MENDESAK! DIBUTUHKAN PENDIDIKAN MEDIA MASSA SEBAGAI FONDASI INDONESIA TANGGUH

ORANGTUA IDAMAN – Kebodohan massal adalah awal tenggelam dan hancurnya sebuah bangsa di tengah tsunami kebohongan publik serta komersialisasi media massa tak beretika.

Dalam kurun waktu yang sama, bangsa ini menghadapi dua tantangan besar. Di satu sisi harus bertahan dan berjuang keluar dari pagebluk (pandemi covid-19), di sisi lain, satu kaki kita dipasung oleh pagemblung (kebodohan massal).

Pandemi Covid-19 hendak lah menjadi guru bijak bagi anak negeri. Bencana kemanusiaan ini sejatinya justru memberi terang,  memaksa kita membuka mata. Banyak sisi lemah negeri ini tersingkap, menganga, dan nyata. Salah satunya adalah miskin khazanah literasi.

Perbendaharaan literasi cekak membuat anak negeri kerap diperdaya dan tak kuasa membendung tsunami infomasi di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi telekomunikasi.

Saat ini, masyarakat dapat memperoleh informasi dan pengetahuan dalam jumlah banyak secara gampang. Akan tetapi, pengetahuan ini justru sering menyesatkan pemahaman seseorang.

Buta huruf tak lagi bisa ditakar dengan kemampuan membaca dan menulis. Kecakapan berpikir kritis dan ketajaman menganalisa menjadi tolok ukur terbebasnya seseorang dari kebodohan.

Sebab, siapa pun bisa menelan informasi murah yang berlimpah itu. Namun tak semua orang berkemampuan mencerna serta memilah informasi tersebut.

Di tengah kemelut kabut pandemi Covid-19, pemerintah kalangkabut akibat hoaks marak meracuni otak sebagian besar masyarakat.

Rentetan berita palsu sengaja dihembuskan oleh pihak berhati tumpul dan pejal. Memperkeruh dan menyulut kegaduhan. Berita itu dipelintir demi pemuas rasa lapar legitimasi ambisi ekonomis dan politis.

Sungguh tragis, kebodohan digunakan sebagai perisai demi menggapai tampuk kekuasaan, serta pemuas hasrat mengeruk laba. Oleh karenanya, tak sedikit jiwa melayang jadi tumbal.

Berita pembodohan viral demi menjegal upaya penanggulangan pandemi Covid-19. Ketika itu terjadi, ekonomi pasti terdampak. Peluang mendiskriditkan pemerintah pun terbuka lebar.

Pandemi tak sekadar soal virologi dan protokol kesehatan. Lebih dari itu, meliputi banyak aspek, ekonomi, sosial, politik, sosiologi, bahkan budaya. Pemahaman soal pendemi membutuhkan literasi yang kompleks.

Disisi lain, media massa yang seharusnya menjadi pengasuh dan pendidik bangsa justru berubah menjadi agen penyiar propaganda politik dan periklanan.

Media massa berlomba-lomba manarik perhatian pemirsa. Lebih menekankan materi penyiaran ke arah hiburan. Menyajikan materi yang dipangkas, sehingga tidak melatih berpikir.

Sajian informasi yang diunggulkan adalah hiburan ringan dan informasi remeh-temeh. Akibatnya, topik informasi pengisi acara siaran sebatas hubungan keluarga, seks, kejahatan, dan kekerasan.

Kekerasan selalu menarik perhatian masyarakat karena melibatkan persoalan kehidupan, kematian, dan keadilan. Namun disayangkan, perhatian alami ini disalahgunakan. Sedangkan kekerasan dieksploitasi dan diidealisasi.

Harus diakui, peringai garang anak negeri adalah buah didikan media massa. Adab sopan santun diabaikan. Sikap suka membully dan mencaci dibudidayakan. Selaras dengan artikel di laman Kominfo yang berjudul Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos

Menurut informasi yang bersumber dari laman resmi Kominfo, saat ini Kemenkominfo telah melabeli 1.556 hoaks terkait Covid-19, serta 177 hoaks terkait vaksin Covid-19. Informasi lain memaparkan sekitar 800.000 situs di Indonesia diindikasi sebagai penyebar hoaks.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan Kominfo mengungkapkan, kira-kira 202,6 juta rakyat indonesia adalah pengguna intenet. Meningkat 15, 5 persen atau 27 juta jiwa dari tahun 2020.

Padahal, pendukuk Indonesia saat ini berjumlah sekitar 271,34 juta jiwa. Jika 202,6 juta rakyat indonesia adalah  pengguna intenet, itu berarti hampir seluruh anak negeri rawan terpapar hoaks. Rentan dilanda pagemblung.

Hoaks adalah virus lain yang berpotensi merusak otak serta mengancam kehidupan dan keutuhan berbangsa dan bernegara.

Hoaks yang menjamur mengisyaratkan rapuhnya fondasi literasi masyarakat. Anggapan pandemi sebagai konspirasi, ketakutan terhadap vaksinasi, ketidaktaatan pada protokol kesehatan, kepanikan berbelanja susu dan obat yang belum jelas peruntukannya  adalah bukti nyata kebodohan massal.

Ironisnya, kisah-kisah pandir itu juga dianut oleh orang-orang yang notabene berpendidikan tinggi.

Mengapa ironi itu terjadi? Salah satu akar permasalahnnya yaitu dunia pendidikan. Seharusnya, sekolah adalah tungku penempa anak negeri. Disana, karakter, kepribadian dan pemikiran seseorang dibentuk.

Namun, nyatanya gelar akademis tinggi tak selamanya dapat menjadi cermin kecakapan menganalisa fenomena aktual. Ini adalah bukti sekolah tidak menyatu dengan masyarakat.

Pendidikan literasi memang sudah termuat di dalam Kurikulim 2013 (kurtilas). Tetapi, nyatanya pelaksanaan model pendidikan leterasi tersebut tak menerapkan pola berliterasi kritis, masih berlandaskan textbook (buku ajar). Belum menyentuh isu-isu nyata dan aktual.

Model pendidikan textbook seperti itu tidak mengakar pada kehidupan bermasyarakat.  Sehingga dunia pendidikan menjadi tidak relevan dan belum menjawab kebutuhan kehidupan masyarakat.

Pendidikan Media Massa Sebagai Solusi
Melalui pendidikan media massa, diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir anak, melatih kepribadian, proses emosi, kecerdasan dan pengenalan, mendorong partisipasi demokratis anak dan remaja, serta mewujudkan masyarakat dan sekolah yang terintegrasi.

Di dalam pendidikan media massa, literasi ilmiah (textbook) bersinergi dengan literasi aktual yang sedang berlangsung.

Diharapkan sinergi tersebut pada akhirnya membentuk karakter kritis peserta didik.

Drs. Raden Mas John Tondowidjojo, dalam bukunya yang berjudul Media Massa & Pendidikan, mengatakan bahwa teori dan praktik harus dilaksanakan secara bersama-sama.

Sehingga dalam berlatih praktik, teori dapat digunakan sebagai alat analisa persoalan dan gejala yang ditemui oleh peserta didik.

Pendidikan media massa seperti ini dapat menjalin hubungan antara teori dengan praktik dalam mengajar, serta mengintegrasikan sekolah dengan masyarakat.

Arus informasi yang kian masif dan pesat menuntut masyarakat berkemampuan menyerap, menilai, berpikir kritis dan analitis.

Agar dapat menganalisa secara ilmiah berbagai gejala yang diberitakan media, dibutuhkan kadar pengetahuan yang memadahi sebagai dasar studi penelitian.

Pendidikan media massa bukan hanya membantu peserta didik menganalisa media, tetapi juga mampu menilai keabsahan informasi yang disampaikan dan data dokumentasi yang menjadi dasarnya, kebenaran fakta yang disajikan, jumlah fakta, hubungan antar fakta dengan kesimpulan yang ditarik, serta landasan etis yang mendasarinya.

Cara ini juga membangkitkan hasrat peserta didik untuk aktif terlibat, menemukan jati diri, memahami perbedaan, menjelaskan pertentangan yang disampaikan oleh media, menyerap informasi, serta memperoleh pengalaman baru.

Sikap aktif murid penting untuk menghadapi informasi dari media massa yang sering berlawanan dengan pengalaman mereka.

Hal yang harus ditanamkan dalam benak peserta didik yaitu, pentingnya membiasakan diri bertanya: kepentingan apa dan siapa yang melatar belakangi sebuah informasi dimuat oleh media massa? Pertanyaan lain yaitu, mengapa suatu media massa mengabaikan berbagai segi dalam masyarakat?

Roh Pendidikan Media Massa sesungguhnya adalah membaca kritis. Sedangkan selama ini, siswa di sekolah hanya dibekali keterampilan membaca konvensional.

Akibatnya, hanya keterampilan membaca konvensional lah yang dimiliki oleh mayoritas masyarakat.

Membaca kritis dengan membaca konvensional itu berbeda. Berbekal kecakapan membaca konvensional, seseorang hanya memperoleh informasi sesuai dengan yang disajikan media massa. Tanpa memikirkan keabsahan argumen yang membentuk tulisan tersebut.

Sementara itu, pembaca kritis akan menguji informasi. Kemudian menilainya apakah dilatarbelakangi dengan argumen logis atau sebaliknya menolak dan memberi koreksi karena menerapkan argumen tak logis.

Seorang yang terlatih membaca kritis selalu bersikap meragukan (skeptis). Enggan menelan mentah-mentah informasi yang tersaji, sebelum diuji keabsahan argumen yang menjadi latar belakang.

Guru Masa Depan
Dalam praktiknya, pendidikan media massa diterapkan dengan cara menyinergikan antara materi dalam kurikulum, buku-buku pelajaran, dengan isu-isu yang diterbitkan oleh media massa.

Tantangan yang dihadapi yaitu, dibutuhkan tenaga pendidik melek literasi, tidak gagap teknologi, tanggap kondisi sosial aktual, serta mengantungi bekal kecakapan analisa dan pemikiran kritis.

Dengan demikian, seorang guru seharusnya tidak hanya fasih di ranah textbook, namun juga kaya khazanah literasi, berpola pikir kirtis, dibekali pisau analisa tajam, serta kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata yang dihadapi siswa.

Contoh model pendidikan media massa sederhana yang kerap dilakukan yaitu praktik membuat kliping. Disusun berdasarkan tema tertentu yang bersumber dari berbagai media massa.

Setelah itu, siswa diminta agar membandingkan informasi dari media massa satu dengan yang lainnya. Selanjutnya menganalisa secara ilmiah dengan dalil yang sesuai, dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi dari berbagai sumber tersebut.

Proses menarik kesimpulan tersebut sejatinya adalah poses mengasah pisau analisa dan berpikir kritis.

Sebagai senjata melatih kemampuan menganalisa dan berpikir kritis, Guru dapat membekali murid dengan kaidah 5W + 1H. Kaidah ini dapat digunakan untuk menguji setiap informasi yang diperoleh.

Pada tingkat tertentu, kemapuan menganalisa dan berpikir kritis tidak sekadar berkutat di wilayah literasi. Menggunakan fakta hasil pengamatan di lapangan sebagai salah satu penguji informasi. Dengan demikian kegiatan membaca akan berubah menjadi proses penelitian yang berhubungan dengan seluruh panca indera.

Keterampilan berpikir kritis dan analisa tajam dari pendidikan media massa tak hanya menyelamatkan masyarakat dari berita beracun. Namun, juga dapat membuat masyarakat lebih kritis menilai berbagai produk media massa. Salah satunya iklan.

Sikap kritis terhadap iklan dapat menghindarkan kita dari sikap hedonis, pemborosan, dan mengarahkan kita ke dalam kehidupan yang produktif.

Pada gilirannya, Pendidikan Media Massa membuat bangsa Indonesia tak lagi menjadi obyek. Namun sebaliknya menjadi subyek atau pelaku.

Tak mudah lagi diperdaya media massa. Bangkit menjadi masyarakat tangguh penguasa informasi (orangtuaidaman.com).

LITERASI PENDIDIKAN MEDIA MASSA

LITERASI digiEDU

error: Content is protected !!