ANGKRINGAN TERNYATA SUDAH LAHIR SEJAK ZAMAN BOROBUDUR

ORANGTUA IDAMAN – Tak sedikit media massa mengulas sejarah angkringan itu lahir di Klaten, benarkah demikian? Ada pula jurnalis bilang angkringan berasal dari kata ‘nangkring’ (duduk sambil mengangkat satu kaki di bangku) saat menikmati sajian. Ah masak iya sih?

Di tengah simpang siur kabar burung itu, angkringan ternyata berevolusi. Tak hanya dari sisi  karakter yang dulu adalah tempat makan egaliter, penuh kesetaraan, kini pelan-pelan direnggut kaum borjuis.

Mungkin, porsi nasi kucing bisa digunakan sebagai penanda taraf kemakmuran.

Mereka tak segan dan tak malu merebut kolam berkah wong cilik. Mengusungnya sebagai tren pengeruk laba kapitalis.

Angkringan dulu pekat dengan bumbu pedas kritik cerdas wong cilik kepada kebijakan timpang. Kini bumbu pedas itu hambar.

Dari segi bentuk, angkringan mengalami pergeseran makna. Yang awalnya pedagang pikulan, berubah menjadi gerobak, kaki lima, bahkan kini angkringan penuh gebyar bak kafe. Sinar senthir kian redup. Padahal, konon senthir pun menjadi salah satu ciri khas angkringan.

Antara angkringan, gerobak, kaki lima, dan kafe itu jelas berbeda.

Gilo-Gilo yang dijajakan dengan gerobak dorong.

Jika dilihat dari jenis makanan yang di sajikan, kuliner ini sesungguhnya tak jauh berbeda dengan gilo-gilo khas Kota Semarang, serta jajanan warung tenda lain di seputaran Jawa yang notabene sebelumnya tak mengenal istilah angkringan seperti yang sedang tren seperti saat ini.

Lantas, apa dan seperti apa to angkringan itu?

Nasi Kucing vs Dawet Ayu
Tak jauh dari Solo dan Yogya, ke arah barat kita bisa menikmati Dawet Ayu khas Banjarnegara. 0enjuak minuman cendoljuga punya ciri yang khas sama dengan penjaja sega kucing yang notabene disebut sebagai ‘angkringan’.

Dawet ayu dan nasi kucing sama-sama dijajakan dengan pikulan berbentuk melengkung ke atas. Pikulan dawet ayu seperti itu juga disebut angkringan. Sebutan lengkapnya adalah angkringan dawet ayu atau angdayu.

Meskipun dijajakan dengan angkringan, toh hingga saat ini dawet ayu tak disebut sebagai ‘angkringan’.

Dari Banjarnegara, yuk beranjak ke sebuah kota di pesisir utara Jawa. Di Pati, ada penjaja nasi gandul lengkap bersama dengan pikulan melengkung ke atas. Alat bakulan seperti ini pun disebut sebagai angkringan.

Angkringan Nasi Gandul di Pati.

Nasi, kuah kari dan aneka olahan daging sapi itu mengantung (gondal-gandul) di pikulan. Maka kemudian sajian itu dicap sebagai Nasi Gandul.

Nah lho, jadi bingung kan? Ada angkringan dawet ayu, ada angkringan nasi gandul. Lantas bagaimana dengan nasib angkringan di Solo dan Yogya?

Lebih tepat jika disebut sebagai angkringan nasi kucing. Atau, dengan meminjam istilah HIK ( Hidangan Istimewa Kampung) sebutlah sebagai angkringan HIK. Panyebutan angkringan tanpa hidangan itu tak lengkap. Seharusnya disebut lengkap dengan jenis jajanan yang dijajakan.

Oh, Ternyata Angkring Itu Alat
Angkringan berasal dari bahasa Jawa angkring yang berarti alat dan tempat berjualan makanan keliling. Pikulannya berbentuk melengkung ke atas.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut angkringan sebagai pikulan. Senada dengan keterangan tersebut, menurut artikel dalam Situs Kagama Istilah angkringan berasal dari bahasa Jawa, angkring yang berarti alat dan tempat menjual makanan, penjualnya berkeliling, dipikul serta berbentuk melengkung ke atas. 

Menurut Danang Lukmana dalam tulisannya berjudul Angkringan: Tempat Makan dan Wadah Kenangan, mengungkapkan bahwa angkring sudah digunakan masyarakat Jawa sejak abad 17 – 18 sebagai alat pikul. Tulisan tersebut menekankan bahwa angkring tidak selalu merujuk pada alat berjualan makanan atau minuman.

Pendapat itu diperkuat dengan bukti istilah angkring yang dipakai dalam kutipan Babar Tanah Jawi. “mikul angkring saben dina, môngsa mundhak-mundhaka, nora bisa lungguh ingsun” (memikul angkring setiap hari, tidak lekas bertambah, saya tidak bisa istirahat).

Nenek Moyang Angkring
Yuk, mari kita mundur lebih jauh ke belakang. Bentuk pikulan atau angkring seperti itu diperkirakan sudah digunakan Masyarakat Jawa sejak abad ke-8. Atau sejak zaman Borobudur.

Dalam relief Candi Borobudur Karma Wibhangga panel ke-43 kita dapat menemukan relief seorang pria sedang membawa pikulan persis angkring.

Relief Candi Borobudur Karma Wibhangga panel ke-43

Dalam panel itu digambarkan suatu bangunan dan sebuah pohon yang
diperkirakan sebagai pembatas adegan dalam relief. Gambaran di sisi kiri terdapat seorang pria dan seorang wanita duduk di atas singgasana. Di bawahnya terdapat lima laki-laki duduk bersila mengahadap kedua tokoh tersebut.

Terdapat pula tiga tokoh perempuan berdiri, dua di antaranya membawa benda yang mungkin untuk sesajian. Di sisi kanan bangunan terlihat tiga tokoh berdiri menghadap bangunan, tokoh pertama melakukan sikap penghormatan.

Di bawah tokoh pertama ada seorang tokoh yang sedang duduk membelakangi bangunan. Di antara ketiga tokoh yang sedang berdiri tersebut terdapat seorang tokoh sedang memikul
sebuah pikulan yang mungkin digunakan sebagai alat mengusung sesajian.

Angkring vs Ongkek
Tradisi mengangkat sesajian dengan pikulan mirip angkring itu juga dilakukan oleh masyarakat Tengger. Disana bermacam isi sesajian yang terdiri dari buah-buahan dan kua dipikul dengan ongkek.

Dengan bantuan ongkek, sesajian itu diusung lalu dilarung ke dalam kawah Bromo.

Jika ditelusuri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ongkek adalah perangkat pikulan dengan keranjang yang berkaki, seperti yang sering dipakai penjaja sate dan soto.

Merujuk pada keterangan tersebut, bahwasannya ongkek adalah pikulan yang kerap digunakan oleh penjaja sate dan soto, maka dapat diketahui bahwa pikulan yang kerap digunakan oleh penjaja sate dan soto madura tak lain adalah ongkek.

Pedagang soto madura (sumber: merdeka.com)

Bersumber dari merdeka.com, diketahui pria penjual soto yang terekam dalam potret tersebut berasal dari Madura. Keberadaan orang Madura sebagai penjaja soto di Surabaya sudah bisa ditelusuri sejak akhir abad ke-19.

Hal tersebut dapat diketahui dari seorang wartawan yang sudah memberitakan tentang kejadian tabrakan dokar dan pria Madura penjual soto di Surabaya.

Di daerah Tuban, ongkek digunakan sebagai alat pemikul tabung dari batang bambu sebagai wadah nira atau legen.

Nah, sejarah ongkek sebagai alat angkut nira ini pun terukir dalam relief Candi Jawi yang berlokasi di Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur.

Beralih dari Jawa Timur, kembali ke Borobudur di Jawa Tengah, pada kisaran tahun 80-an, banyak penjaja nira kelapa di sekitaran Candi Borobudur. Mereka pun menggunakan pikulan untuk membawa bumbung (tabung bambu) berisi nira.

Hal itu tak mengherankan, sebab saat itu di sekitar Candi Borobudur banyak tumbuh pohon kelapa. Seiring modernisasi dan pemugaran kawasan candi, pohon-pohon kelapa pun hilang. Seiring lenyapnya para penjaja nira bersama ongkek setianya.

Apa pun sebutannya, ongkek, angkring, atau pikulan telah menjadi khasanah budaya Jawa masa silam. Sebagai sarana angkut, keberadaannya terbukti menorehkan banyak jasa bagi kehidupan manusia Jawa (orangtuaidaman.com)

BACA JUGA KABAR KULINER INI

KISAH TERCIPTANYA BATAGOR

KISAH TERCIPTANYA BATAGOR

Teguh Jiwa BrataAug 6, 20221 min read

ORANGTUA IDAMAN – Batagor ‘lahir’ di Bandung. Batagor…

KOPI JAWA: DIGORENG DALAM SEJARAH PERBUDAKAN

KOPI JAWA: DIGORENG DALAM SEJARAH PERBUDAKAN

Teguh Jiwa BrataJul 29, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Di balik meriah warung kopi…

KULINER BURUNG PIPIT: BUDAYA, MITOS & NAFSU PRESTISIUS

KULINER BURUNG PIPIT: BUDAYA, MITOS & NAFSU PRESTISIUS

Teguh Jiwa BrataJul 13, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Tongseng, oseng-oseng, krengseng, dan satai…

Load More

SIMAK PULA WARTA WISATA INI

PANTAI AKARTINI BERSOLEK: KIAN MOLEK TAK MENJEMUKAN

PANTAI AKARTINI BERSOLEK: KIAN MOLEK TAK MENJEMUKAN

Teguh Jiwa BrataAug 4, 20223 min read

ORANGTUA IDAMAN – Pantai Kartini kian rupawan. Tak lagi tampil ala kadarnya bermodal kedai-kedai seafood, mi gelas dan Kura-kura Ocean…

BUKAN KLEIN SCHEVENINGEN KECIL: TIRTA SAMUDERA TETAP KHAS TANPA DIBANDINGKAN

BUKAN KLEIN SCHEVENINGEN KECIL: TIRTA SAMUDERA TETAP KHAS TANPA DIBANDINGKAN

Teguh Jiwa BrataAug 3, 2022

ORANGTUA IDAMAN – R. A. Kartini pernah berkata, Pantai Tirta Samudera adalah Pantai Klein Scheveningen Kecil. Konon, pantai ini adalah…

PULAU SEBESI: ZAMRUD TERSEMBUNYI DI SELAT SUNDA

PULAU SEBESI: ZAMRUD TERSEMBUNYI DI SELAT SUNDA

Teguh Jiwa BrataJun 29, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Tak sekadar menyandang kemolekan bentang alam. Pulau Sebesi pernah kaya serta memendam segudang potensi. Pagi itu awal…

WARUNG KOPI JEMBATAN SOMOSARI: MANDI DI KALI BERSAMA SECANGKIR KOPI

WARUNG KOPI JEMBATAN SOMOSARI: MANDI DI KALI BERSAMA SECANGKIR KOPI

Teguh Jiwa BrataJun 25, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Sepotong ‘surga’, kudapan sederhana, bersanding secangkir kopi tersaji disini. Bening embun, sejuk air sungai, sawah hijau bak…

MONUMEN YESUS MEMBERKATI: MARILAH KEPADAKU, SEMUA YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT…

MONUMEN YESUS MEMBERKATI: MARILAH KEPADAKU, SEMUA YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT…

Teguh Jiwa BrataJun 22, 2022

ORANGTUA IDAMAN –  “Suatu kerinduan besar bagi kami untuk melihat, manjamah dan merasakan panggilan Yesus” sepotong kalimat yang mengilhami Dr.…

error: Content is protected !!