SEGUDANG RISIKO DI BALIK ANAK BERPERUT GENDUT

ORANGTUA IDAMAN – Anak gendut itu lucu dan menggemaskan. Namun, ketahuilah hal itu ternyata dapat merenggut kesehatan anak.

Sama seperti orang dewasa, anak berkelebihan bobot (obesitas) riskan mengidap diabetes, tekanan darah melejit, dan kolesterol tinggi.

Faktor psikologis pun dapat ikut terdampak. Kondisi badan gembrot membuat harga diri anak dipertaruhkan. Rawan dibidik menjadi sasaran empuk sasaran bulying.

Salah satu cara terbaik mengontrol bobot badan anak yaitu mengatur pola makan dan rutin berolaharaga. Disarankan dilakukan seluruh anggota keluarga.

Apa ukuran obesitas itu?
Perlu diketahui, tidak semua anak berbobot badan lebih berat dibandingkan anak seusianya itu mengalami obesitas. Beberapa anak berpostur dan berkerangka lebih besar dari kawan sebayanya, sehingga bobot badannya lebih besar dari kawan-kawannya.

Untuk memastikan anak Anda mengalami obesitas atau tidak, dapat ditakar menggunakan indeks massa tubuh (BMI).

BMI merupakan rasio berat dengan tinggi badan. Digunakan untuk  menentukan bobot badan ideal.

Rumus BMI adalah sebagai berikut: BMI =  Berat Badan (kg) / Tinggi Badan2 (m). Setelah dihitung, lalu bandingkan dengan kategori berat badan.

• Di bawah 18,5 = Berat badan kurang

• 18,5 – 22,9 = Berat badan normal

• 23 – 29,9 = Berat badan berlebih (kecenderungan obesitas)

• 30 ke atas = obesitas

Contohnya: seorang anak bertinggi badan 1,28m, bobot badannya 31 kg. Apakah anak tersebut mengalami obesitas?

Yuk kita takar bersama! Langkah pertamanya yaitu menghitung BMI. BMI= 31/1,282. Anak tersebut punya BMI= 18,92.

Berikutnya, dibandingkan dengan kategori berat badan 18,5 – 22,9. Hasilnya, anak itu ternyata punya bobot badan normal atau ideal.

Untuk memastikan kondisi anak, dibutuhkan parameter lebih kompleks. Dokter anak biasanya menggunakan grafik pertumbuhan, BMI, dan tes lain  untuk mengetahui apakah berat badan anak berpotensi merenggut kesehatan atau tidak.

Dipicu Gaya Hidup
Obesitas pada anak dipicu oleh gaya hidup. Terutama terlalu sedikit beraktivitas, terlampau banyak mengonsumsi kalori dari makanan dan minuman.

Makanan manis dan berlemak adalah kontributor utama obesitas anak. Disamping itu, faktor keturunan dan hormonal juga berperan.

Aneka makanan cepat saji, snack atau makanan kecil sebagai jajanan dapat membuat bobot badan membengkak.

Selain itu, makanan dan minuman manis, minuman ringan,  permen, dan cokelat juga berpeluang mencetak anak menjadi si Endut.

Wah…wah…wah… Padahal, banyak emak-emak demen melepas bebas hasrat anak jajan.

Kebiasaan sidentary atau malas bergerak juga menjadi pemicu lain. Anak tidak pernah berolahraga. Setiap waktu dihabiskan bermalas-malas di depan televisi dan bermain game. Bonusnya, yaitu hasutan iklan di televisi seputar makanan dan minuman anak.

Ini… nih… kebiasaan yang banyak dianut anak berorangtua sibuk, juga anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tak pernah saling berkomunikasi.

Like Son Like Father
Jika anak berasal dari keluarga yang berkelebihan bobot badan, anak itu kemungkinan besar juga akan berbadan gempal. Terutama jika hidangan berkalori tinggi selalu disajikan serta aktivitas fisik tidak membudaya dalam keluarga tersebut.

Pemicu yang lain yaitu kondisi psikologis. Tekanan atau stres keluarga dapat meningkatkan risiko obesitas anak. Beberapa anak makan berlebihan untuk mengatasi masalah atau emosi. Misalnya stres atau rasa jemu. Dengan demikian, kondisi anak secara tidak langsung dapat menjadi cermin kondisi lingkungan keluarga.

Nah, jadi sesungguhnya anak berbadan gemuk tidak dapat digunakan menjadi patokan kesejahteraan ekonomi. Beberapa anak kegemukan justru berasal dari keluarga berekonomi terbatas, berkebiasaan mengonsumsi makanan praktis yang tidak cepat rusak, makanan beku (saat ini banyak sosis dengan harga terjangkau), biskuit, dan kue kering.

Berbagai obat-obatan juga berisiko meningkatkan terjadinya obesitas. Misalnya: prednison, lithium, amitriptyline, paroxetine (Paxil), gabapenin (Neurotin, Gralise, Horizant) dan propanol (Inderal, Hemangeol).

Ancaman Komplikasi
Obesitas dapat menjadikan anak rawan menderita komplikasi. Tak hanya komplikasi fisik, namun juga komplikasi sosial dan emosional.

Komplikasi fisik yang mungkin terjadi yaitu diabetes tipe 2. Obesitas dan gaya hidup kurang gerak meningkitkan risiko diabetes tipe 2.

Kegemukan membuat anak rentan terjangkit asma. Tidur mendengkur, apnea tidur atau pernapasan yang berulangkali berhenti saat tidur.

Komplikasi lain yang dapat diidap anak obesitas yaitu penyakit hati berlemak. Gangguan ini umumnya tidak menimbulkan gejala. Dapat membuat kerusakan jaringan hati.

Tak hanya itu, kegemukan juga menjerumuskan anak kedalam ancaman kolesterol berlebihan dan tekanan darah tinggi.

Efek negatif lain yang dapat muncul yaitu nyeri sendi. Bobot badan yang besar menyebabkan beban yang harus disangga oleh pinggul dan lutut begitu berat. Anak endut berisiki menderita cedera pinggul, lutut, dan punggung.

Selain seabrek ancaman penyakit, anak kegemukan juga rawan diterpa ejekan, intimidasi, dan bulying oleh kawan sebaya. Jika hal ini terjadi, anak dapat terjejepit depresi dan kecemasan.

Begini Tips Pencegahannya
Beberapa tips berikut dapat Anda lakukan untuk mencegah anak mengalami kelebihan bobot badan.

Menciptakan gaya hidup sehat di dalam keluarga. Dengan demikian secara tidak langsung anak memperoleh teladan melakukan gaya hidup sehat.

Rutin menyajikan makanan sehat dan melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Menghindari kebiasaan menyajikan permen dan tradisi memberikan hadiah makanan kepada anak.

Pastikan anak cukup istirahat dan cukup tidur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terlalu sedikit tidur dapat meningkatkan risiko obesitas. Kurang tidur dapat menyebabkan gangguan keseimbangan hormon, sehingga nafsu makan meningkat.

Biasakan kontrol rutin ke dokter, setidaknya 1 tahun sekali. Mengukur bobot, tinggi badan dan menghitung BMI.

Juga, pastikan anak Anda menemui dokter untuk pemeriksaan kesehatan anak setidaknya setahun sekali.

Nah, sekarang sudah tahukan. Masih senang anak kegemukan? (orangtuaidaman.com)

KLINIK ANAK

error: Content is protected !!