PULAU SEBESI: ZAMRUD TERSEMBUNYI DI SELAT SUNDA

ORANGTUA IDAMAN – Tak sekadar menyandang kemolekan bentang alam. Pulau Sebesi pernah kaya serta memendam segudang potensi.

Pagi itu awal bulan Januari di dermaga Pantai Canti, Kalianda, Lampung. Anak-anak nelayan terlihat asyik bersama pancing dan udang sebagai umpan. Beberapa orang diantara mereka disibukkan dengan cumi-cumi yang berhasil mereka kail.

Sinar matahari masih merah dan hangat. Belum mendidih menjadi terik. Begitu pula wajah lautan pun masih teduh.  Seolah-olah dermaga itu lelap tertidur.

Mengarungi Selat Sunda membuat angan berpetualang menembus masa lalu. Meninggalkan kesunyian Pelabuhan Canti, menghayutkan diri kedalam riuhnya arus pelayaran di zaman perdagangan Perusahaan Hindia Timur Britania.

Peta Kuno Selat Sunda oleh R.A. van Sandick 1890 (Foto: Wikimedia)

Dulu, selat ini adalah jalur pokok pelayaran. Perusahan Hindia Timur Britania menggunakan sebagai pintu gerbang menuju Kepulauan Rempah-rempah Indonesia (1602 – 1799).

Selat Sunda dihiasi gugusan pulau hijau indah berselimut hutan bak zamrud. Sangiang si Pulau Penghalang Jalan, Sebesi, Sebuku, dan Pulau Pangeran alias Panaitan.

Keindahan Selat Sunda itu pun dikisahkan oleh John Joseph Stockdale dalam naskahnya yang diterbitkan tahun 1811.

John Joseph Stockdale:

Pintu masuk selat tersebut, di sini, memberikan panorama yang luar biasa dekat Pantai Sumatera Pertama. Flat Point yang berdataran rendah dan tertutup pohon-pohon, di baliknya ada gunung-gunung megah dari Sumatera, naik dengan tanjakan bertahap ke arah awan. Sedikit lebih ke depan, terdapat Keizers atau Pulau Raja (Emperor’s Island) dengan puncak bukitnya yangbtinggi dan berbentuk seperti menara. Sedikit l3bih jauh lagi ada pulau-pulau Krakatau (Kraketau), Slybzee, dan pulau Besi (Pulo Bricie), yang menunjukkan gunung-gunung mereka yang ditutupi pepohonan hijau”.

Kira-kira pukul 07.30, nada sunyi dipecah oleh kehadiran perahu dari Pulau Sebesi. Selepas kapal itu melego sauh dan berlabuh, Dermaga Canti riuh oleh kesibukan bongkar-muat.

Tak hanya manusia yang diangkut perahu berkapasitas 25 penumoang itu. Beraneka ragam hasil bumi terlihat dikeluarkan dari lambung perahu. Berkarung-karung kelapa saling berhimpit dengan pisang menjadi angkutan utamanya.

Butuh waktu kira-kira 30 menit untuk menyeberang ke Pulau Sebesi, begitu pula sebaliknya. Jadi, perahu itu beranjak dari Pulau Sebesi pukul 07.00.

Selepas perahu kosong, Dermaga Canti kembali terditur.

Menunggu kedatangan kapal menuju Pulau Sebesi di Pelabuhan Canti (Foto: Teguh Jiwa Brata)

Penumpang tujuan Pulau Sebesi masih harus sabar menanti. Perahu kami angkat jangkar pukul 13.00 tepat.

Kira-kira 3 jam menjelang berlayar, nahkoda meminta penumpang bersiap-siap.

Kesibukan Dermaga Canti pun menggeliat.

Tak banyak penumpang bersama kami menuju Sebesi. Seekor sapi turut masuk ke dalam buritan bersama kami. Beberapa sepeda motor bertengger di atas atap perahu.

Belayar bersama seekor sapi menuju Pulau Sebesi (Foto: Teguh Jiwa Brata)

Sayur-mayur, berkarung-karung beras, beragam jajanan dan makanan ringan turut berlayar mengarungi Selat Sunda. “Barang-barang itu kami beli sebagai barang dagangan di Sebesi”, papar wanita paruh baya, pemilik barang tersebut.

Sekitar 15 menit perahu beranjak dari dermaga, gelombang laut mulai bergejolak. Laju perahu tak lagi mulus. Deru mesin perahu seolah kenal lelah dan tak mau menyerah, terus mendorong kami ke tujuan.

Brak!… Brak!.. Duk!… suara keras haluan kapal beradu melawan hantaman ombak. Tak cuma sekali, pukulan gelombang itu terjadi berulangkali. Berpacu dan berbaur dengan degup jantung dan rasa was-was.

Nahkoda dan penumpang semua membisu, tenggelam dalam perasaan masing-masing. Begitu pula dengan sapi itu. Tetap tak bergeming, meskipun terkadang terhuyung-huyung ketika ombak besar mengguncang.

Tabiat Selat Sunda itu pun dikisahkan oleh Stokdale. Ia katakan bahwa menyebarangi Selat Sunda itu tak mudah. Perahu harus berjuang mengatasi tiupan angin dan arus yang datang dari arah berlawanan.

Arus yang kuat selalu mengalir melalui selat ini dengan angin dari timur atau dari barat yang mengembus baik ke arah timur laut atau barat daya.

Setelah beberapa saat digoyang di dalam buritan, gumam penumpang di atas perahu kembali terdengar. Meski hanya sekali-dua kali saja. Isyarat suasana tegang mulai mencair.

Perasaan lega akhirnya singgah, seiring sosok Gunung Sebesi yang terlihat kian dekat.

Bilik hati kembali cerah, mendengar seru nahkoda meminta bantuan petugas dermaga menambatkan tali agar perahu bisa merapat.

Berpagar Nyiur
Psisir Sebesi yang molek itu kini di depan mata. Beberapa pondok penginapan tampak tak jauh dari dermaga.


Anak-anak Pulau Sebesi bermain sampan (Foto: Teguh Jiwa Brata)
Anak Krakatau dilihat dari sisi tenggara Pulau Sebesi (Foto: Teguh Jiwa Brata)

Dilatarbelakangi Gunung Sebesi hijau. Lajur nyiur tumbuh subur di pinggir pesisir. Terhimpit di garis cakrawala, antara langit dan laut.

Dulu, Sebesi pernah tersohor karena nyiur. Pada tahun 1920, Pulau Sebesi pernah ditanami ribuan pohon kelapa. Bahkan laba berdagan kopra dari pulau ini pernah menjadi penyumbang dana perjuangan rakyat Kalianda, Lampung Selatan saat agresi Belanda II.

Pepohonan kelapa mendominasi vegetasi di Pulau Sebesi (Foto: Teguh Jiwa Brata)

Masa keemasan industri kelapa itu bergulir sampai awal tahun 1990. Seiring dibangunnya pengolahan minyak kelapa.

Era jaya Kelapa Dalam tenggelam ketika industri minyak sawit membanjir. Pertengahan tahun 1990an, Sebesi kembali sepi.

Kini, Sebesi riuh ketika Anak Krakatau menggeliat. “Naga” penghuni Selat Sunda ini terlihat dari sisi tenggara Pulau Sebesi.

Pesisir tenggara itu banyak di tumbuhi nyiur. Daun hijaunya menutupi tenah Sebesi yang berwarna hitam legam.

Menyamarkan segala potensinya agar tak terusik dan tetap lestari (orangtuaidaman.com)

BAGAIMANA KESANA?

Dari Pelabuhan Pakauheni, Anda dapat menggunakan kendaraan umum menuju Simpang Fajar. Dari simpang Fajar, naiklah angkutan menuju Pantai Canti.

Nah, setelah sampai di Pelabuhan Canti, Anda lantas menyeberang menuju Pulau Sebesi dengan perahu Reguler. Tarifnya Rp25.000 per orang. Jadwal penyeberangan hanya 1 kali dalam sehari. Yaitu pada pukul 13.00.

INI LHO LOKASINYA: Silakan Klik Gambar

Simak juga ragam wisata menarik ini

PANTAI AKARTINI BERSOLEK: KIAN MOLEK TAK MENJEMUKAN

PANTAI AKARTINI BERSOLEK: KIAN MOLEK TAK MENJEMUKAN

Teguh Jiwa BrataAug 4, 20223 min read

ORANGTUA IDAMAN – Pantai Kartini kian rupawan. Tak…

WARUNG KOPI JEMBATAN SOMOSARI: MANDI DI KALI BERSAMA SECANGKIR KOPI

WARUNG KOPI JEMBATAN SOMOSARI: MANDI DI KALI BERSAMA SECANGKIR KOPI

Teguh Jiwa BrataJun 25, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Sepotong ‘surga’, kudapan sederhana, bersanding…

PANCURAN PITU BATURRADEN: BERENDAM AIR HANGAT BERBONUS PIJAT URUT

PANCURAN PITU BATURRADEN: BERENDAM AIR HANGAT BERBONUS PIJAT URUT

Teguh Jiwa BrataJun 17, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Sebutan wisata kesehatan lebih cocok…

Load More

JALAN-JALAN JANGAN LUPA JAJAN-JAJAN

KISAH TERCIPTANYA BATAGOR

KISAH TERCIPTANYA BATAGOR

Teguh Jiwa BrataAug 6, 20221 min read

ORANGTUA IDAMAN – Batagor ‘lahir’ di Bandung. Batagor adalah akronim dari bakso tahu goreng. Isan adalah penjual bakso keliling di…

KOPI JAWA: DIGORENG DALAM SEJARAH PERBUDAKAN

KOPI JAWA: DIGORENG DALAM SEJARAH PERBUDAKAN

Teguh Jiwa BrataJul 29, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Di balik meriah warung kopi kelas kaki lima dan hinggar bingar caffe, kopi nusantara pernah melewati sejarah…

KULINER BURUNG PIPIT: BUDAYA, MITOS & NAFSU PRESTISIUS

KULINER BURUNG PIPIT: BUDAYA, MITOS & NAFSU PRESTISIUS

Teguh Jiwa BrataJul 13, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Tongseng, oseng-oseng, krengseng, dan satai emprit, hingga semur gelatik menawarkan 101 sensasi bagi penikmatnya. Sensasi semu itu…

SAYUR ASEM JOGLO H. MATALIH: 40 TAHUN MENGAWAL RASA SPESIFIK BETAWI

SAYUR ASEM JOGLO H. MATALIH: 40 TAHUN MENGAWAL RASA SPESIFIK BETAWI

Teguh Jiwa BrataJun 28, 2022

ORANGTUA IDAMAN — Bagi masyarakat Jakarta, soal sayur asem, H. Matalih jawaranya. Kedai legendaris itu berlokasi di Jalan Raya Joglo,…

PASAR DURIAN KUTO PALEMBANG: ICIP-ICIP DURIAN LEGIT TAK KENAL MUSIM

PASAR DURIAN KUTO PALEMBANG: ICIP-ICIP DURIAN LEGIT TAK KENAL MUSIM

Teguh Jiwa BrataJun 23, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Berlimpah, tak kenal musim, dan pantang tutup alias buka 24  jam. Hal itu membuat Pasar Durian Kuto…

error: Content is protected !!