaya tanpa lelah seperti itu, usaha roti Soelis semakin menggurita hingga pelosok desa.

TIPS
Berkelit Dari Masalah
Salah satu tantangan yang kerap dihadapi oleh seorang pengusaha bakery yaitu fluktuasi harga bahan baku. Guna mengatasi hal ini, Soelis mengurangi ukuran rotinya.  Agar tidak mengecewakan konsumen, pengecilan ukuran roti harus disertai pergantian kemasan.  Dengan cara seperti ini, calon konsumen mengira, roti tersebut adalah produk baru.

Tapi menurutnya, rintangan seperti itu masih dalam taraf wajar. Tantangan terberat justru ia hadapi ketika memulai usaha. Kala itu, Soelis hampir putus asa.  Karena jumlah roti return terbilang tinggi. Maklum pada saat itu brand  yang ia sodorkan belum dikenal konsumen.  Guna menarik minat calon konsumen, ia terus memperbaiki kemasan dan memberikan harga terjangkau.


TIPS
Menghindari Krisis
Saat terjadi gejolak krisis ekonomi pada tahun 1997, Soelis mengaku tidak terpengaruh.  Meskipun saat itu banyak pengusaha bakery gulung tikar akibat fluktuasi bahan baku.  Kuncinya,  selalu terbuka dengan supplier. Krisis moneter pada saat itu  menyebabkan supplier menginginkan cara pembayaran tunai. Kondisi ini yang memberatkan perputaran roda bisnis pengusaha bakery.  Untuk menyiasati hal tersebut,  Soelis meminta agar supplier memberinya tempo pembayaran dengan kompensasi pemberian bunga sesuai besaran  bunga bank.  


JURUS CERDAS
–  “Roti rasa durian sudah lumrah dan banyak. Roti buatan saya, rasa durian Bangkok,” paparnya.  

–   Soelis melakukan distribusi seawal mungkin.  Sehingga sebelum pesaing hadir di pasar, roti produksinya sudah tersedia dan siap dikonsumsi oleh pelanggan.

–   Sebuah usaha harus dimulai dengan niat yang baik. Bisnis itu mencari makan dan memberi makan orang lain.  Bukan untuk mematikan orang atau pesaing.


KISAH SUKSES LAIN

error: Content is protected !!