VJ de FARM: SUKSES BREEDING PHEASANT
ORANGTUA IDAMAN – Ayam pheasant dianggapeksklusif dan eksotis. Harganya punterbilang tinggi diantara ayam hias lainnya.
Maklum, ayam yang memiliki bulu dengan warna memesona ini dianggap agak sulit dikembangbiakkan.Tidak heran jika sampai saat ini, di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, jumlah breeder ayam hias jenis ini masih bisa dihitung dengan jari. Satu diantara breederitu adalah Fajar Rohmad, pemilik VJ de Farm yang beralamat di Jl Kaliurang km 13, Besi, Sleman, Yogyakarta. Fajar menekuni breeding pheasant sejak 2009.
Saat ini dia dapat dibilang breeder pheasant paling produktif di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bahkan para penggemar ayam berbulu indah itu menyebut VJ de Farm sebagai sentranya pheasant.

Sebelum menggeluti pheasant, Fajar yang sejak kecil menyukai unggas itu, sempat menangkarkan beragam ayam hias, seperti kalkun, ayam poland, ayam itali, ayam cemani, dan burung phoenix. Khusus pheasant, saat ini di kandangnya ada 14 ekor indukan dan 32 ekor anakan. Terdiri dari empat varian, yakni golden red, lady amherst, ringneck, dan kirgiz. “Meski saat ini fokus utamanya ke pheasant, tapi saya juga masih punya ratusan ekor ayam hias lain. Itu untuk usaha sampingan,” ujarnya.
Breeding Tak Mudah?
Menurut Fajar, breeding pheasant bisa dikatakan sulit jika belum paham, tapi mudah bagi yang mau belajar. “Buktinya saya bisa. Mungkin karena asal muasal hewan itu dari dataran tinggi (Tibet) yang memiliki iklim atau cuaca berbeda dengan iklim kita. Sehingga memang agak sulit dikembangbiakkan. Namun sebenarnya jika mau mempelajari secara mendalam seluk beluk ayam ini, tidaklah sulit,” lanjutnya.
Fajar mengaku pernah mengalami kesulitan ketika awal breeding. Suatu ketika pernah mengeramkan 12 butir telur, namun hanya menetas dua ekor. Dua ekor anakan itu pun mati sebelum umur sebulan. Pengalaman itu mendorong semangatnya mempelajari seluk beluk ayam itu secara mendalam.
“Saya belajar dari berbagai sumber, mulai dari para breeder senior, internet, dan yang paling utama belajar langsung pada ayam itu sendiri. Sambil memelihara, saya perhatikan perangai, proses pertumbuhan, makanan kesukaan, sampai pada cara breedingnya. Tak sampai setahun, saya bisa mengembangbiakkan dengan sedikit persentase kegagalan,” lanjutnya.
Dengan jumlah indukan itu, rata-rata dalam sebulan mampu menetaskan 30 ekor anakan. Saking larisnya, begitu menetas sudah ada calon pemiliknya. Ratusan ekor anakan hasil breedingnya telah tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Teknik breeding diawali dari pemeliharaan indukan. Fajar menempatkan indukan di kandang yang dikreasi mirip habitat asli. Dalam kandang dilengkapi tanaman, batang kayu kering serta bebatuan. Batang kayu dipilih yang mendekati lapuk. Dengan situasi kandang seperti itu, piaraan merasa nyaman.
“Secara alami pheasant suka mematuk-matuk batang kayu lapuk. Tujuannya mencari serangga pemakan kayu seperti rayap, ngengat dan lain-lain. Selain itu, mereka juga senang mengorek-ngorek bebatuan, terutama menjelang kawin,” jelasnya.
Fajar juga memberi nutrisi sesuai perkembangan usia. Jika piaraan itu mulai masuk usia kawin, dia pacu dengan pemberian pakan berprotein tinggi. Salah satu menu favoritnya adalah jangkrik. Jangkrik bagus untuk memacu semangat kawin. Selain itu juga ditambahkan menu khusus hasil ramuan dari bahan rempah.
Untuk memacu proses perkawinan dan bertelur, ada perlakuan ‘peliaran’, membebaskan pasangan dari gangguan. Termasuk tidak memegang dan memasuki kandang, kecuali saat memberi makanan dan minuman. “Di habitat aslinya, di kawasan Tibet sana, ayam jenis itu hanya bertelur setahun sekali pada musim hujan. Biasanya bulan Desember. Dengan teknik perlakuan seperti itu, saya bisa mempercepat hingga setahun dua kali,” lanjut pria yang kreatif membuat sendiri mesin tetas kapasitas 200 telur, lengkap dengan pengatur suhu dan pengatur posisi telur otomatis.
Sederhana dan Irit
Merawat dan memelihara pheasant, menurut Fajar, lebih sederhana dan irit daripada ayam hias lain. Dalam sebulan rata-rata menghabiskan biaya tak lebih dari Rp 1,5 juta untuk keseluruhan piaraannya, termasuk ayam hias selain pheasant.
“Saya memberi makanan yang bebas dari bahan kimia. Bahannya juga yang mudah didapat di sekitar kita, seperti jagung, bekatul maupun buah-buahan seperti pisang, pepaya, dll. Minumannya juga air biasa, tidak perlu dimasak,” paparnya.
Hampir setiap hari VJ de Farm kedatangan tamu. Ada yang ingin mengadopsi anakan, ada pula yang ingin belajar cara breeding unggas. “Kalau mau melihat breeder sejati ayam pheasant di Jogja, ya di VJ de Farm. Saya hampir setiap bulan kesini, ambil anakan darinya,” ungkap Aksan, hobiis ayam hias di Bojonglegok, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, yang hari itu bertemu Flona di lokasi VJ de Farm.
Fajar mengaku bangga bisa breeding ayam hias eksotis itu. Ia tak menyangka, hobi yang ditekuni akhirnya bisa menjadi usaha yang menguntungkan secara finansial (orangtuaidaman.com)
Teknik Breeding
Diawali dengan penjodohan. Pilih pheasant berusia dewasa. Rasio jantan dengan betina, 1 : 3. Indukan yang sudah berjodoh kemudian ditempatkan di kandang perjodohan yang di dalamnya dilengkapi makanan dan minuman secukupnya. Pada masa perkawinan, suasana kandang dibuat tenang, dijauhkan dari gangguan hewan lain. Setelah betina bertelur, pindahkan telur ke mesin penetas bersuhu 30 – 31 derajat Celsius. Satu betina mampu bertelur 10 -15 butir. Tenggat bertelur dua hari sekali.
Telur akan menetas dalam tempo sekitar 23 hari. Setelah menetas, anakan dipindah ke mesin penghangat selama sekitar duabelas jam. Tujuannya, untuk menstabilkan suhu tubuh dan menghindarkan dari serangan predator. Setelah itu anakan ditempatkan dalam breeder box selama 1 sampai 1,5 bulan. Pada usia ini, pemberian pakan yang mengandung protein diutamakan. Setelah itu, anakan siap ditempatkan di kandang umum.





