EKOLOGI

KEBAKARAN HUTAN: RITUAL RUTIN AGAR TETAP LESTARI

ORANGTUA IDAMAN – Bagi manusia, kebakaran hutan adalah bencana yang hebat. Namun, sesungguhnya alam telah beradaptasi terhadap api jauh hari sebelum ada pengaruh manusia.

Umumnya manusia ikut campur mengurangi pengaruh api terhadap ekosistem. Padahal, alam telah beradaptasi dengan faktor api di daerah yang belum dijamah manusia. Di alam, api dapat dipicu oleh petir.

Bagi beberapa hutan di berbagai daerah, kebakaran hutan adalah ritual rutin yang harus digelar setiap beberapa tahun sekali. Bagi tumbuhan yang punya kehidupan lebih lama dari hidup kita, kebakaran hutan itu penting bagi keberlangsungan hidupnya. Bagi banyak tumbuhan, kebakaran adalah kesempatan memulai lagi perjuangaan sosial.

Sehingga ancaman terbesar bagi hutan-hutan tersebut yaitu bahwa mereka hars tumbuh selama ratusan tahun tanpaterbakar. Hutan tersebut hanya bisa hidup jika dimusnahkan terlebih dulu.

Api merupakan faktor iklim yang penting untuk daerah hutan dan padang rumput di daerah beriklim sedang maupun tropis pada musim kering. Sebab, ekosistem beradaptasi beradaptasi terhadap api seperti halnya terhadap temperature dan air.

Salah satu contohnya adalah hutan yang didominasi oleh tumbuhan Eukalyptus. Tanpa terjadinya kebakaran hutan, tumbuhan Eukalyptus akan tumbuh menua dan mati. Jatuh binasa, terkubur di antara pohon-pohon pakis. Tanpa memiliki kesempatan beregenerasi.

Hutan Eucalyptus

Eukalyptus adalah tumbuhan raksasa. Flora tersebut tingginya bisa mencapai lebih dari 90 meter. Akibatnya, tajuknya membentuk atap hutan yang rapat. Sinar matahari tak bisa menerangi lantai hutan. Biji-biji Eukalyptus yang berbaring tak bisa tumbuh.

Saat badai api melalap hutan, ada yang tetap aman di tanah. Bagi pohon tua, hal itu merupakan bencana. Namun, bagi yang muda, kebakaran menjadi kesempatan melanjutkan misi kelestarian species mereka. Biji-biji Eukalyptus tetap bertahan hidup. Segera setelah badai api berlalu, benih-benih itu akan tumbuh, di bawah sinar matahari yang tak lagi dihalangi oleh atap htan yang tak lain adalah leluhur mereka.

API MERANGSANG ANEKA TUMBUHAN SETIDAKNYA MELALUI 4 CARA
1. Api dapat merangsang tanaman berbuah dan berbiji keras menjadi lebih mudah rontok ke tanah kemudian bertunas menjadi tumbuhan baru. Contohnya yaitu Pinus dan Bankasia.
2. Api yang membakar sersah dedaunan kering menghasilkan asap yang banyak mengandung gas ethylene (C2H4). Gas itu sesungguhnya adalah hormon pengatur pertumbuhan tanaman. Bagi beberapa jenis tanaman, ethylene dapat merangsang munculnya bunga.
3. Gas ethylene juga dapat merangsang biji-bijian tumbuhan yang tertidur (dorman) bangun dari tidur panjangnya. Biji-biji seperti itu tertidur bisa mencapai 20 tahun lamanya.
4. Abu kaya nutrisi hasil kebakaran membuat tumbuhan subur.

Eucalyptus muda tumbuh subur di atas keberlimpahan nutrisi abu jejak si jago merah. Dalam waktu setahun, anak-anak Eukalyptus itu telah tumbuh tinggi. Mendominasi hutan kembali. Tanah di hutan itu tetap menjadi milik mereka.  

Di padang rumput Afrika, ritual kebakaran hanya terjadi dipermukaan tanah. Akar rerumputan tak rusak karena api. Mereka segera bertunas lagi. Banyak mahluk lain berpesta menikmati lezatnya daun muda usai perhelatan si jago merah digelar.

TIPE KEBAKARAN DI ALAM BERDASAR FAKTOR EKOLOGIS
1. Kebakaran Tajuk (crown fire)
Kebakaran tajuk menghancurkan semua vegetasi dalam ekosistem. Merupakan faktor pembatas bsgi semua organisme. Memerlukan waktu yang lama untuk melakukan suksesi atau atau sembuh kembali karena semua hancur.
2. Kebakaran Permukaan (surface fire)
Menguntungkan bagi organisme yeng memiliki daya toleransi tinggi terhadap api. Hanya merupakan faktor pembatas bagi beberapa organisme.
Kebakaran permukaan dapat mengurangi pekerjaan bakteri dalam mempercepat proses pembusukan. Selain itu, kebakaran ini juga membantu memecah kulit buah keras. Misalnya tumbuhan golongan pinus. Sehingga dapat membantu peremajaan hutan.

Pembakaran kayu sisa bukan hutan dapat mengakibatkan kebakaran yang mendekati kebakaran tajuk, akibatnya tanah menjadi sukar ditanami. Sebab pada saat terjadi kebakaran, temperaturnya sangat tinggi.
Hasil pembakaran terhadap suatau daerah dapat mengakibatkan hanya tanaman dengan toleransi terhadap api yang tinggi yang dapat berkecambah kembali. Akibatanya hanya vegetasi tertentu yang dapat tumbuh. Vegetasi yang demikian disebut fire climax atau pyroclimax.

Sumber:

  1. Ir. Suwasono Heddy, MS, (Ed), Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi: Suatu Bahasan Tentang Kaidah Ekologi dan Penerapannya
  2. David Attenborough, The Private Live Of Plants: The Social Struggle

error: Content is protected !!