KERIS DAN KEGILAAN: MENGUAK MYSTERIUM TREMENDUM ET FASCINOSUM SEBILAH DHUWUNG

ORANGTUA IDAMAN – Keris  adalah media sekaligus simbol pengejawantahan aspek spiritual Masyarakat Jawa.  Kehidupan mereka tak pernah tercerai dari senjata tikam ini. Tanpa dhuwung (keris), Manusia Jawa tak utuh. Mengapa?

Sepanjang sejarahnya, keris mengalami metamorfosa, dari yang awalnya sebagai senjata tikam, berevolusi menjadi harta sakral penyibak relasi manusia dengan Penciptanya. Keris menjadi penerjemah simbol eksistensi ranah supranatural yang tak terdefinisikan oleh kamus bahasa verbal.

Artikel ini berhasil menjuarai Lomba Menulis Artikel Keris yang diselenggarakan oleh Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia.

Dalam berbagai hal, eksistensi hanya dapat diekspresikan melalui simbol. Eksistensi yang tak terdefinisikan oleh kata-kata itu akhirnya menjadi sebuah misteri. Masyarakat Jawa menyebut misteri itu sebagai ‘klenik’ atau yang disembunyikan. Walaupun demikian, misteri itu bukan rahasia yang tak terkuak. Hanya insan tanggap ing sasmita yang berhasil merasuk ke dalam ranah tak terjamah lafal verbal. Menemukan kesejatian. Sementara itu, bagi yang telah menemukan, ia tak mampu berkata-kata. Hanya bisa terus tafakur tak berujung. Mirip seperti lirik sebuah tembang dolanan, cublak-cublak suweng, sapa ngguyu ndelikake.

Ttadisi di Parangkusumo (Kredit: stringfixer.com)

Rudolf Otto, pakar fenomologi agama, dalam bukunya yang berjudul Das Heilige (The Idea of The Holy – Gagasan Tentang Yang Kudus) mengatakan bahwa Yang Kudus itu sebagai Misteri Kekuasaan Illahi yang mempesona (Mysterium Tremendum et Fascinosum).

Kegilaan Manusia Jawa
Metamorfosa keris itu ironis. Senjata tikam ini berevolusi menjadi simbol eksistensi kesucian, sumber kedamaian kodrati dan kasunyatan sejati yang tak dapat didefinisikan dengan tutur kata.

Melalui keris, manusia Jawa berusaha bertemu dengan kerinduan sejati yang tak terbantahkan dan tak terelakkan. Keris mengobati kerinduan manusia kepada sangkan paraning dumadi. Menguak misteri kekuasaan Illahi yang mempesona. Keindahan, kedamaian sejati,  yang ingin selalu direguk setiap insan. Kecintaan yang melebihi apa pun. Keris adalah “kegilaan”.

Budaya adalah buah adaptasi manusia terhadap pengaruh lingkungan dan alam. Tanggap ing sasmita adalah nilai budaya pekat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nilai itu membuat seseorang peka terhadap berbagai pertanda alam yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, serta peka terhadap arah pembicaraan.

Nilai tanggap ing sasmita juga membuat makna dan nilai dalam pesan menjadi fleksibel. Bisa diterima dalam beragam kondisi, tak mempan ditelan sang kala (tak lekang oleh waktu), dan terbebas dari dibelenggu ruang.

Sasmita tak lain adalah informasi simbolis. Menurut Dr. Hans J. Daeng dalam bukunya berjudul Manusia Kebudayaan, dan Lingkungan, memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional dipenuhi dengan Yang Suci yang hadir secara simbolis.

Fakta ini  pun terpantul dalam berbagai relasi Manusia Jawa dengan alam. Masyarakat tradisional yang religius menanggapi berbagai fenomena alam sebagai penampakan diri atau manifestasi dari Yang Suci. Kehadiran tersebut dipertegas dengan ritus dan simbol.

Ritus merupakan sarana bagi manusia religius agar bisa beralih dari waktu duniawi menuju waktu Yang Suci. Di dalam ritus, manusia meniru tindakan Yang Suci agar berkemampuan menembus batas kondisi manusiawi.  Keluar dari waktu kronologis, memasuki waktu awal mula Illahi yang menjadi rahim kelahiran dunia.

Ritus dan tradisi seperti itu banyak dianut masyarakat. Contohnya yaitu keterlibatan sosok keris beserta kehebatan energi supranaturalnya dalam peristiwa  asal mula Gunung Merapi dan  Gunung Kelud. Di luar kedua kisah itu, masih banyak mitos keampuhan keris lain yang dianut (diugemi) oleh masyarakat.

Upacara keagamaan di Bromo (kredit: stringfixer.com)

Masayarakat Jawa mengaitkan tabiat garang Gunung Kelud melalui kisah Keris Empu Gandring. Keris yang dibalut kutukan terbukti berperingai culas pun haus darah. Ken Arok sebagai sang pemilik,  Kebo Ijo, Anusapati, bahkan Empu Gandring pembuatnya, hidupnya berakhir di ujung keris itu.

Setelah mencabut banyak jiwa, keberadaan keris legendaris tersebut tak diketahui. Banyak orang percaya Keris Empu Ganding lenyap ditelan kawah Gunung Kelud. Sehingga, ketika aktivitas vulkaniknya menggeliat, masyarakat selalu mengaitkannya dengan sosok angker Keris Empu Gandring.

Mitos lain soal keris lahir dari rahim panas Gunung Merapi. Mengutip dari artikel Majalah Intisari, asal-usul Gunung Merapi tak luput dari mitos Empu Rama dan Empu Permadi. Dalam epic tersebut, dikisahkan bahwa ketika diciptakan oleh dewa, kondisi Pulau Jawa tidak seimbang. Salah suatu dewa itu bernama Krincingwesi.  Ia bermaksud merancang keseimbangan di atas tlatah Jawa dengan memindah Gunung Jamurdipo menuju pusat Pulau Jawa.

Namun hajat Dewa Krincingwesi terganjal oleh Empu Rama dan Empu Permadi yang sedang asyik menempa keris di tengah Pulau Jawa. Enggan diusik, kedua empu itu menolak menggeser lokasi pembuatan keris. Dewa pun marah, merasa permintaannya tak digubris oleh manusia. Puncak Gunung Jamurdipo dibetot oleh Krincingwesi . Dihempaskan ke arah bengkel tempa besi (besalen), tempat dua orang empu itu asyik menempa keris. Kedua empu itu pun tewas. Terkubur ujung Gunung Jamurdipo. Gunung itu lantas diberi nama Merapi. Artinya,  tempat perapian membuat keris.

Masyarakat di kaki Gunung Merapi meyakini roh Empu Rama dan Empu Permadi memimpin kerajaan makhluk astral penghuni Gunung Merapi. Mereka dipercaya mengemban tugas menjaga Gunung Merapi. Melindungi segenap warga disana dari bencana. Memberi isyarat ketika Gunung Merapi punya hajat.

Lantas bagaimana dengan kebenaran mitos seperti itu?

Mitos Itu Kebenaran
Menurut Mircea Elidae, sejarawan, filsuf, penulis fiksi Rumania dan profesor di Universitas Chicago,
mitos bukan merupakan pemikiran intelektual, bukan pula hasil logika. Melainkan orientasi spiritual dan mental dalam berelasi dengan Yang Ilahi. Bagi masyarakat tradisional,  mitos adalah kebenaran sebuah cerita. Babad  itu lantas mereka miliki, menjadi sesuatu yang paling berharga, dipundi-pundi, suci,  bermakna, serta menjadi contoh model bagi manusia dalam bertindak. Memberi makna dan nilai kehidupan. 

Mitos menceritakan suatu realitas mulai bereksistensi melalui tindakan makhluk supranatural.  Mitos senantiasa menyangkut suatu penciptaan yang dianggap sebagaimana jaminan eksistensi dunia dan manusia.  Hakekat tertinggi Tuhan, Pencipta alam semesta menyatakan diri melalui ciptaan-Nya.

Dalam kaitannya dengan kenyataan yang terungkap, maka sikap yang bijaksana adalah berpasrah diri kepada Sang Pencipta dalam seluruh hidup manusia. Agar tercapai  tingkat kemajuan yang tinggi, perlu disempurnakan relasi dan dialog dengan Sang Pencipta. Hal itu dapat direalisasi melalui hubungan dengan sesama manusia. Karakter selaras dengan alam inilah yang melekat dalam diri Manusia Jawa.

Selain melalui mitos, eksistensi Sang Khalik juga terkandung dalam  fisik keris itu sendiri. Hebatnya, keris mampu mengemas mitos ke dalam lipatan-lipatan pamor. Di dalamnya, tersimpan makna Hakekat Tertinggi, Tuhan, Pencipta Alam Semesta, yang menyatakan diri melalui ciptaan-Nya. Sabda yang hidup, manunggaling kawula klawan Gusti.

Ketika bangsa lain mengupas mitologi penciptaan semesta dengan gambaran dunia dan jagat,  masyarakat Jawa justru melipat kisah Maha Agung itu secara rapi dan penuh keindahan dalam sebilah keris.

Simbol kehadiran Sang Pencipta dalam sebilah keris terpancar dari pamor. Tak sebatas ekspresi kehebatan teknologi metalurgi. Pamor berarti ‘awor’, atau menjadi satu. Meteorit dalam keris berasal dari angkasa. Melambangkan unsur ketuhanan. Pemberian atau anugerah langsung dari Sang Pencipta.

Di besalen, logam angkasa itu ditempa menjadi satu dengan baja dari rahim pertiwi. Hasilnya, lahirlah keris, buah perkawinan antara logam angkasa dan besi bumi. Simbol bersatunya Ibu Bumi dengan Bapak Angkasa. Keris adalah pengejawantahan trilogi Illahi, alam semesta, dan manusia. Bersatunya Yang Disembah dengan yang menyembah. Manunggaling kawula klawan Gusti.

Tentu saja masih banyak roh atau spirit (nilai luhur) lain yang manjing di dalam keris. Manunggaling wilah lan warangka,  ujung keris yang runcing menuju ke atas, bertemu dengan ujung kekosongan, bak golong giliging tumpeng.

Ah… rasanya tak akan pernah pupus menguak misteri Illahi dalam sebilah keris, meski usia telah selesai. Alam semesta yang Maha Luas sekaligus wajah Sang Pencipta dilipat rapi dalam sebilah keris oleh sang empu. Sekali lagi… Keris adalah kegilaan!

Pamor keris yang kian redup menjadi isyarat kehidupan spiritual Manusia Jawa kian buram. Lunturnya budaya keris adalah pertanda kian jauhnya kehidupan dari kesucian.

Keris seharusnya lestari. Tak sebatas kegilaan pamor fisik, namun seyogyanya roh keris manjing dalam kehidupan pun mewarnai nafas. Agar lahir manusia utuh dan selaras (orangtuaidaman.com).

Yohana Erlina

Guru, pemerhati pendidikan, dan penulis.

error: Content is protected !!