COFFEE COMBI: NONGKRONG DI MOBIL, MENIKMATI KOPI 

ORANGTUA IDAMAN – Inilah salah satu bentuk kreasi dan inovasi baru usaha kafe kopi. Dengan konsep menyuguhkan kopi di area terbuka, usaha ini membidik kawula muda dan komunitas mobil tua sebagai pasarnya. Praktis, bisa berpindah tempat mengikuti keberadaan para pelanggannya.

“Usaha ini saya mulai November tahun 2010.  Dalam benak saya terbesit, banyak orang minum kopi di mall dengan harga mahal. Kenapa tidak, minum kopi di luar ruangan dengan harga terjangkau,” kata Rahadika Widya Nugraha,  pemilik Coffee Combi di Bandung.  Bagi Dika, panggilan akrabnya,  minum kopi tidak harus mahal sebab bahan bakunya berlimpah.  “Kafe berjalan” ini memberikan sensasi minum kopi dimana saja.  Di pinggir jalan, di kampus maupun di kawasan taman kota.

Ide usaha ini tercetus karena  Dika  bersama kakaknya menemui kendala tempat ketika akan membuka usaha.  Saat itu harga sewa tempat cukup mahal, sehingga bisa mengurangi margin usaha.  Kedua pengusaha muda ini lalu mencari solusi di dunia maya.  “Saya cari kesana-kemari.  Akhirnya  menemukan model usaha jualan kopi dengan mobil yang sudah diterapkan di Thailand,” kata Dika.  Akhirnya ia memutuskan mengadopsi model usaha tersebut dengan memodifikasi mobil VW. 

Yang Pertama di Bandung
Usaha ini mengusung tagline First  mobile coffee shop in Bandung.  Selain menjadi sebuah keunggulan, model bisnis seperti ini juga memiliki nilai strategis  lain. “Mobil saya desain dengan brand.  Jadi ketika mobil tersebut beroperasi, secara tidak langsung saya telah melakukan branding,”papar  Dika.  Mengapa memilih  mobil VW ? Karena selain mobil ini memiliki kapasitas besar, di Bandung populasi komunitas penggemar VW banyak.  Dengan cara seperti ini Dika  menarik simpati mereka, sekaligus  merupakan bentuk  pemasaran yang unik.     

Selain menjadi sebuah keunggulan, model bisnis seperti ini juga memiliki nilai strategis  lain. “Mobil saya desain dengan brand.  Jadi ketika mobil tersebut beroperasi, secara tidak langsung saya telah melakukan branding,”papar  Dika. 

Meski  bisa dibilang warung jalanan, kualitas kopi yang disungguhkan tak kalah dengan kopi di kafe dan mall mewah. “Kami menggunakan kopi Arabika Aceh. Biji kopi kami datangkan langsung dari pemasok di daerah asalnya,” papar Dika. Selain menyediakan kopi,  Coffee Combi juga menjual varian  ice  blend  misalnya green tea matcha frappe dan oreo ekspress.  Kedua minuman tersebut menjadi hidangan favorit Coffee Combi.  Harga kopi yang disediakan berkisar antara Rp 5000 – Rp 15.000/cup.   Selain minuman Dika juga menjual makanan ringan. Diantaranya yaitu berbagai sajian berbahan cokelat.

Membidik kawula muda
“Siapa saja bisa menikmati kopi di Coffee Combi. Itu alasan kami memberikan harga terjangkau,” tandas Dika. Walau demikian,  tak dipungkiri  kalangan muda-mudi itu merupakan target pasar yang potensial.  “Muda-mudi senang berkomunitas, juga familiar dengan social media. Hal-hal itulah yang menjadi pintu untuk menawarkan produk kami,” tuturnya.

Aantaran konsep usahanya  tergolong unik,  proses pemasaran  produk ini kepada masyarakat  bukan hal yang gampang.  Depan pintu 3 kampus ITB Jalan Ganeca, kawasan Juanda,  dipilih jadi tempat mangkal pertama. Kafe ini buka setiap hari dari pagi hingga pukul 19.00, kecuali Minggu hanya dibatasi sampai pukul 15.00. “Karena  banyak mahasiswa, saya pikir memulai pemasaran di sana lebih tepat,” tuturnya.  Di lokasi tersebut, Coffee Combi mulai dikenal.  Efek pemasaran dari mulut-ke mulut akhirnya berlangsung.  Kedai kopi itu lambat laun ramai dikunjungi mahasiswa. 

Cita-cita yang ingin dicapai,  ingin meluaskan usahanya dengan cara kemitraan.  Namun demikian, untuk mencapai cita-citanya tersebut, Dika harus mempersiapkan secara matang.  “Sistem harus sudah terbentuk. Sampai sat ini kami terus memperkuat dan berbenah dalam soal manajemen,” kata Dika. 


TIPS

Kunci Sukses  Coffe Combi
1. Diferensiasi produk.
Kedai atau atau bar dalam bentuk mobil memberikan diferensiasi yang khas dan unik.

2. Mengendarai komunitas.
Memanfaatkan komunitas off line maupun online,  penggemar mobil combi,  sebagai kendaraan pemasaran. 

3. Branding agresif
Berbekal kendaraannya  dapat melakukan branding secara rutin, murah dan efektif.

4. Harga bersaing mutu kompetitif
Menunya  tidak kalah dengan pesaing namun harganya  lebih murah.


INFO

Setahun Menyulap Mobil

Butuh waktu setahun untuk memodifikasi VW Combi tahun 1873 ini menjadi Kafe Berjalan.    Biaya yang dibutuhkan berkisar  Rp  11 juta.  Seluruh kursi yang berada di dalam mobil dibongkar, kecuali kursi di kabin depan tetap dipertahankan.  Kabin belakang lalu disulap menjadi sebuah mini bar yang dilengkapi dengan rak gelas.  Daun jendela direkayasa agar  bisa dibuka-tutup.  Ketika dibuka, penutup jendela bisa difungsikan sebagai meja bagi konsumen. Soal modal, Dika mengaku menghabiskan dana sekitar Rp 50 juta. Kafe mobil ini dilengkapi dengan mesin espresso tipe BTC (bean to cup).  Untuk mengaktifkan mesin espresso dan menghidupkan sarana penerangan,  VW combi ini silengkapi dengan genset.



SIMAK JUGA ANEKA KULINER INI!


BISNIS RUMAHAN


error: Content is protected !!