MENGUAK FENOMENA PENYIMPANGAN KURIKULUM: DARI TIRANI TES SAMPAI JURU NUJUM

ORANGTUA IDAMAN – Mercusuar megah ‘sistem peringkat’ memang telah lama runtuh. Namun desain pendidikan timpang yang menjadi fondasi sistem peringkat itu ternyata tak ikut dibongkar.

Sistem pendidikan yang saat ini dianut cenderung tak melibatkan aspek kecerdasan secara menyeluruh. Terlalu menitik beratkan kepada aspek tulis-menulis. Hanya menguntungkan anak–anak berkecerdasan linguistik dan logis-matematis.

Anak-anak berkecerdasan lain tak memiliki kesempatan mengaktualisasikan suatu topik yang sesungguhnya mereka ketahui.

Padahal, jika diberi kesempatan mengungkapkan materi yang telah dipelajari sesuai tipe kecerdasan yang mereka miliki, hasilnya akan sangat mengagumkan.

Tiap anak punya aspek kecerdasan berbeda-beda. Agar dapat memahami dan menguasai materi pembelajaran, metoda pembelajarannya pun seyogyanya disesuaikan dengan tipe kecerdasan yang melekat pada diri setiap anak.

Menurut Thomas Amstrong, dalam bukunya yang berjudul Setiap Anak Cerdas, ada delapan kecerdasan. Meliputi: Kecerdasan linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik-jasmani, musik, antarpribadi, intrapribadi, dan naturalis.

Berbekal delapan kecerdasan itu, guru seyogyanya dapat meramu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik kecerdasan yang dimiliki siswa. Sehingga setiap siswa dapat turut menikmati proses pembelajaran.

Tirani Tes Tertulis
Adalah Jordan Alakbar, siswa kelas VI sebuah SD Negeri di Jepara. Rajin, berinisiatif tinggi, tak pelit membantu guru dan teman, adalah sederet karakter kental dalam diri anak yang akrab dipanggil Jordan itu.

Berkat karakter itu, Jordan memberi warna kehidupan di kelas. Tanpa Jordan, suasana kelas cenderung pasif. Jordan adalah motor penggerak sekaligus lokomotif penarik gairah kelas.

Sayang, soal urusan ranah kognitif, Jordan adalah bagian dari anak-anak lapisan kerak.

Di kelasnya, guru berusaha menghargai setiap perkembangan yang dialami siswa-siswi seperti Jordan. Guru tersebut memberlakukan sistem penilaian yang tak hanya dilandasi hasil tes.

Sayang, penilaian berazas portofolio seperti itu tak laku dan bukan menjadi kriteria pendaftaran ke jenjang sekolah berikutnya. Akibatnya, Jordan dan anak-anak lain yang tak punya cukup bekal kecerdasan linguistik dan logis-matematis tersingkir. Dipaksa menelan ketidak adilan pendidikan itu.

Ada banyak anak sekolah bernasib seperti Jordan. Realitanya, hak-hak mereka tergilas dan tertidas oleh pemaknaan kurikulum secara sempit dan cara penilaian tak adil.

Kurikulum Juru Nujum
Aplikasi kurikulum di berbagai jenjang pendidikan cenderung mengabaikan tujuan akhir pendidikan. Kurikulum dimaknai secara sempit. Akibatnya, guru menjadi terlalu memusatkan diri pada pencapaian target kurikulum dalam ranah kognitif saja. 

Bermula dari sekolah, pemaknaan sempit kurikulum pada gilirannya mewabah dan ditularkan kepada masyarakat luas. Saat ini, banyak orang mengagungkan aspek intelektualitas daripada perkembangan kepribadian, dan karakter para siswa.

Tak sedikit orangtua berduka berbonus cemas ketika nilain SKHU anak mereka cekak. Padahal nilai SKHU hanya gambaran sebagian kecil dari kurikulum.

Jarang orangtua mempertanyakan minat, kreativitas, sikap, dan motivasi mengembangkan diri menuju kedewasaan, menjadi manusia seutuhnya.

Tak hanya itu,  orangtua acap kali menakar kualitas sekolah hanya berdasarkan nilai SKHU, serta tolok ukur jumlah siswanya yang diterima di sekolah negeri favorit. Di mata mereka, sekolah berkualitas adalah sekolah yang dapat mencetak siswa dengan nilai SKHU tinggi.

Seharusnya, tes memberi informasi kemajuan belajar anak-anak. Tetapi sebaliknya, tes malah cenderung mengerdilkan anak-anak. Pikiran, perasaan, perilaku, serta pencapaian kepribadian mereka digilas oleh nilai angka dan pelabelan.

Banyak sekolah tidak lagi mengusung visi pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, justru berpaling dari kurikulum nasional. Sekolah tersebut hanya mengajarkan materi kurikulum yang berkiblat kepada kisi-kisi tes SKHU.

Pada gilirannya, menjamurlah lembaga pendidikan yang menawarkan jasa meramal soal tes SKHU. Tak sedikit guru membuka jasa bimbingan belajar (les) dengan menu utama  prediksi soal tes SKHU yang akan keluar.

Akibatnya, tidak sedikit guru terpeleset ke dalam lembah hitam ramal-meramal tes. Tak ubahnya seorang dukun peramal togel. Demi bisnis bimbingan belajar dan pundi-pundi rupiah, fenomena bocornya soal tes akhirnya menjadi rahasia umum.

Banyak ahli dan pakar teoritis di negeri ini. Namun minim, praktisi, penemu kreatif dan inovatif. Hal tersebut adalah buah proses pembelajaran yang hanya menitik beratkan kepada aspek kognitif dan kemampuan teks.

Model pembelajaran seperti ini juga hanya akan melahirkan manusia budak, bukan putra-putri  bangsa yang merdeka, memimpin, kaya inovasi serta berkomitmen kemanusiaan yang kuat (orangtuaidaman.com).

SIMAK JUGA

error: Content is protected !!