MEMUPUK POHON EMPATI DALAM SANUBARI ANAK

ORANGTUA IDAMAN – Kebaikan itu jauh lebih penting daripada sekadar kepintaran. Banyak pengalaman membuktikan, rasa empati adalah malaikat penyelamat bagi seseorang juga orang-orang di sekitarnya.

Kepintaran saja tak cukup. Bekal karakter empati wajib dimiliki oleh anak. Realitanya ketika anak lulus bersekolah, kemudian memasuki “Universitas Kehidupan Nyata”, karakter empati dan kebaikan lah yang kerap berperan dalam kehidupan.

Bukan kepintaran, melainkan kebaikan yang pernah dia lakukan yang akan menyelamatknanya. Terutama ketika seseorang anak manusia harus bertahan dan mengahadapi masa-masa sulit.

Agar bisa lebih memahami hal tersebut, yuk kita simak bersama contoh kisah berikut.

Jarwo adalah seorang anak yang dari sisi akademis minim berprestasi. Namun, sejak masih sekolah ia dikenal sebagai anak yang baik dan punya rasa empati dan kepadulian yang besar.

Inisiatifnya menolong sesama yang sedang menghadapi kesulitan teramat besar. Tak heran sikap itu membuat Jarwo punya banyak kawan.

Setelah lulus bersekolah, untuk mencari pekerjaan pun Jarwo tak mengalami kesulitan. Sebab, banyak informasi pekerjaan diperoleh dari kawan-kawannya. Pada saat itu lah tak disadari Jarwo mulai mencicipi buah manis yang selama ini sudah ditanam. Buah berlimpah dari pohon kepedulian yang selalu ia rawat.

Setelah bekerja, kesuksesan tak melunturkan karakter yang dimiliki. Jarwo sekarang tetap sama seperti Jarwo yang dulu. Individu penuh empati dan kepedulian.

Di dunia kerja pun ia menyemai benih-benih empati dan kepedulian. Kemana pun Jarwo berada, ia selalu menyebar benih kepedulian.

Suatu saat, pil pahit harus ia telan. Perusahaan tempat Karwo bekerja terancam bangkrut. Sebanyak 2.000 orang karyawan terpaksa harus di PHK. Di antaranya adalah Jarwo.

PHK memang terasa pahit, namun sekali lagi Jarwo ditolong oleh benih kepedulian yang pernah di tanam dan tumbuh. “Kamu sudah bekerja? Masih butuh pekerjaan atau tidak? Kalau masih coba besok ke rumahku ya, kita ngobrol sambil ngopi bareng”, papar kawan Jarwo menawarkan sebuah pekerjaan.

Jarwo menerima tawaran pekerjaan itu dengan rendah hati. Meskipun pekerjaan itu adalah pekerjaan yang tidak tetap, hanya berlangsung dalam periode 2 tahun.

Di tempat bekerja yang baru itu pun, Jarwo rajin menanam kebaikan, empati, dan kepedulian. Ia tak pernah berhitung apakah tugas yang berikan termasuk ke dalam job desknya atau tidak. Jarwo menanggapi setiap tugas yang diberikan dari kacamata empati dan kepedulian. Tugas adalah permintaan tolong. Diberi tugas itu berarti dibutuhkan.

Setelah 2 tahun bekerja di tempat barunya itu, proyek pun berakhir. Jarwo harus mencari rezeki di tempat lain. Tanpa harus mengandalkan ijazah, tanpa harus berpusing-pusing mencari lowongan kerja, benih-benih kepedulian yang dulu ditanam sekarang telah tumbuh menjadi pohon-pohon kepedulian.

Pohon-pohon itu sudah berbuah. Senantiasa menjaga perut Jarwo dari ancaman rasa lapar. Kapan pun jarwo membutuhkan buah kepedulian, pohon kepedulian senantiasa rela memnerikan buah kepedulian kepadanya.

Usai menikmati buah kepedulian, Jarwo tak lupa menyemai benih kepedulian yang berada di dalam buah itu. Agar rasa kepedulian itu hisa senantiasa lestari.

Pengalaman Jarwo itu adalah kisah nyata sekaligus bukti bahwa kehidupan dan permasalahan di dalamnya tak bisa dilalui hanya dengan kepintaran dan secarik ijazah.

Menenam Benih Kepedulian
Sejak usia dini, anak seharusnya dibekali dengan keterampilan menanam benik empati dan kepedulian. Berikut tips menanam benih kepedulian itu:

1. Nasihat Nyata
Diawali dengan nasihat nyata kepada anak. Memberikan contoh-contoh nyata. Misalnya ketika menyaksikan seseorang yang mengais-ngais tempat sampah untuk mencari sisa makanan, maka berilah pengertian kepada anak tentang hal itu.

Bahwa orang tersebut mencari sisa makan karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Ajak anak agar bersyukur karena dikaruniai keberuntung memiliki rejeki, sehingga dapat menikmati makanan.

Tekankan pula bahwa sifat dari rejeki itu harus dibagi-bagi. Sama seperti Tuhan membagi-bagi rejeki kepada seluruh mahluk hidup.

2. Praktik Nyata
Nasihat saja tak cukup. Ajak anak agar terbiasa memberi kepada orang yang membutuhkan. Nasihat berpadu praktiknyata akan berbuah kepakaan.

Kepekaan yang tajam dan selalu diasah membuat anak senantiasa memiliki inisiatif, dan keinginan selalu melakukan kebaikan dan memberi. Memandang setiap kesempatan memberi sebagai rahmat.

Ajak anak agar membiasakan diri rutin memberi kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.

3. Kita adalah Satu
Menanamkan bahwa kita adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Sebagian harta benda yang kita miliki adalah milik orang lain. Sehungga kita berkewajiban memberikan hak itu kepada orang lain.

Pola pikir ini bisa kita tanamkan dengan jalan mengajak anak agar menyisihkan sebagian uang saku yang diperoleh untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Menanamkannpola pikir bahwa manusia adalah saluran rejeki bagi sesama. Berfungsi menyalurkan rejeki dari Sang Maha Pemberi kepada sesama. Sehingga agar rejeki tak mampet, kita berkewajiban menyalurkan rejeki itu kepada pihak yang membutuhkan (orangtuaidaman.com)

LITERASI LAIN

error: Content is protected !!