ADVONTURLOST IN INDONESIA

ANAK KRAKATAU: HIDUP SELARAS DAN DINAMIS

ORANGTUAIDAMAN.COM Letusan yang kerap terjadi, merombak habitat yang sudah ada. Kemudian menyajikan kehidupan baru dan pemandangan yang dramatis.

Amuk Krakatau (Foto: Teguh Jiwa Brata)
Cemara Termasuk Tanaman Pionir
Baringtonia menghuni vegetasi yang lebih stabil.

Di tempat itu, keragaman hayati terlihat jelas. Dari padang pasir tandus, pesisir pantai hingga lebatnya kanopi hutan. Perubahan vegetasi terlihat jelas di bagian paling atas. Hamparan padang pasir didominasi material vulkanik bisa Anda temukan di tempat itu. Koloni gelagah baru nampak pada ketinggian sekitar 25 m diatas permukaan laut. Mereka tumbuh dalam rumpun yang terpecah-pecah di banyak tempat. Berlanjut ke bagian lebih bawah, zona gelagah berbatasan dengan hutan cemara yang tumbuh lebat. 

Semakin ke bawah, jenis tanaman semakin beragam. Ukurannya kian besar. Cemara, baringtonia, pace, dan ketapang banyak ditemukan di sana. Aneka paku-pakuan dan hoya terlihat menggelantung, tumbuh menempel di pepohonan. Sementara di tepi pantai, didominasi ipomea.  Tumbuhan berbunga ungu lembut ini sejenak menjinakkan tampang garang Anak Krakatau. 

Tumbuh-Kembang Krakatau

Gunung ini terkenal karena letusannya pada tahu  1883. Getarannya terasa sampai ke Benua Amerika.

Gunung Krakatau diduga sudah terbentuk sejak satu juta tahun yang lalu. Bentuknya seperti kerucut. Gunung seperti ini dapat dikategorikan sebagai gunung nertipe strato. Tingginya 1.800 meter di atas permukaan laut.

Bagian kubah kerucut itu kemudia  meletus, membentuk kaldera berdiameter 6 km. Bagian-bagian kaldera yang menonjol ke permukaan laut membentuk empat pulau keci, Sertung, Lang, Polis Hat, dan Rakata.

Bertahun-tahun kemudian, pulau-pulau kecil itu bersatu membentuk sebuah pulau. Puncak tertingginya mencapai 800 meter di atas permukaan laut.

Sebelum terjadi letusan dahsyat pada tahu  1883, pernah terjadi letusan kecil pada tahun 1680. Sementara itu, letusan besar yang mengguncang dunia dimulai pada tanggal 20 Mei. Mencapai klimaks pada tanggal 26 – 28 Agustus 1883.

Semburan bebatuan diperkirakan sebanyak 21 kilometer kubik, sedangkan abu yang dimuntahkan mencapai jarak sejauh 800.000 kilometer.

Abu itu mengakibatkan wilayah di sekelilingnya gelap selama 2,5 hari. Gelombang laut yang ditimbulkan mencapai Amerika Selatan dsn Hawaii.

Gelombang yang tingginya mencapai 12 km itu melanda kota-kota di Jawa dan Sumatera. Seluruh kehidupan di pulau igu tenggelam dslam lapisan abu. Bencana ini menelan korban sebanyak sekitar 36.000 jiwa.

Setelah lama tertidur, pada tahun 1928 mulai terlihat adanya kegiatan baru deengan munculnya gunung api baru yang dinamakan Anak Krakatau.

Ketinggian Anak Krakatau terus bertambah, dimulai dari 8,39 meter, tumbuh menjadi 66,8 meter pada tahu  1933, bertambah lagi menjadi 132,33 meter pada tahun 1941, dan 169,67 meter pada tahun 1968.

Pada tahun 1968, ketinggian Anak Krakatau berkurang menjadi 154,66 meter dia atas permukaan laut.

Anak Karakatau bersama Rakata Kecil, dan Sertung ini membentuk Pulau Krakatau. Kehidupan Baru telah tumbuh di atasnya, bahakan wilayah itu kini dijadikan cagar alam yang merupakan bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon. Luasnya 2.500 hektar.


Vegetasi di area Karakatau lebih mantap daripada vegetasi di area Anak Krakatau. (Foto: Teguh Jiwa Brata)

Habitat yang lebih stabil bisa ditemukan di Pulau Panjang, Sertung dan Rakata, di sekeliling Anak Krakatau. Aneka fauna mendiami pulau-pulau itu. Diantaranya biawak, burung, dan kalong. Pohon pepaya dan cabai menjadi saksi jejak manusia.

Aktivitas Anak Krakatau bisa disaksikan secara langsung dari atas kapal dari jarak tak lebih dari 500 m. Batuk-batuk Anak Krakatau bisa disaksikan dari Pulau Panjang dan Rakata. Di tempat itu, mata akan terpana menyaksikan muntahan lahar, lontaran batu seukuran kerbau dari perut gunung. Suara dentuman keras memecah suara ombak, menjadi ritual rutin gunung muda itu.

Jejak Amuk Krakatau

Awalnya Krakatau terdiri dari tiga buah gunung berapi besar. Nama ketiga gunung itu adalah Rakata, Danan dan Perbuatan.  Mereka berdiam diri di Selat Sunda. Dikelilingi 2 pulau kecil,  Panjang dan Sertung.  Pada 27 Agustus 1883, ketiga gunung berapi itu mengamuk hebat.  Akibatnya Gunung Danan dan G. Perbuatan, lenyap. Bencana itu menyisakan separuh Gunung Rakata. Sisa lain adalah Pulau Panjang dan Sertung yang telah steril secara sempurna. Hampir seluruh kehidupan di atasnya binasa akibat disapu amuk vulkanik. 

Kepundan Anak Krakatau ((Foto: Teguh Jiwa Brata)
Awan Panas Anak Krakatau (Foto: Teguh Jiwa Brata)

Pulau Panjang, Rakata dan Sertung punya ekosistem telah stabil. Flora dan faunanya lebih beragam daripada yang di Anak Krakatau. Berdasarkan keterangan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung, kepulauan Krakatau dihuni sekitar 206 jenis fungi, 13 jenis lichenes, 61 jenis paku-pakuan,  dan sekitar 257 jenis  Spermatophyta.

Sedangkan aneka fauna penghuni kepulauan tersebut diantaranya mamalia sejenis tikus, megaderma alias kalong, 40 jenis kelompok aves berukuran kecil dan besar. Diantaranya adalah Centropus bengalensis, Cipromolgus offinis, Falco severus, Lalage nigra, Tecrycotera relitea, Plegadis sp, dan Nectarina sp. Kelompok reptil selain biawak, penyu juga terdapat ular. 

Pada 1927, lahirlah Anak Krakatau. Gunung muda itu aktif dan terus mengeluarkan material vulkanik. Timbunan dan endapan lahar membuatnya semakin gempal dan bongsor. Gunung muda itu sekarang berketinggian 213 m dpl. Menurut Bambang, pemandu Suaka Margasatwa Krakatau, Anak Krakatau bertambah tinggi sekitar 4 cm setiap tahun.

Invasi Flora Pionir

Bagian puncak anak krakatau masih berupa dataran kosong. Hamparan pasir vulkanik menjadi pemandangan yang dominan di tempat itu. Tumbuhan pionir bisa ditemukan sekitar 25 m dari puncak. Antara lain, gelagah (Saccharum spontaneum) dan alang-alang. Flora ini punya daya tahan kuat hidup di tempat kering.

Letupan Anak Krakatau (Foto: Teguh Jiwa Brata)

Ada banyak cara yang bisa ditempuh gelagah agar bisa hijrah ke kaki Anak Krakatau.  Melalui angin atau air. Dalam jarak dekat, benih gelagah memanfaatkan jasa tiupan angin untuk menemukan tempat hidup barunya. Peranti terbangnya berupa bulu halus. Daya jelajahnya makin jauh karena terbawa ombak. Garam laut membuat bayi tanaman itu tertidur alias dorman. Hanyut terbawa arus air laut, hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari tempat asalnya. 

Hamparan padang pasir di salah satu punggung Anak Krakatau. Ditumbuhi tanaman pionir. Alang-alang dan cemara udang.

Di tempat baru, gelagah berjemur sejenak, mengeringkan peranti terbangnya. Tiupan angin laut segera menerbangkan benih itu menjauh dari pantai. Di tempat pendaratannya, ia sejenak bersemayam. Menunggu tetesan embun atau guyuran air hujan. Untuk melunturkan garam. Bila kondisi lingkungan cocok, benih gelagah bertunas. Tumbuh dan memulai kehidupan baru di tempat kosong.

Ia tidak sendiri bertahan hidup di tempat sulit seperti itu. Gelagah dan alang-alang bekerjasama dengan sejenis alga atau sebangsa lumut Azospirillium lippoferum. Ganggang mungil ini tumbuh menempel di permukaan akar alang-alang. Membuat organ licin itu terlihat berambut. Hasilnya, air dan nutrisi yang diserap gelagah menjadi lebih banyak. Sebagai upah, gelagah mengijinkan ganggang menembus jaringan pengangkut untuk menyerap zat makanan itu sepuasnya. Kerjasama antara gelagah dan alga itu mengakibatkan pelapukan batuan dan pasir di sekitar perakaran. Kondisi ini memungkinkan jenis tumbuhan lain hidup di dekat mereka. Salah satu adalah Melastoma affine.

Proses pelapukan tanah berlanjut dan bahan organik menumpuk, membuat tempat itu kian subur. Aneka flora lain segera menyusul sang pinonir. Ikut menikmati tanah di kaki Anak Krakatau yang kaya nutrisi. Pada suatu saat mereka akan tumbuh dan berbuah. Menyediakan santapan bagi aneka fauna herbivora. Pada akhirnya kehadiran fauna pemangsa melengkapi mata rantai ekosistem Krakatau yang semakin stabil.

Sungguh dramatis dan dinamis.

Karaktersitik Pola Arus Laut di Perairan Selat Sunda

Menurut hasil penelitian Latif Yuhana, R., Guruh Pratomo, D., & Khomsin, K. (2025), dalam Buletin GAW Bariri (BGB), 6(2), 87-96. https://doi.org/10.31172/bgb.v6i2.156, pada saat musim barat daya, arus dominan dari arah barat menuju ke timur laut dengan kecepatan rata-rata 0.5 – 1.0 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s.

Pada musim peralihan I, arus menuju ke timur laut dengan kecepatan rata – rata 0.75 – 1.25 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s. Sedangkan pada musim timur, arus dominan menuju ke barat daya dengan kecepatan rata – rata 1.25 – 1.75 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s.

Pada musim peralihan II, arus menunjukkan arah tidak beraturan menuju barat dan timur, dengan kecepatan rata – rata 1.0–1.5 m/s dan maksimum 1.5 – 2.0 m/s. Pola arus ini dipengaruhi oleh angin monsoon, topografi dasar laut, dan interaksi pesisir, yang berdampak pada navigasi, perikanan, dan ekosistem laut.

Dengan demikian, kegiatan penyeberangan menuju kawasan Cagar Alam Anak Krakatau hendaknya disesuaikan dengan kondisi cuaca dan arus laut. Saat yang paling ideal yaitu dalam kisaran musim angin timur.

Hal tersebut di atas bertujuan untuk meminimalkan risiko terjadinya laka laut seperti yang dialami oleh hilangnya 5 jurnalis pada Senin, 7 September 2026.

Diwajibkan Izin

Tidak sembarang orang diizinkan berkunjung ke area vulkanik ini. Anak Krakatau termasuk Cagar Alam dan Kawasan Konservasi. Keberadaannya hanya untuk penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pendidikan konservasi, bukan untuk wisata massal bebas. Jadi untuk menapakkan kaki disana harus punya SIMAKSI ( Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).

Saat itu, permohonan SIMAKSI sudah kami ajukan jauh hari. BKSDA juga membantu menentukan saat tepat untuk peliputan  erupsi Anak Krakatau. Kondisi gelombang, angin, dan arus air, maupun fase erupsi gunung. Petugas juga akan memilihkan jalur aman.

Saat memasuki kawasan Anak Krakatau, perahu petugas BKSDA sudah menunggu lalu menghampiri. Pemeriksaan pun berlangsung. Lantas kami tunjukkan SIMAKSI. Setelahnya, petugas akan memandu.

Rute Menuju Krakatau

Jalur paling aman yang bisa dilalu saat menuju kawasan Cagar Alam Kepulauan Krakatau yaitu dari Pelabuhan Canti, Kalianda, Lampung Selatan.

Jalur tersebut lebih terlindung oleh Pulau Sumatera, bila dibandingkan dengan jalur dari Pantai Carita yang memotong arus laut dari arah timur laut. Jalur dari Sebesi juga lebih dekat.

Dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak. Kemudian Anda harus menyeberang ke Pulau Sumatera naik ferry. Perjalanan selama 2,5 jam pelayaran. Dari Pelabuhan Bakauheni menuju ke Kalianda, bisa naik bis atau menyewa mobil di terminal. Sekitar 1 jam kemudian, Anda sampai di Kalianda. Turun di Simpang Fajar.

Dari Simpang Fajar, Anda bisa menggunakan ojek menuju Canti, pelabuhan nelayan dekat Krakatau. Lalu Anda bisa menyewa kapal untuk mencapai Sebesi, dalam waktu kurang lebih 3,5 jam. Dari Sebesi, terus ke Pulau Sertung, Panjang dan Anak Krakatau. Butuh waktu sekitar setengah jam.

Alamat Penting

Sebelum berkunjung, Anda wajib melaporkan dan mengurus perizinan ke kantor BKSDA Lampung. Jl. H. Zainal Abidin Pagar Alam, Rajabasa, Lampung, Telepon: 0721-781247.

PELANGI ADVONDTUR

GUNUNG PAPANDAYAN: PADANG EDELWEISS, HUTAN MATI, DI SELA KEPUL KEPUNDAN

GUNUNG PAPANDAYAN: PADANG EDELWEISS, HUTAN MATI, DI SELA KEPUL KEPUNDAN

Teguh Jiwa Brata Sep 14, 2023 4 min read

WALAU TAK SETINGGI PUNCAK-PUNCAK GUNUNG TENAR DI TANAH JAWA, PAPANDAYAN PUNYA PADANG EDELWEISS MENAWAN PLUS HUTAN MATI EKSOTIS. Enggak perlu

GUNUNG GEDE – PANGRANGO: PESONA EDELWEIS JAWA DI DASAR KALDERA PURBA

GUNUNG GEDE – PANGRANGO: PESONA EDELWEIS JAWA DI DASAR KALDERA PURBA

Teguh Jiwa Brata Sep 11, 2023 6 min read

“SEJAUH INI INSIDEN PALING MENARIK DALAM KUNJUNGANKU KE JAWA ADALAH PERJALANANKU KE PUNCAK GUNUNG PANGRANGO DAN GUNUNG GEDE” – (ALFRED

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN – SALAK: PESONA HUTAN BERKABUT

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN – SALAK: PESONA HUTAN BERKABUT

Teguh Jiwa Brata Oct 12, 2020 5 min read

ORANGTUAIDAMAN.COM Di areal hutan pegunungan seluas 113.357 ha ini kabut  menjadi suguhan harian menawan. Dalam bahasa Sunda, Halimun berarti kabut. 

INGIN PETUALANGAN LEBIH NIKMAT? PILIH MUSIM YANG TEPAT

INGIN PETUALANGAN LEBIH NIKMAT? PILIH MUSIM YANG TEPAT

Teguh Jiwa Brata Oct 12, 2020 3 min read

ORANGTUAIDAMAN.COM Berpetualang itu tidak identik dengan kenekatan. Kecermatan, ketelitian, dan kedisiplinan menjadi bekal utama berpetualang. Salah satu faktor utama yang wajib

MENGAIS REZEKI DI DASAR KAWAH SUNYI

MENGAIS REZEKI DI DASAR KAWAH SUNYI

Teguh Jiwa Brata Oct 12, 2020 4 min read

ORANGTUAIDAMAN.COM Banyak urusan di dunia ini yang bisa ditunda, tapi tidak untuk urusan perut. Perut “keroncongan” harus segera diisi, kebutuhan

error: Content is protected !!