BURAYAK CUPANG: AIR TUA TOLAK KEMATIAN 

MINGGU PERTAMA SELEPAS MENETAS, ADALAH SAAT MENDEBARKAN BAGI BREEDER PEMULA. BURAYAK MUDAH STRES. BILA TAK DIANTISIPASI, BAYI CUPANG PASTI MENEMUI AJAL.

Menurut Tek Kiong, “penghulu”cupang di Tegalsari, Tangerang, ada 3 hal dapat menyikat habis anak cupang. Kualitas air buruk, kurang pasokan pakan, dan cuaca tak menentu.

Cupang adalah ikan berkemampuan beradaptasi di air yang buruk. Namun karakter itu tidak berlaku bagi burayak. Kualitas air harus tetap terjaga.

Terlebih bagi burayak berusia kurang dari seminggu. “Burayak berumur di bawah seminggu, masih riskan mati,” papar Tek Kiong.

Penuaan Air
Untuk menjaga kualitas air tetap bagus, Tek Kiong harus menuakan air selama 2- 3 hari yerlebih dulu. Dalamnproses itu, air diberi gelembung udara melalui aerator. Setelah itu, dituang dalam akuarium khusus burayak.

Setelah air beres, sekarang giliran persiapan menu. Burayak beumur 2-3 hari belum butuh pakan. Mereka masih menyimpan egg yolk alias cadangan makanan dari kuning telur. Setelah usianya 4 hari, burayak baru butuh pasokan makanan.

Anda bisa menyajikan kutu air (dapnia) saring dan artemia yang telah dikultur. “Tapi kalau saya lebih memilih artemia,” papar Tek Kiong. Alasannya, ukuran artemia lebih kecil dibandingkan kutu air. Sehingga burayak bakal lebih mudah mengonsumsi artemia ketimbang dapnia.

Raja Burayak

Pertumbuhan burayak tidak merata. Umumnya telur yang menetas duluan, menghasilkan “raja burayak”. Ukuran tubuhnya besar. Sehingga ia selalu memenangkan dalam berebut makanan. Sedangkan anakan bertubuh mungil bakal tersisih. Jika jatah makannya terus diserobot, si kecil bisa gagal bertahan hidup. Agar terhindar dari masalah ini, si burayak raja mesti dipisahkan dalam wadah khusus.  

Menu ini bisa terus digunakan hingga burayak berumur 3 minggu. Setelah itu Anda bisa mengombinasikan dengan cacing tubifex dan dapnia kasar.

Pasokan aneka pakan penting untuk menunjang metabolisme bayi cupang. Konsekuensinya bakal tercipta sisa metabolime yang tak terpakai dalam bentuk kotoran ikan. Bila terlalu lama menumpuk, bisa meningkatkan kadar amonia dalam air.

Guna mengatasi masalah ini, Tek Kiong bakal mengganti air hingga 50% setiap 2-3 hari sekali. Caranya dengan menggunakan gayung yang telah ditutupi saringan lembut. Dengan cara seperti itu, burayak bakal tersaring dan tak bakal terbuang. “Jadi lebih aman ketimbang penyifonan,” papar Tek Kiong.

Khusus penyifonan, sebagian peternak menyarankan agar dilakukan ketika burayak berumur lebih dari 5 hari. Pasalnya, arus kuat dari selang dikhawatirkan bakal turut menyedot anakan. Sebagai pencegahan, peternak menyelipkan beberapa tanaman air untuk tempat burayak berlindung.

Minyak Permukaan
Selain tumpukan kotoran, lapisan minyak di permukaan air juga bisa menjadi indikator menurunnya mutu air. Bila dibiarkan bakal menyebabkan burayak kesulitan bernapas. Cara mengatasinya? Celupkan lembaran koran ke permukaan air, minyak pun  bakal menempel.

Kematian burayak bisa pula karena populasi berlebih. Sehingga terjadi rebutan oksigen. Seperti diutarakan Handie, breeder di Tangerang, yang baru mencoba  menangkarkan cupang giant. “Ukuran akuarium kecil. Sementara jumlah anakannya ribuan,” papar Handie.

Sementara Tek Kiong mengunakan akuarium berukuran 30cm x 20cm x 20cm untuk setiap burayak cupang yang baru menetas. Anakan bakal berada di tempat ini hingga berumur 2 minggu. Setelah itu remaja cupang bakal menempati ember pembesaran.

Faktor berikutnya yang berpengaruh ialah kondisi cuaca. Menurut Tek Kiong, bila cuaca terlampau panas atau terlampau dingin, bisa pula menyebabkan kematian bagi si burayak. Dalam kondisi normal, anak ikan cupang betah berada di dalam air bersuhu  26-28°C. Jika air dalam wadah pembesaran burayak bersuhu terlampau tinggi, segera tambah aerator. Langkah ini bisa menolong burayak merasa adem. Sebaliknya jika suhu terlampau dingin, tak ada salahnya dipasang heater alias elemen pemanas.

Semoga burayak cupang tumbuh sehat (orangtuaidaman.com)

Sortasi

Pemilihan dan pemisahan burayak mesti dilakukan. Karena seiring bertambahnya usia burayak, sifat untuk mempertahankan daerah kekuasaannya bakal semakin tinggi. Akibatnya terkadang terjadi perkelahian diantara mereka. Jika anakan mengalami luka, dikhawatirkan bakal mengundang infeksi sekunder yang mengancam keselamatannya. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada saat burayak berusia 4 minggu. Ternyata proses penggantian air, semakin memacu hormon dalam tubuh ikan memproduksi cairan tertentu yang menyebabkan ikan jadi lebih agresif.

Untuk mencegah “perkelahian” antarburayak, peternak bisa meletakkan tanaman air. Semisal Hidrilla. Tetumbuhan ini berperan sebagai tempat bersembunyi sekaligus menghindari konfrontasi. Dengan begitu keributan sesama burayak bisa dihindari. Kalau tak ada tanaman air, bisa menggunakan potongan tali rafia yang dibuat berumbai-rumbai. Tali rafia dicelupkan di wadah penangkaran. Material itu cukup efektif sebagai “border” diantara para jagoan cupang.

Ketika ukuran tubuhnya semakin membesar (sekitar 7-8 minggu), lakukan sortasi. Pada tahapan ini mereka dipilih dan dikelompokkan berdasarkan jenis kelaminnya. Jantan dan betina. Saat usia 10-12 minggu, baru dilakukan sortasi berdasarkan kualitas ikan. Ikan-ikan terpilih ditempatkan dalam akuarium. Bisa juga menggunakan wadah berukuran 15cm x 15cm x 20cm.

error: Content is protected !!