ANANDA TERGOLONG ANAK SULIT? INI SOLUSINYA

ORANGTUA IDAMAN – Ketika guru memberikan tugas, akan terlihat beberapa orang siswa bergegas menyelesaikan tugas itu, sementara beberapa orang siswa malah sibuk membuat keributan.

Karakter seperti itu sesungguhnya terlihat sejak anak masih duduk di PAUD. Saat anak diminta beristirahat kemudian menikmati bekal masing-masing, beberapa anak terlihat tertib saat menikati santapan. Sementara diantara mereka terlihat selalu sibuk, cenderung membuat kegaduhan.

Sikap seperti ini ketika tidak perlahan dan bertahap diarahkan akan mengakibatkan anak terbiasa dengan perilaku sesuka hati, sulit diatur.

Isyarat lain yang umumnya menandakan anak berpotensi menjadi pribadi sulit yaitu kerap berperilaku membuat keributan. Misalnya berebut saat melaksanakan tugas dan rutinitas harian. Misalnya suka ribut ketika berpakaian, saat makan bersama, mandi, dan bersiap-siap tidur.

Anak berbakat menjadi individu sulit sering onar saat diajak dalam pertemuan sosial. Hal itu membuat orangtua selalu khawatir setiap kali bermaksud mengajaknya bebergian. Terkadang orangtua malah lebih senang meninggalkan anak sulitnya itu di rumah.

Meskipun faktor genetik berpengaruh, namun pola asuh lebih besar dampaknya terhadap pembentukan karakter sulit. Pola asuh keras kerap justru mencetak anak sulit. Dengan demikian, untuk mengatasinya diperlukan pemeriksaan riwayat pengasuhan.

Berikut adalah 5 indikasi anak berpotensi menjadi individu sulit.

1. Pembangkangan
Kerap menantang dan menolak mengikuti anjuran dan nasihat sederhana yang baik. Misalnya: menunggu sejenak saat orangtua sedang sibuk, bersiap-siap tidur, dan berisap-siap pergi ke sekolah.

2. Rewel
Acap kali rewel, membuang makanan saat meminta menu tertentu, dan mengamuk ketika merasa lapar. Kerewelan juga selalu terjadi saat akan mandi dan hendak berpakaian.

3. Menyakiti Orang Lain
Sifat ini disandang oleh anak laki-laki sulit. Berperingai kasar, tidak dapat bermain secara baik dan akur dengan kawan.

Menggigit, menendang, dan mencubit saat kesal hatinya. Perbuatan ini kerap dilakukan ketika keinginanya tidak terpenuhi.

4. Amarah yang Meluap
Kemarahan dipicu ketika anak tidak terpenuhi keinginannya. Pelampiasan kemarahan dengan menantang, melempar barang, atau mencoba menyakiti orang.

5. Tantrum
Tantrum menjadi ciri utama yang melekat pada diri anak sulit.

Anak juga sering berbuat ulah sebagai upaya terakhir  mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak pernah menggubris nasihat, tak peduli apa pun yang terjadi.

10 SOLUSI TERAPI ANAK SULIT
Bunda, berikut ini adalah sepuluh langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi sikap sulit Ananda.

1. Tegas dan Konsisten
Disarankan agar orangtua tidak kendor dan lembek hati ketika menanggapi setiap perilaku buruk anak. Tegakkan jika salah ya tetap salah, dan yang benar tetap benar. Tak ada kompromi.

Terutama ketika anak melakukan perilaku yang membahayakan orang lain, sikap menjengkelkan, dan tidak beradap.

Tetaplah bersikap konsekwen. Orangtua adalah hukum, maka selayaknya orangtua senantiasa memberi teladan. Dengan demikian orangtua dapat menegakkan kebenaran itu secara konsisten dan konsekwen.

Pertahankan kedisiplinan secara konsisten. Lemahnya konsistensi, kerap mengubah kebijakan, kendor karena rengekan anak justru membuat anak mengalami kebingungan. Pada akhirnya ia melakukan pemberontakan.

2. Hafalkan Perangai Ananda
Jika Ananda punya kebiasaan melempar barang–barang dari lemari saat marah, kuncilah saat ia menunjukkan gejala marah.

Berusaha selalu menguasai suasana. Prediksi kondisi apa saja yang dapat membuat Ananda bad mood lalu marah.

Saat mengajak Ananda bepergian, pastikan ia dalam suasana hati senang. Jangan lupa membawa mainan dan camilan favoritnya. Cara seperti itu dapat mencegah Ananda terjebak dalam suasanan membosankan.

3. Pertahankan Kontrol
Bunda, jangan pernah menyerah atau lelah dengan sikap buruk atau amukan Ananda.

Menyerah hanya akan menunjukkan kelemahan Bunda, sehingga Ananda akan menggunakan amukannya lagi sebagai senjata memanupilasi Bunda kembali.

Sebaliknya, Bunda dapat memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menguasainsituasi, memegang kendali.

4. Tetap Tenang
Kondisi hati yang tenang membuat Bunda semakin baik mengatasi situasi. Saat Bunda berbicara, upayakan agar nada bicara harus tetap tenang, mantap, dan netral saat memberi nasihat agar Ananda menghentikan perilaku buruknya.

Ketika memberi anjuran kepada anak untuk melakukan sesuatu, misalnya mencuci tangan sebelum makan, segera ganti pakaian usai bersekolah kemudian mencuci kaki dan tangan, gunakanlah nada sugestif. Hindari nada bicara memerintah.

Jadi, alih-alih mengatakan “Cepat cuci tangan dan kakimu”, sarankan “mengapa kamuntudak mencuci tangan dan kakimu?”.

5. Mendengarkan Itu Lebih Baik
Salah satu kebutuhan pokok anak yang kerap dilupakan orangtua yaitu perhatian. Didengar adalah salah satu bentuk perhatian.

Jadi, setiap kali mereka mengungkapkan kegembiraan atau kesedihan, dengarkan dan balas, sehingga mereka merasa diperhatikan.

6. Berempatilah
Ananda belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami badai emosi yang menyelimuti pikirannya. Sebaliknya, Anda punya kemampuan itu.

Kapan pun pada saat yang memungkinkan, redamlah perasaan mereka. Bimbing agar mereka memiliki kesadaran dan cakap mengendalikan emosi dan perasaannya.

Misalnya disaat Ananda lelah dan bermalas-malas untuk mandi, katakan lah “Bunda tahu Ananda lelah untuk mandi”. Atau di saat keinginan Ananda belum dapat terpenuhi, katakan lah “Bunda tahu, Ananda kecewa karena belum dapat memperoleh kue itu sekarang”,

7. Jelaskan Lebih Lanjut
Jelaskan kepada Ananda bahwa merebut mainan anak lain itu buruk karena mereka tidak akan menyukainya.

Hal yang sama juga berlaku untuk perbuatan memukul atau menggigit. Dengan demikian Ananda dapat lebih memahami akibat perilakunya terhadap orang lain.

8. Tawarkan Pilihan
Anak sulit hampir bisa dipastikan selalu menolak permintaan orangtua dan memberontak.

Pada saat ia harus membereskan mainan dan merapikannya ke tempat semula, anak ini sering memberontak.

Untuk mengatasi hal seterti itu, tawarkanlah pilihan kepada Ananda. Ajaklah ia berbagi tugas merapikan mainan. Minta Ananda memilih tugas. Sementara Bunda melakukan tugas yang lain.

Lakukan proses ini secara bertahap, pelan-pelan hingga pada akhirnya Ananda dapat membereskan mainannya secara mandiri.

9. Berikan Hadiah
Hadiah diberikan sebagai motibasi agar Ananda dapat berperilaku baik pada saat yang dibutuhkan.

Hadiah bisa diberikan sebagai bentuk kotivasi agar Ananda dapat melakukan tugas-tugas sederhana.

10. Pilih Konsekuensi yang Sesuai
Konsekwensi sama penting seperti hadiah. Komunikasikan secara baik-baik kepada Ananda stiap kemungkinan konsekwensi yang dapat muncul akibat perilaku buruknya.

Dan saat Ananda melakukan perbuatan buruk, kemudian harus menanggung konsekwensi, biarkan lah proses itu terjadi. Sementara Bunda tetap memberinya nasihat dan mengingatkan tentang konsekwensi itu.

Mendisiplinkan anak yang sulit adalah keterampilan yang tidak banyak dimiliki orangtua pada umumnya.

Keterampilan itu hanya diperoleh ketika orangtua punya kepedulian dan komitmen terhadap anak.

Kuncinya adalah kesabaran, keterampilan dan kesetiaan dalam mencermati, serta menerapkan metode cerdas mengelolanya (orangtuaidaman.com).



SOLUSI KENAKALAN


PSIKIS

error: Content is protected !!