ATURAN KELAS ITU SEYOGYANYA PARTISIPATORIS

ORANGTUA IDAMAN – Siswa seharusnya dilibatkan dalam proses meramu aturan kelas. Sehingga tercipta aturan kelas yang efektif.

Peraturan kelas yang efektif pada gilirannya dapat mendukung terciptanya suasana belajar dan mengajar yang kondusif. Selain suasana tertib, aturan seperti ini dapat menghindari kemungkinan munculnya keterpaksaan siswa.

Peraturan kelas partisipatoris melatih siswa hidup selaras dengan hukum dalam bingkai kesadaran, bukan keterpaksaan.

Berikutnya, kesadaran akan berbuah komitmen dan kejujuran. Dua bekal penting tersebut yang akan menjadi modal bagi siswa untuk meramu kesuksesan.

Dimana pun kita tinggal, aturan selalu kita jumpai. Salah satunya di dalam kelas. Aturan merupakan kesepakatan bersama. Diramu dan disesuaikan dengan norma, kondisi lingkungan dan tujuan bersama yang ingin dicapai.

Umumnya, aturan kelas sudah terpampang di dalam kelas sejak siswa belum menjadi penghuni kelas tersebut. Jalas! Aturan seperti ini tak melibatkan aspirasi, ekspresi, dan kepedulian siswa di dalamnya.

Hukum kelas seperti itu cenderung akan menghambat proses belajar mengajar. Sebab tak sesuai dengan aspirasi dan ruang berekspresi yang dibutuhkan siswa.

Tips berikut menyuguhkan metote yang memungkinkan peserta didik menetapkan berbagai aturan perilaku mereka sendiri.

Ketika mereka menjadi bagian dari proses membangun tim itu, maka mereka lebih mungkin mendukung norma-norma yang dibangipun tersebut.

Bagaimana prosedurnya?
1. Memilih beberapa orang perwakilan siswa di dalam kelas. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah siswa. Perwakilan itu diberi tugas sebagai pewawancara.

2. Meminta pewawancara melakukan observasi seluruh kelas. Berilah tenggat waktu, misalnya selama 10 – 15 menit. Selama menjalankan observasi, pewawancara diberi tugas melakukan wawancara terhadap anggota kelas.

Mintalah pewawancara menanyakan hal berikut: perilaku apa saja yang berpotensi menganggu serta perilaku apa saja yang dapat mendukung situasi belajar dan mengajar di kelas.

3. Pewawancara diminta melaporkan penemuan yang mereka peroleh. Agar lebih sistematis, laporan disusun dalam bentuk tabel atau poin-poin.

5. Menyusun aturan dasar kelas dengan bahan baku hasil wawancara.

4. Melibatkan seluruh peserta didik dalam proses meramu aturan dasar yang diinginkan oleh kelas.

6. Terkadang hasil wawancara saling tumpang tindih dan bersifat saling berlawanan (antagonis). Dibutuhkan proses untuk menganalisa hal itu agar dapat diurari secara baik.

Ajak seluruh siswa bermusyawarah untuk menemukan titik temu antara poin-poin yang saling antagonis tersebut.

Seluruh ekspresi dan aspirasi dari siswa akan turut mewarnai aturan yang disusun.

7. Tak lupa menyusun pula racikan hukuman atau konsekwensi bagi pelanggar aturan yang telah disepakati bersama.

Arahkan agar hukuman yang disepakati berupa hukum positif. Sehingga hukuman tersebut dapat memberikan harapan bagi pelanggar hukum.

Suasana menyenangkan lahir daei aturan partisipatoris. Pada gilirannya, rasa senang akan meledakkan gairah belajar seluruh penghuni kelas. (orangtuaidaman.com).

error: Content is protected !!