KOPI JAWA: DIGORENG DALAM SEJARAH PERBUDAKAN

ORANGTUA IDAMAN – Di balik meriah warung kopi kelas kaki lima dan hinggar bingar caffe, kopi nusantara pernah melewati sejarah kelabu.

Tulisan ini disarikan dari Buku History of Java oleh Thomas Stamford Raffles.

Banyak orang tahu, aroma semerbakJava Coffe itu menyeruak sampai seluruh pelosok dunia. Melegenda, menembus batas waktu. Kopi Jawa adalah salah satu kopi nikmat di dunia.

Kopi di Lereng Gunung Muria, Jawa Tengah.

Dulu, Java Coffee alias kopi jawa nikmatnya tak kalah dengan kopi Bourbon. Selain itu, kopi Jawa juga lebih unggul daripada kopi India Barat.

Kopi Bourbon adalah kultivar dari species Coffea arabica. Berasal dari Yaman. Kopi ini pertama kali diproduksi di Réunion, yang sebelumnya dikenal sebagai Île Bourbon pada tahun 1789. Kopi ini kemudian dibawa orang Perancis ke Afrika daratan dan Amerika Latin.

Tak semua penikmat kopi mengetahui masa lalu Kopi Jawa yang kelabu itu. Kini, kopi lebih dikenal sebagai gebyar gaya hidup dan lambang gengsi.

Padahal,  dulu benih Kopi Jawa disemai dan tumbuh bersemi di atas semangat perbudakan.

Daendels Si Penindas
Pada tahun 1696 kopi Arabika masuk ke Indonesia melalui Batavia. Buah tangan Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen.

Bibit kopi itu lantas dibudidayaka  di bantaran sungan Ciliwung yang sekarang dikenal sebagai Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Di tanah air, kopi menjadi komoditas andalan bagi penjajah. Pada tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda di Amsterdam. Lantas pada tahun 1714 hasil penelitian tersebut dibudidayakan di Jardin des Plantes oleh Raja Louis XIV.

Pekerja perempuan pemetik kopi di perkebunan Jawa (Foto: KITVL)

Pemerintah kolonial tahu, negeri ini subur, punya banyak lokasi gunung berapi yang cocok sebagai lahan budidaya kopi.

Kopi tumbuh subur di daerah bertanah hitam yang banyak mengandung pasir. Iklim yang dikehendaki tak boleh terlalu banyak terpapar sinar matahari, juga tak terlalu sering diguyur hujan.

Lokasi idealnya yaitu di lembah kaki gunung, atau di lereng perbukitan rendah, dan di daerah dekat gunung berapi.

Semakin tinggi lokasi perkebunan, kian lama periode yang dibutuhkan untuk panen. Namun menghasilkan biji kopi yang lebih baik.

Dengan biji kopi, kehidupan anak negeri digilas dan ditindas. Melalui sistem tanam paksa, kesuburan rahim Ibu Pertiwi pun diperas.

Sebelum tahun 1808, perkebunan kopi hanya ada di distrik sunda. Sedangkan perkebunan kopi di wilayah Jawa bagian timur, jumlahnya hanya sepersepuluh dari jumlah perkebunan kopi yang ada.

Di bawah pemerintahan Marshal Daendels, tunas-tunas penidasan bercitarasa kopi bersemi di seluruh penjuru tanah Jawa. Semua perkebunan difokuskan menanam kopi tanpa kecuali.

Hal ini menjadikan hampir seluruh tanah Jawa dipenuhi kebun kopi.

Di distrik Sunda, setiap rumahtangga wajib menanam 1.000 pohon kopi. Sementara di Jawa Timur yang kondisi tanahnya kurang mendukung tumbuh-kembang tanaman kopi, setiap keluarga harus menanam 500 batang tanaman kopi. 

Tidak boleh ada penolakan terhadap perintah ini. Seluruh tugas menentukan lokasi lahan, menanam, menyiangi, merawat, dan memanen di bawah pengawasan dan kendali Belanda.

Wanita dan anak-anak bertugas memetik buah. Sedangkan kaum pria memikul tugas yang lebih berat.

Di setiap desa, di lokasi perkebunan kopi dibuka, terdapat rumah khusus tempat penyimpanan biji kopi yang sudah masak.

Tempat penyimpanan kopi ini berupa rumah panggung. Tingginya sekitar empat kaki dari tanah. Atap rumah ini bisanya dibuka pada saat pagi dan malam sebagai jalan masuk udara.

Proses penyortiran kopi di perkebunan kopi Karangpandan milik Kadipaten Mangkunegaran di tahun 1920. (Puromangkunegaran.com)

Terik sinar matahari pada saat siang dianggap dapat merusak kualitas kopi. Sehingga atap ditutup pada saat siang hari.

Proses pengeringan dilakukan dengan jalan menyulut api unggun ketika malam tiba. Biji-biji kopi di dalamnya sering dibolak-balik untuk mencegah pembusukan. Proses ini dilakukan sampai biji-biji kopi benar-benar kering.

Berikutnya, kopi kering itu dikuliti. Saat itu cara menguliti biji kopi yang paling banyak dterapkan yaitu dengan jalan memasukkan biji kopi ke dalam kantung kulit. Kemudian dipukul-pukul pelan-pelan supaya biji kopi tidak pecah.

Diangkut Ke Batavia
Biji kopi kering dibawa ke tempat penyimpanan. Diangkut kerbau, kuda, atau dipanggul di punggung manusia. Sekali angkut sebanyak 1500 – 2000 ikatan.

Di distrik Sunda, ada 3 depot penyimpanan kopi. Yaitu Buitenzorg atau Bogor,  Chikan, dan Karangsambang.

Dari Bogor, kopi-kopi itu diangkut menuju Batavia menggunakan kereta api. Cara angkut lain menggunakan linkong atau perahu melintasi sungai.

Dari Chikan, kopi diangkut dengan perahu melalui Sungai Citarum menuju laut Batavia. Sedangkan kopi-kopi dari Karangsambang dikirim melalui sungai Cimanok ke Indramayu.

Semua kopi itu ditampaung dalam gudang besar, lantas diekspor ke pasar Eropa dan dinikmati Penjajah.

Bersumber dari sistem tanam paksa, distrik Sunda setiap tahun memasok panen kopi 100 pikul. Tiap pikul berisi 33 1/4 pound. Begitu pula dengan hasil panen di Jawa bagian timur.

Sementara itu, bagi penduduk yang gagal panen, segala risiko kerugian dipikul sendiri.

Kelaparan Karena Kopi
Selain menindas dan memeras pribumi, tanam paksa juga bertujuan memenuhi ambisi pemerintah kolonial dan mengirim upeti kepada Komisaris di Eropa sebesar 25.000 pounds per tahun.

Pemerintah kolonial yang hanya memikirkan keuntungan semata kerap memaksa anak negeri bekerja keras, serta membangun kebijakan tak manusiawi.

Tanam paksa kerap membuat anak negeri tak punya waktu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri. Banyak petani  mati kelaparan dan melarikan diri ke gunung atau hutan lebat.

Di hutan mereka membuka lahan tegal, mencari makan, seraya bersembunyi untuk melepaskan diri dsri cengkeraman penjajah yang kejam.

Banyak di atara mereka turun temurun tinggal di hutan. Dalam pelariannya, merek bersembunyi dari bukit satu berpindak ke bukit lainnya.

Mereka lebih suka mencari tanah subur di pangkuan ibu pertiwi sembari menikmati kemerdekaan. Daripada kembali ke dalam jerat perbudakan (orangtuaidaman.com)

ARTIKEL SERUPA

ELANG JAWA DAN GARUDA PANCASILA

ELANG JAWA DAN GARUDA PANCASILA

Teguh Jiwa BrataAug 5, 20224 min read

ORANGTUA IDAMAN – Sejak dulu, garuda adalah satwa…

KULINER BURUNG PIPIT: BUDAYA, MITOS & NAFSU PRESTISIUS

KULINER BURUNG PIPIT: BUDAYA, MITOS & NAFSU PRESTISIUS

Teguh Jiwa BrataJul 13, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Tongseng, oseng-oseng, krengseng, dan satai…

MERIAM KARBIT: PERMAINAN, TRADISI & BUDAYA WARGA PONTIANAK

MERIAM KARBIT: PERMAINAN, TRADISI & BUDAYA WARGA PONTIANAK

Teguh Jiwa BrataJun 15, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Ketika mayoritas Umat Muslim merayakan…

Load More

LOST IN INDONESIA

KISAH TERCIPTANYA BATAGOR

KISAH TERCIPTANYA BATAGOR

Teguh Jiwa BrataAug 6, 20221 min read

ORANGTUA IDAMAN – Batagor ‘lahir’ di Bandung. Batagor adalah akronim dari bakso tahu goreng. Isan adalah penjual bakso keliling di…

ELANG JAWA DAN GARUDA PANCASILA

ELANG JAWA DAN GARUDA PANCASILA

Teguh Jiwa BrataAug 5, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Sejak dulu, garuda adalah satwa penuh makna bagi Bangsa Indonesia. Kelekatan garuda dalam sanubari anak negeri dibuktikan…

PANTAI AKARTINI BERSOLEK: KIAN MOLEK TAK MENJEMUKAN

PANTAI AKARTINI BERSOLEK: KIAN MOLEK TAK MENJEMUKAN

Teguh Jiwa BrataAug 4, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Pantai Kartini kian rupawan. Tak lagi tampil ala kadarnya bermodal kedai-kedai seafood, mi gelas dan Kura-kura Ocean…

BUKAN KLEIN SCHEVENINGEN KECIL: TIRTA SAMUDERA TETAP KHAS TANPA DIBANDINGKAN

BUKAN KLEIN SCHEVENINGEN KECIL: TIRTA SAMUDERA TETAP KHAS TANPA DIBANDINGKAN

Teguh Jiwa BrataAug 3, 2022

ORANGTUA IDAMAN – R. A. Kartini pernah berkata, Pantai Tirta Samudera adalah Pantai Klein Scheveningen Kecil. Konon, pantai ini adalah…

KOPI JAWA: DIGORENG DALAM SEJARAH PERBUDAKAN

KOPI JAWA: DIGORENG DALAM SEJARAH PERBUDAKAN

Teguh Jiwa BrataJul 29, 2022

ORANGTUA IDAMAN – Di balik meriah warung kopi kelas kaki lima dan hinggar bingar caffe, kopi nusantara pernah melewati sejarah…

error: Content is protected !!